Gesang Sang Maestro

Gesang telah pergi. Lelaki kesepian namun murah senyum itu benar-benar meninggalkan warisan abadi kepada Bangsa Indonesia, dan warga Surakarta. Seperti ditulis dalam syairnya, Sebelum Aku Mati, Gesang benar-benar meninggalkan warisan abadi.

Sekali ku hidup sekali ku mati/Aku dibesarkan di Bumi Pertiwi/Akan kutinggalkan warisan abadi/Semasa hidupku, sebelum aku mati//Lambaian tangaku, panggilan abadi/Semasa hidupku, sebelum aku mati//

Kini, Gesang benar-benar memberikan warisan abadi. Bengawan Solo (1940) akan terus bergema, Caping Gunung dan lagu-lagunya yang lain akan terus dinyanyikan. Sejumlah penghargaan yang diterimanya, pun tak pernah menjadikannya sebagai pribadi tinggi hati.

Jumat, 21 Mei, Gesang dimakamkan di TPU Pracimalaya dengan upacara kehormatan militer. Jenazahnya diberangkatkan dari Balaikota Surakarta, dan disemayamkan sejak pagi hari, sebagai tanda penghargaan atas jasa-jasa almarhum bagi warga dan pemerintah Surakarta. Walikota Surakarta yang menjadi inspektur upacara pemberangkatan jenazah mengenang Gesang sebagai ikon Solo atau Surakarta. “Nama Pak Gesang akan abadi bagi kami, warga Surakarta,” ujar Jokowi.

Dan, alunan Bengawan Solo diperdengarkan mengiringi kepergiannya, meninggalkan balaikota dan warga Surakarta, untuk selama-lamanya. Namun, warisannya tetap akan abadi…

Gesang Martohartono (92) merupakan pribadi sederhana dan rendah hati. Terhadap siapapun, maestro bernama kecil Sutardi, itu selalu berbicara dengan bahasa Jawa halus (krama inggil), bahkan kepada orang yang jauh lebih muda. “Kepada saya yang sudah akrab puluhan tahun pun masih berbahasa halus,” ujar Sayuti (74 tahun).

Sebagai peniup flute kroncong yang aktif hingga kini, Sayuti mengaku sudah kenal Gesang sejak 1960-an. “Tapi sering mengiringi pentas beliau baru pada awal 1970-an,” tuturnya, Jumat (21/5).

Hubungan Sayuti dengan Gesang, bahkan hingga memasuki urusan kecil-kecil di kehidupan rumah tangga Gesang, seperti memperbaiki kerusakan listrik dan antena televisi. Bersama Sayuti pula, Gesang kerap melanglang buana menjumpai penggemar Gesang hingga Jepang dan Malaysia, pada kurun 1990-an.

“Pak Gesang selalu minta tidur sekamar dengan saya karena saya dianggap bisa nyratèni (mengerti) kemauannya. Karena tak bisa tidur di ruang bersuhu dingin, saya hampir selalu mencari koran untuk menutup lubang air conditioner, terutama yang sistemnya sentral,” tuturnya.

Sepanjang karirnya bermain musik kroncong, Gesang juga tak pernah melakukan tawar-menawar harga kontrak. Bahkan, bayaran manggung yang tak seberapa pun selalu diterimanya sepanjang waktunya luang dan memungkinkan. “Beliau selalu bilang iya dan iya,” paparnya.

Gesang yang berpendidikan sekolah angka loro (Sekolah Rakyat hingga kelas 2) sejatinya berasal dari keluarga berada. Orang tuanya, Martodihardjo dan Sangadah dikenal sebagai juragan batik di Solo. Kakaknya, (almarhum) Yasid, bahkan menjadi gelandang kiri luar Persis (Solo) yang tangguh pada pertengahan 1940-an dan terkenal dengan tendangan pisang atau tendangan melengkung.

Berbeda dengan keluarganya, Gesang memilih jalur hidup sebagai seniman. Berbekal seruling bambu, Gesang mencipta puluhan lagu, yang tiap lagunya baru selesai hingga berbulan-bulan. Karena kekuatan syair ciptaannya itulah, karya-karya Gesang menjadi abadi dan monumental.

Selain Bengawan Solo yang populer di seluruh jagad hingga diterjemahkan ke dalam 13 bahasa, lagu Tembok Besar-nya memperoleh penghargaan khusus di Cina. Ia bahkan kerap melakukan lawatan kebudayaan ke negeri tirai bambu itu pada awal 1960-an.

Gesang termasuk pencipta yang karya-karyanya penuh penghayatan. Lagu ciptaan pertamanya, Si Piatu (1938) diinspirasi oleh seorang anak tanpa kasih sayang karena yatim-piatu sejak kecil. Heroisme-nya juga terasa ketika mencipta Caping Gunung (1975, ciptaan terakhir) dan Dongenganku yang bertutur tentang peran masyarakat desa yang mendukung gerilyawan dengan logistik dan keramahan.

Karya Sebelum Aku Mati juga sangat kental aura perjuangannya. Judulnya pun ia ambil dari kata-kata yang paling sering diucapkan Soekarno ketika melakukan pidato-pidato dalam rapat umum.

Sisi muram dalam kehidupan pribadi Gesang melahirkan tiga lagu serangkai: Ali-ali (Cincin, red.), Pamitan dan Luntur. Seorang sumber  yang enggan diungkap jati dirinya menyebutkan, Ali-ali merupakan kisah perpisahannya dengan sang istri. Seorang sahabat mendatangi Gesang untuk melamar istrinya. Lantaran belasan tahun tak dikaruniai anak, Gesang pun menerima pinangan sang teman yang konon pejabat Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta, dengan nasihat agar tidak menyia-nyiakan si perempuan, dan memperlakukan seperti Gesang menyayanginya.

Ali-ali (lengkapnya berjudul Ali-ali Ilang Matané, Cincin Hilang Batu Permatanya) menggambarkan hilangnya nilai kemuliaan, namun tetap diikhlaskan dalam balutan kekerabatan. Ia pun menulis Luntur, yang mengandaikan cinta sang istri luruh bagai sebuah kain yang luntur warnanya. Kebesaran hatinya, tampak pada lagu Pamitan, atau pamit pulang.

Satu hal yang menautkan Gesang dengan publik Jepang adalah keberadaan dirinya sebagai penghibur Heiho atau bala tentara Jepang. Pada masa Perang Dunia II itu, Gesang dan grup keroncongnya diminta menghibur pasukan kolonial dengan tembang-tembang Jawa, sekaligus untuk propaganda anti-Barat. Pada masa itu, Gesang bergabung dengan sebuah teater keliling Bintang dari Surabaya.

Sebagai pencipta, hidup Gesang kelewat sederhana. Ia baru memiliki rumah di usia 67 tahun. Sebuah rumah mungil pemberian Pemerintah Kota Surakarta Provinsi Jawa Tengah semasa Gubernur Supardjo Rustam di kawasan Palur dihuni dengan seorang pembantunya sejak 1984. Ditemani sepeda motor Honda Bebek, Gesang melakukan aktivitasnya sebagai musisi sembari memiara burung perkutut di rumahnya.

Kesederhanaan Gesang tampak nyata ketika pada awal 1990-an, ia dirampok sekeluar dari bank. Uang puluhan juta rupiah yang baru diambilnya raib. Gesang tegar, dan ketika menjawab pertanyaan penulis, ia hanya berujar singkat, “Niku sanès rejeki kula.” (Itu bukan rejeki saya). Keesokan harinya, ia kembali ke bank dan mengambil sejumlah uang untuk menutup kebutuhannya.

Related posts:

  1. Kenangan Sang Guru (1)
  2. Kenangan Sang Guru (2)
  3. Kenangan Sang Guru (3)
  4. Sayuti Buaya Kroncong
  5. Sang Pencerah
Tags: ,

6 Komentar
Beri Komentar »

  1. hebat pak gesang, kira2 proses kreatifnya gimana ya bisa bikin karya yang abadi?
    kw´s last blog ..paman tyo:ngeblog itu kayak nge-flush benak

    nah, itu yang pingin saya cari, Mas KW. semoga besok-besok bisa menuliskan lagi kenangan-kenangan atas kebesaran seorang maestro…
    /blt/My ComLuv Profile

  2. Sedikit koreksi untuk tulisan bagus ini: rumah di Palur itu bukan dari Pemkot Surakarta, tapi hadiah dari Gubernur Jawa Tengah waktu itu, Supardjo Rustam. Lalu, soal peristiwa perampokan, Gesang mengambil uang itu pada hari yang sama, hanya beberapa saat setelah perampokan terjadi.

    terima kasih. biar jelas kekeliruan saya, maka tanggapan di atas menjadi ralat. matur nuwun…
    soal peramopokan, beruntung saya bertemu beliau pada hari yang sama dan memperoleh cerita langsung, sehingga saya jadi paham bagaimana Mbah Gesang menyikapi hidup dengan begitu bersahaja…
    /blt/

  3. Tertarik dengan cerita di alinea terakhir, Om… kok ya masih ada ya orang se nrimo itu..
    Semoga arwahnya bersama Tuhan :)

    Salam kenal.. eh tepatnya, salam kekerabatan :)
    DV´s last blog ..Tentang Piala Dunia My ComLuv Profile

  4. hmm…
    ciwir´s last blog ..tentang Kebangkitan Nasional My ComLuv Profile

  5. Selamat Jalan pahlawanku…
    karyamu akan selalu kami kenang, minimal satu ‘Bengawan Solo’ :)

  6. maestro seni, juga maestro dalam kehidupan sehari-hari..
    hanifa´s last blog ..Download Resource Design My ComLuv Profile

Leave Comment

CommentLuv Enabled