Festival dan Branding Kota

Seorang teman mengolok-olok saya ketika tahu ‘keterlibatan’ saya pada SIEM 2010. Apalagi, keterlibatan itu cukup strategis, sebab bentuknya siaran langsung melalui saluran internet (live streaming) selama lima hari festival berlangsung. Sang teman tak salah, meski tak lantas bisa dikatakan benar sepenuhnya.

Pada SIEM pertama pada 2007, saya merasa (sok) tahu betul akan seperti apa jadinya festival itu dengan menyimak sebagian orang yang terlibat, termasuk sistem kuratorialnya. Dan terbukti, prediksi saya tak jauh meleset. Pada festival kedua (2008), saya mulai melihat adanya koreksi dari penyelenggaraan pertama, sehingga hasilnya lebih baik meski secara venue, kurang greng.

Pada SIEM ketiga, 7-11 Juli lalu, pengorganisasiannya terasa jauh berbeda dibanding sebelum-sebelumnya. Lebih tertata, rapi dan venue-nya membuat nyaman semua orang: ya penampil, ya penonton. Bahwa kekurangan masih ada, itu hal biasa. Lumrah-lumrah saja.

Lolosnya Sonofa dari kurasi yang diawaki duet etnomusikolog Rahayu Supanggah dan Dwiki Dharmawan, misalnya, cukup mengagetkan. Tapi ya sudah, toh secara pemanggungan cukup atraktif, karenanya penampilan mereka juga memperoleh apresiasi memadai dari penonton. Soal warna musik techno jauh dari kesan etnik, biarlah itu menjadi urusan para kurator.

Penampilan Bandanaira yang dimotori duet Lea Simandjuntak (vokal) dan Irsa Destiwi (keyboardist), pun memperoleh applaus penonton, meski sama sekali tak terasa etniknya.

Bisa jadi, masuknya Sonofa atau Bandanaira pada Festival Musik Etnik yang kini disisipi kata contemporary, sebagai bagian dari strategi menggaet penonton. Orang mafhum, sebuah festival berlabel ethnic music cenderung diasosiasikan sebagai irama yang ‘asing’ dan ‘tak enak didengar’ (apalagi berhari-hari), sehingga berpotensi menjemukan.

Anehnya, penonton begitu cair. Semua irama dan warna diembat tanpa peduli lagi dengan istilah kontemporer atau bukan dan etnik atau tidak etinik. Jenis instrumen sebagai sumber bunyi tak disoal, apalagi jauh-jauh mikir aliran. Maka, alunan jazz (seperti ditunjukkan Dwiki Dharmawan dan Krakatau-nya), Kroncong Tenggara dengan Dian HP dan Ubiet pun dilahap semuanya.

Ibarat orang makan, penonton mengunyah semua makanan: entah calungnya Darno, gamelan Pak Subono, hingga tetabuhan perkusi ala Dol dari Bengkulu.

Dalam bahasa ekonomi, pasar musik di Solo tak pilih-pilih. Nyatanya, penonton tak pernah meninggalkan ribuan kursi yang disediakan panitia sebelum pertunjukan diumumkan berakhir. Tentu, mereka bukan asal menikmati keramaian, apalagi nyucukaké gratisan.

Bahwa penonton yang nrima tak bisa dijadikan alasan melonggarkan kriteria kuratorial, saya akan mengatakan YA. Tapi pada sebuah proses, apalagi dari festival satu ke festival yang lain sudah menampakkan perubahan, juga harus diapresiasi sepadan. Apalagi, menyiapkan festival tak melulu pada urusan penampil, namun juga soal pembiayaan yang tak ringan.

Lalu, di mana posisi saya?

Saya bukan pengikut model FPI yang hanya bisa bilang ‘kalau tidak ini, tidak!’. Bukan. ‘Keterlibatan’ saya dalam SIEM 2010 adalah bersama-sama teman Blogger Bengawan, sebuah kumpulan cair dengan beragam latar belakang, namun memiliki misi turut menyebarluaskan kebaikan dan berbagi pengalaman.

Kebetulan, Pemerintah Kota Surakarta bekerjasama dengan PT XL Axiata Tbk., sebuah provider internet berkedudukan di Jakarta, mendukung event dua tahunan tersebut, dan menggandeng kami, para blogger, untuk terlibat di dalamnya.

Berpedoman pada misi komunitas, maka kami mewujudkan apresiasi atas langkah-langkah baik Pemerintah Kota Surakarta, di mana menggelar festival dalam rangka branding kota, agar Solo (tepatnya Sala, atau Surakarta) menjadi kawasan yang nyaman untuk pelesiran, menggelar aneka pertemuan dan bisnis serta pameran-pameran (MICE), seperti halnya Jakarta, Bandung, Yogyakarta atau Bali.

Kami yakin, kemajuan kota akan sia-sia belaka manakala rakyatnya tak sejahtera. Nah, event seperti SIEM dan peristiwa budaya lainnya yang lantas mendukung Solo sebagai kota pertemuan penting, seperti ditunjukkan lewat konferensi dunia untuk kota-kota bersejarah (World Heritage Cities) atau Konferensi Menteri-menteri Perumahan dan Perkotaan (APMCHUD).

Tak cuma itu, ketika Kementrian Luar Negeri menggandeng Komunitas Blogger Bengawan untuk menggelar seminar tentang capaian-capaian kerjasama di tingkat ASEAN, pun muncul komitmen-komitmen menarik. Saat Indonesia memimpin Sekretariat ASEAN pada 2011-2013 mendatang, misalnya, dijanjikan bakal ada pertemuan-pertemuan regional di Solo. Juga, bakal ada potensi kesempatan bagi produsen kerajinan, industri manufaktur dan pelaku seni-budaya, untuk melakukan lawatan ‘diplomatis’ ke mancanegara.

Semua event, pasti bakal mendatangkan potensi lain. Multiplier effects sebuah peristiwa atau capaian juga kian terbuka. Dari sanalah, pintu pemerataan kesejahteraan akan terbuka. Ya pedagang makanan, tukang pijat, sopir taksi hingga pelaku usaha, entah produsen batik, pedagangnya, juga para buruh-buruhnya. Itu saja nalar sederhananya.

5 thoughts on “Festival dan Branding Kota

  1. andry

    Mungkin tulisan yang anda sampaiakan di atas merupakan sudut pandang dari salah seorang panitia/ penonton/ bahkan musisi yang memeriahkan acara tersebut. Bagaimana dengan perlakuan terhadap temen-temen wartawan yang berusaha meliput, namun tidak mendapatkan ruang yang cukup, terutama bagi pewarta foto dan TV. Ketidaknyamanan dalam pengambilan gambar tentu menjadi masalah, padahal mereka hanya ingin menampilkan gambar yang menarik dari sebuah perhelatan International tersebut.
    Tidak perlu mengambil contoh yang terlalu jauh, kita liat saja event SIPA yang masih hangat meninggalkan publik Solo beberapa hari yang lalu.
    Panitia sangat faham arti sebuah peliputan media, dengan memberikan sedikit ruang dan diskusi kecil, kejadian yang dilami temen-teman media pada acara SIEM 2010 tidak bakal terulang.
    media diberikan ruang untuk mengapresiasi pertunjukkan dengan nyaman, para pemotret bisa dengan tenang mengabadikan atraksi panggung, tanpa ada rasa risih terhadao teguran panitia, karena masing-masing baik petugas maupun wartawan tulis/ foto dan video serta penggemar fotografi menjalankan aktifitasnya sesuai aturan yang ditetapkan bersama jauh sebelum acara diselenggarakan. Tidak pada waktu perhelatan sudah berlangsung, mengad-ada itu namanya.
    Venue yang membuat nyaman penonton, musisi yang tampil namun sangat tidak mengenakkan bagi para wartawan yang ingin mengambil gambar. Padahal dalam pembuatan sebuah panggung pertunjukkan sebuah event berskala international, segala aspek sudut pandang penonton dan pendokumentasian wajib diperhitungkan dan itu sudah menjadi aturan umum, namun kenapa pada SIEM ketiga ini justru lebih terbelakang dibanding padan SIEM sebelumnya.
    Masyarakat yang tidak memiliki kesempatan datang ke tempat pertunjukkan karena suatu hal, tentu sangat berharap dapat menyaksikan keindahan perhelatan bertaraf international seperti SIEM yang di gelar di Stadion R Maladi beberapa waktu yang lalu melalui siaran pers baik cetak maupun elektronik pada esok harinya
    Namun mereka kecewa karena tidak mendapatkan suguhan terutama visual yang atraktif sesuai yang diceritakan oleh teman yang sempat menonton secara langsung meskipun hanya pada hari pertama saja. Hanya karena si wartawan tidak bisa meliput dengan baik lantaran memang tidak ada ruang yang bagi mereka.
    Mungkin ini sekelumit tanggapan dari saya, yang merasakan secara langsung mengalami betapa repotnya dan sulitnya meliput acara SIEM bebera waktu yang lalu. Semoga bisa menjadi koreksi bagi kita semua. terimakasih.

    duh, mas andry muntah-muntah… kalau panitia bikin sebel, ya ditinggal pergi saja, tak usah diliput. beres… tapi satu hak yang menyebalkan juga, ada kecenderungan wartawan maunya difasilitasi. malah, ada yang merasa (karena) dibutuhkan, lalu ngadi-adi, jual mahal, minta dilayani.

    wartawan demikian, tak suka tantangan. dan, bagi wartawan betulan, ia akan bangga ketika bisa menerima tantangan dan berhasil mengatasinya.

    namun, dalam beberapa hal, penyelenggaraan SIEM kemarin sejatinya lebih tertata secara pengorganisasian, meski secara isi/penampil, sangat kurang. sebagai sebuah peristiwa untuk mendatangkan keramaian, bolehlah….. soal kwalitas, masih banyak yang harus dibenahi.

    /blt/

  2. tiga paragraf terakhir kok sepertinya (maaf) kurang begitu gurih ya.. emm.. kaya terkena pembatasan ‘durasi’ dalam penulisannya..
    ngapunten lho, ini perspektif bodoh pribadi saya sepenuhnya :mrgreen:
    *menjura*
    .-= sayur asem´s last blog ..Langit =-.

    ndak apa-apa… bisa jadi memang tak terasa pingin cepet-cepet menghentikan agar tulisan tak molor-molor… suwun, kang….
    /blt/

  3. bengawan ngeri toks! :)) … memang kelihatannya penikmat musik Indonesia belum bisa menikmati sepenuhnya musik-musik etnik atau karena edukasi mengenai musik ini masih kurang ya pekde.

    terus terang sebegai penikmat musik saya juga belum bisa menikmati musik etnik. di pagelaran Urban Jazz kmrn ada bagian yang menampilkan musik etnik dan kita sebagai penonton msh terheran-heran (ataupun terhenyak) karenanya. dan sayang sekali media televisi kita lebih menghargai tradisi pop (yg lbh menguntungkan)drpd mengedukasi penontonnya dgn musik musik etnik.

    agama televisi kan gak ada. ateis, tak ada relijiusitas… yang ada cuma dagang, bumbunya bernama kosmetik
    /blt/

Leave a Reply