Harga Sebuah Iklan

Trans7 menayangkan hasil liputan berbiaya tinggi, beberapa hari lalu: cerita ringan tentang Harleywan-Harleywati Indonesia yang sedang jalan-jalan ke Amerika. Satunya lagi, mengenai keberadaan kelompok penggemar musik gamelan di Colorado. Pada setiap angle, nyaris terdapat stiker seragam: rokok Clas Mild!

Bagi saya, liputan grup karawitan mancanegara itu menarik, andai tak ‘ternoda’ stiker-stiker yang ditempelkan pada setiap instrumen gamelan. Terkesan maksain sponsor. Pada kendang, rancakan gendèr hingga dinding studio, stiker itu ditempelkan, dan saya (sebagai penonton) merasa terganggu.

Bagi Trans7 mungkin saja itu sebagai ungkapan terima kasih, meski berlebihan. Tapi bagi pemilik brand, menurut saya justru ‘dipermalukan’. Penempatan stiker pada alat-alat musik itu tidak mencerminkan kesantunan. Mungkin, orang-orang Amerika itu tak tahu jika Clas Mild itu merek rokok, yang media dan bentuk-bentuk promosinya diatur ketat di sana.

Sejujurnya, saya tak terlalu paham batasan-batasan produsen rokok menempatkan iklannya. Saya hanya teringat pada gerakan antirokok yang kian massif di seluruh dunia, bahkan sejumlah cabang olahraga tak membolehkan produsen rokok sebagai sponsor, baik atlit maupun event. Di Indonesia, pun, wacana larangan iklan rokok terus menguat.

Siapa yang rugi? Entah. Stasiun televisi mungkin merasa beruntung diringankan beban pembiayaan untuk produksi tayangannya, sementara produsen rokok bisa saja justru bangga karena diberi ruang dan waktu beriklan yang gurih.

Khusus iklan-iklan rokok, sejatinya saya kurang suka terhadap model penempatannya. Banyak keindahan kota rusak gara-gara kiri-kanan jalan raya dijadikan media perang antarprodusen. Bahkan, ada kecenderungan satu dengan yang lain berlomba menguasai kota-kota.

Sebuah kota misalnya, memperoleh cap sebagai wilayah kekuasaan A. Sementara kota lainnya, B lebih menonjol seperti ditunjukkan dengan jumlah billboard, banner, bahkan kalau perlu, videotron, di lokasi-lokasi strategis!

Saya kerap melamun, membayangkan sebuah kota yang indah dan rapi, meski terdapat papan-papan iklan di sana-sini, entah itu produk-produk toiletris, aneka makanan, maupun rokok. Intinya, bukan mengharamkan media promosi di ruang-ruang publik, namun lebih mempertimbangkan aspek-aspek estetika.

Desain visual yang kian bagus, rasanya akan lebih bermakna (dan mengena) jika palcement-nya juga tepat, baik dari segi pemilihan lokasi, maupun pertimbangan estetika dengan menyesuaikan lingkungan sekitarnya. Tentu, hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi praktisi di advertising agency maupun konsultan komunikasi.

Tak ada salahnya produsen atau pemilik brand mempertimbangkan kembali semua strategi komunikasi. Kelak, bakal tiba suatu masa di mana masyarakat mulai kritis dan ‘menggugat’ hak kenyamanan visual (dan hal-hal indrawi lainnya), yang harus dipenuhi para produsen yang membutuhkan ‘ruang’ komunikasi dengan publik sebagai pasar alias konsumen mereka.

Saya yakin, akan tiba suatu masa pula, di mana seorang warga negara (yang sudah dipaksa membayar pajak ini-itu) menuntut haknya kepada pemerintahnya, yakni tuntutan agar ruang-ruang publik dibebaskan dari alat promosi yang berlebihan. Bukan tidak mungkin, perilaku menempel poster di tembok-tembok rumah secara sembarangan bisa berbuah gugatan terhadap pemilik brand yang sedang dipromosikan.

Bukan mustahil, kelak akan muncul gerakan, ajakan atau seruan memboikot produk tertentu yang dinilai melanggar etika dan estetika yang berlaku dalam sebuah kelompok masyarakat. Apalagi, efektifitas media sosial seperti Facebook, Twitter dan sejenisnya, sudah terbukti efektifitasnya.

Jangan lupa, bukan pekerjaan mudah menghentikan gerakan model demikian, yang bahkan dalam hitungan menit bisa menjangkau semua wilayah tanpa batas. Segera siapkan strategi antisipasi, sebelum Anda menanggung kerugian sendiri.

8 thoughts on “Harga Sebuah Iklan

  1. ndilalah sing duwe duit nggo bayar iklan sing regane larang yo produsen rokok …
    ndilalah, pemerintah butuh duit akeh nggo biayai program-program pembangunan ( ,,, karo nggo mbayari kepentingan pejabate)
    dadi yo pas, sego ketemu piring … sijine duwe duit, sijine butuh duit … gathuk … ra mikir bab estetika lan etika, sing penting pihak2 sing berkepentingan oleh penake …

    iki mung opiniku, iso salah iso bener … hehehe

  2. Tonny Wahyudi

    Sebenarnya hal itu bisa dilakukan dengan teknis super-imposed dan tak sedikitpun mengurangi benefit sponsor. Barangkali masih seperti itulah mindset para pekerja iklan di republik ini, masih senang bermain dengan hard-selling dibanding dengan yang soft.. Sing penting isa Harley-harleyan tekan amrik gratis…

  3. Turut berduka Pakde, selaras dengan komennya Kang DV, ihwal budaya dan tradisi kian lama memudar diserbu arus modernisasi yang ditunggangi sponsor berkocek tebal.

    Kalau di negara ini masih menganut paham, ada uang ada kuasa, wah…jangan harap yang seperti ini bisa segera sirna Pakde.

  4. DV

    Saya jadi kelingan, Paklik.. waktu SMP dulu pernah ikut ekstrakurikuler Karawitan dan aturan pertama adalah tak boleh ngelangkahi peralatan. Berdiri di antaranya pun tak boleh, pokoknya jalan pun harus jengkeng…

    Ikut prihatin kalau pada akhirnya sticker iklan pun sekarang ‘halal’ ditempelkan di bodi alat2 karawitan..
    Menurutku, ini semakin menandakan betapa semakin terpinggirkannya kearifan lokal dan pemujaan terhadap hal-hal mutakhir yang bernafas ‘global’, ‘media’ dan konco2nya..

    *ngelap kringet, serius men tho yo komentarku…
    .-= DV´s last blog ..Tentang Piala Dunia =-.

  5. padahal stiker itu bisa disiasati dengan insert ads di pinggir layar atau pop out gitu (apa lah istilah), tim kreatif kok ga kreatif 🙂

Leave a Reply