Disability dan Difability

Dipilihnya Abdurrahman Wahid menjadi presiden menjadi berkah bagi banyak orang. Handicap Gus Dur yang tak bisa melihat dan istrinya, Bu Sinta Nuriyah yang harus menggunakan kursi roda, lantas mengingatkan perlunya aksesibilitas di tempat-tempat umum.

Ketika Gus Dur menyatakan perlunya dibangun kemudahan bagi orang berkemampuan beda (dengan orang-orang normal) itu, media ramai memberitakan fasilitas itu. Termasuk stasiun-stasiun, bandar udara hingga kantor-kantor yang membuat ram, yakni jalan khusus untuk pengguna kursi roda yang kedua sisinya diberi alat untuk pegangan.

Ramp, fasilitas yang memudahkan aksesibilitas bagi difabel

Mari kita lihat ramp di stasiun-stasiun, seperti di Stasiun Balapan, Solo atau Stasiun Tugu, Yogyakarta misalnya. Siapa saja yang memanfaatkan keberadaannya?

Banyak orang yang tak memiliki handicap pun memilih lewat ramp untuk menarik troli pada kopor atau tas-tas besar mereka, dibanding memanggul tas dengan meniti tangga berundak. Pengguna kursi roda juga mudah mengakses hingga memasuki gerbong kereta tanpa banyak kendala. Orang-orang lanjut usia, ibu hamil dan anak-anak, tentu lebih nyaman melaluinya.

Itulah sedikit pelajaran yang saya (bersama teman-teman blogger Bengawan) dapat ketika berbincang-bincang dengan Kang Sapto, pendiri Yayasan Talenta, sebuah organisasi masyarakat sipil yang mengkhususkan diri pada pemberdayaan kaum difabel.

Ada satu cerita miris saya dengar dari Kang Sapto. Tiga bulan silam, dalam sebuah pertemuan tingkat nasional yang dihadiri orang-orang pintar dan berpendidikan tinggi, dimunculkan kembali istilah disabilitas (disability). Sebuah istilah yang dianggap menyakitkan bagi orang-orang seperti Kang Sapto.

Ya, Kang Sapto yang kedua kakinya layu sejak kecil, merasa tidak nyaman dengan sebutan demikian. Sama menyakitkannya, ketika pascaperang kemerdekaan, dimunculkan istilah ‘penyandang cacat’ untuk para pejuang yang mengalami cacat fisik akibat perang.

Bagi Sapto and the gank, kedua kata pembentuk frasa ‘penyandang cacat’ itu bertolak belakang. Kata penyandang biasa dipakai untuk labelisasi kehebatan, seperti pemeroleh medali emas, juara olimpiade sains dan sebagainya. Sebaliknya, kata cacat menunjuk pada hal-hal tak lumrah, tak lazim atau berbeda dengan mayoritas. Jadi, cacat bukanlah hal yang dibanggakan.

Karena itu, Kang Sapto dan teman-temannya lebih nyaman dengan istilah difabel (difability), yang bermakna perbedaan kemampuan. Dengan istilah ini, ibu hamil, penderita stroke, orang lanjut usia bisa masuk ke dalam kategori difabel, setara dengan penderita cacat fisik, sebab mereka memimiki kemampuan tak senormal yang lain.

Dengan istilah difabel, para penderita cacat itu merasa diperlakukan sama dengan manusia-manusia ‘normal’, tiada beda, sehingga tak perlu dikasihani. Mereka hanya ingin dimengerti dan karena itu harus ‘dimaklumi’ atas handicap yang mereka miliki. Seperti orang normal bisa berjalan cepat, maka kita tak boleh memaksa mereka berjalan secepat yang lain. Itu saja.

Rasanya, rencana membuat ‘kantor’ bersama, antara Komunitas Blogger Bengawan dengan Yayasan Talenta akan memberi nuansa berbeda. Kami, yang diperkenankan nebeng mereka, bisa belajar bersama mengenai perbedaan, juga mengatasi handicap yang sama-sama kami miliki.

Jika handicap mereka sekilas tampak fisik semata, yang ada pada kami justru lebih mendasar: keterbatasan pada semua hal. Satu-satunya yang mempertemukan kami hanya semangat untuk lebih maju, lebih berdaya, dan lebih berguna bagi banyak orang/pihak.

Asal tahu saja, Kota Solo termasuk kota utama di Indonesia yang menjadi laboratorium pemberdayaan kaum cacat. Bila mengacu data WHO bahwa populasi orang cacat sedunia mencapai 10 persen, Indonesia sendiri diperkirakan pada kisaran 3,1 persen dari total penduduk. Artinya, sekitar tujuh juta orang Indonesia termasuk difabel atau kaum cacat, belum termasuk kalau para ibu hamil dan para lansia dimasukkan ke dalamnya.

Bersama Yayasan Talenta itulah, kami, Blogger Bengawan ingin mengasah talenta yang kami punya, sekaligus mencari taenta-talenta baru lewa beberapa rencana program kami di masa mendatang.

Mohon doa restu, kami sedang mencoba memaknai hidup kami, semoga berguna bagi kehidupan sebanyak mungkin orang di Indonesia. Syukur dunia…

Gambar ilustrasi diambil dari sini.

3 thoughts on “Disability dan Difability

  1. DV

    Hebat, Paklik! Semoga sukses..
    Di Australia, perhatian terhadap kaum ‘tuna’ sangat besar.
    Fasilitas2 umum, umumnya menyediakan alternatif untuk kaum ‘tuna’ ini…
    .-= DV´s last blog ..Israel… =-.

Leave a Reply