Cerita Gempa Klaten

Sekitar pukul 5 pagi, empat tahun silam, saya masih bermalas-malasan di ranjang. Aktivitas vulkanik Gunung Merapi baru dinyatakan menurun beberapa hari sebelumnya, seolah memberi waktu istirahat fisik saya yang kelelahan. Hampir 40 hari, tak malam atau siang, selalu naik-turun mengitari lereng Merapi.

Keluarga korban membawa jenazah korban gempa dengan sepeda motor. Banyaknya korban tak sebanding dengan sedikitnya jumlah ambulans dan sarana angkutan.

Bunyi gemerincing gelas di dapur disusul guncangan keras. Saya menggeret istri ke luar rumah, dengan guling masih dalam pelukan saya. Hanya sekejap, saya teringat cerita seorang pengamat Gunung Merapi yang menjadi teman begadang. Katanya, salah satu pertanda meletusnya Gunung Merapi adalah gempa vulkanik hebat. Bisa setengah jam, atau sejam sebelum letusan.

Bayi pasien RS Panti Waluyo yang dievakuasi akibat gedung mengalami keretakan.

Ingatan langsung melayang pada nenek istri saya, yang tinggal sekitar lima kilometer di tenggara Merapi. Saya meminta istri bersiap-siap untuk menguras uang di ATM, sementara saya mendatangi Novotel, tempat para tamu mancanegara biasa menginap. Kebetulan, hotel itu merupakan bangunan tertinggi di Solo. Saya hanya ingin membuat foto berita di sana.

Aman di Novotel, saya menuju rumah hendak menjemput istri. Di tikungan jalan besar menjelang rumah, saya lihat tempat tidur pasien berjajar di halaman gedung. Beberapa bagian gedung retak, semua pasien dievakuasi. Suasana mencekam pagi itu. Setelah memperoleh beberapa foto, segera saya mengirim untuk European Pressphoto Agency/EPA Photo, yang kebetulan sehari sebelumnya meminta saya membantu mereka untuk ‘urusan’ Gunung Merapi.

Foto-foto efek gempa di Solo termasuk yang pertama terpublikasikan di dunia, sebab aliran listrik di Yogyakarta padam dan akses komunikasi terganggu.

Urusan Solo beres, saya bergegas ke Klaten. Saat mengirim foto, sudah banyak berita di internet mengenai situasi gempa, yang ternyata bukan dari Gunung Merapi, melainkan dari kedalaman Laut Selatan. Dari internet pula saya tahu, teman-teman reporter dan fotografer kantor berita asing dan media-media asal Jakarta kesulitan mengirim berita. Listrik padam, tak ada saluran internet aktif, sehingga foto-foto efek gempa yang saya buat di Solo menjadi foto pertama yang tersiar di berbagai belahan dunia.

Suasana pascagempa di Klaten, 27 Mei 2006

Yakin keselamatan keluarga, saya menuju rumah sakit pemerintah di Klaten. Baru saja memarkir sepeda motor, saya bertemu seorang sepupu. Dia memberitahu, istrinya kejatuhan atap rumah hingga keguguran. Tiga sepupu lain saya, rupanya menjadi korban pula, meski tak seberapa parah. Sungguh situasi yang sulit.

Usai gempa, kebutuhan peti bagaikan 'belanja'. Satu keluarga bisa membeli beberapa sekaligus akibat rumah yang porak-poranda.

Dari rumah sakit itu, saya mendatangi lokasi-lokasi terparah, hingga mendapati seorang keluarga dekat, meninggal tertimpa bangunan rumah.

Gempa, tak hanya mengguncang keluarga saya. Ribuan saudara jadi korban, dengan tingkat luka, penderitaan dan kerusakan beragam. Hingga beberapa tahun sesudahnya, dampak gempa tak kunjung teratasi. Banyak warga belum memperoleh santunan dari pemerintah, meski sudah dinyatakan uang bantuan sudah dikirim ke rekening pemerintah daerah.

Hingga tahun ketiga setelah gempa, masih banyak warga melakukan unjuk rasa karena menuntut haknya...

Demonstrasi kroban gempa berlangsung lama, hampir saban hari. Warga menduga, korupsi terjadi di sana-sini. Dari tingkat kabupaten hingga desa, aroma korupsi bisa dirasa, termasuk sepupu saya yang tiba-tiba ‘dipecah’ keluarganya. Jika semula satu rumah punya satu kartu keluarga (KK), keluarganya lantas menjadi tiga.

Rupanya, ‘inisiatif’ datang dari pemerintah desa. Motifnya, sekilas menolong, sebab bila seharusnya satu keluarga hanya memperoleh belasan juta menjadi lipat tiga. Ternyata, punggawa desa punya pamrih dengan akrobat memecah jumlah keluarga, sebab uang santunan sesuai jumah kartu keluarga. Pada setiap ‘keluarga’ disunat tiga juta!

Seorang kakek memangku cucunya, di antara puing-puing bangunan rumahnya yang luluh lantak.

Sementara di desa saya, ada dua kampung rusak parah. Bapak saya termasuk yang ditunjuk menjadi salah satu tokoh desa untuk mengurus pendataan dan penyaluran bantuan. Sebagian pamong desa menyunat, orang seperti bapak saya kebagian laknat dan sasaran warga mengumpat. Merasa sudah berbuat yang seharusnya dan berusaha adil transparan, Bapak saya shock saat mendengar menjadi salah satu sasaran omongan orang.

Bapak saya mutung, mengundurkan diri dari urusan gempa dan bantuan. Rupanya, rasa malu kuat menghunjam. Tak lama kemudian, Bapak saya terkena serangan stroke. Hingga kini, tangan kanannya tak kuasa digerakkan, meski sudah bisa berjalan. Efek gempa, masih terasa hingga kini, setelah empat tahun berselang.

Sementara di desa lain, seorang punggawa desa baru saja keluar setelah lima bulan mendekam di penjara karena ketahuan menilap milyaran dana kemanusiaan untuk korban gempa. Ia sehat, dan masih tampak kaya.

4 thoughts on “Cerita Gempa Klaten

  1. saat itu suasana sangat mencekam
    baru saja tiba di batavia untk makaryo langsung dapat sms bahwa klaten dan jogja gempa…
    alhamdulillah keluarga saya di klaten selamat.

    2 hari kemudian langsung bertolak ke Klaten (gantiwarno) bersama seorang kawan dengan membawa mobil berisi full bantuan yang berhasil dikumpulkan di jakarta,

    begitu sampai di sana luar biasa mencekam, semua orang berebut bantuan…
    semua panik dan sibuk demi kelangsungan hidup masing….
    sungguh kenangan yang tak terlupakan
    .-= ciwir´s last blog ..Dana Aspirasi Sekoci Penyelamat??? =-.

  2. Menyedihkan, ketika sama-sama dalam situasi sulit kita berada dalam posisi yang dipersalahkan, antara lain karena lontaran mulut beracun. Sungkem kagem Bapak.
    Tentang manipulator saya tak bisa bilang apa-apa selain tiba-tiba jengkel sendiri.

  3. setelah mendapat SMS, dengan serta merta saia menuju ke daerah Jakal KM 5. Masih teringat dengan jelas, di dalam taxi (sambil menangis dan doa) yang sengaja saia sewa demi keselamatan seseorang yang berada disana. Saia miris ketika memasuki ambang batas kota, tidak diperbolehkan masuk, saia masih teringat jelas sambil berlari dan menangis dengan keadaan sekitar menuju Jakal KM 5.
    .-= gajah_pesing´s last blog ..Nice Girls =-.

Leave a Reply