Teh Pokil “Berkah Twitter”

Sudah sepekan lebih saya menimbang-nimbang nama merek dagang untuk teh racikan ‘temuan’ saya. Yang sudah pasti adalah dengan memasukkan kata pokil, yang kira-kira berpadanan dengan urik, akal-akalan. Teh pokil (hashtag di Twitter #tehpokil) hanyalah produk akal-akalan saya: mencampur beberapa merek untuk menghasilkan rasa baru.

Model pokil-pokilan mengoplos teh, mungkin hanya dikenal di Solo. Banyak warung makan, restoran, wedangan/angkringan atau hik, mempunyai formula sendiri-sendiri. Masing-masing beda rasa, namun sama enaknya. Soto Gading, RM Adem Ayem, wedangan Kemin dan beberapa yang lain dikenal punya teh yang enak. Karena itu, mereka menjadi ‘ukuran’ atau standar rasa.

Tradisi mengoplos beberapa merek, pun sejatinya sudah berlangsung lama. Di kampung-kampung dikenal sebutan jayèngan, yakni kru pembuat minuman dalam sebuah hajatan. Para jayèng biasanya menjadi ikon sebuah kampung. Tak jarang, tukang bikin teh di-bon atau disewa orang punya hajat di lain kampung hingga berkilo-kilometer jauhnya.

Seperti para tukang masak wedang itu, saya jadi terbiasa membuat teh dengan beragam ramuan. Beberapa merek tertentu juga jadi favorit, meski kebanyakan produksi Slawi, Tegal. Di antaranya Poci, Sosro, 2 Tang, Tong Tji.

Semasa kecil, saya terbiasa minum teh cap Djempol dan 999, sementara ketika menggelandang di Jakarta merasa ‘dipaksa’ menyeduh teh cap Botol. Ya, hanya teh merek itulah yang paling mudah dijumpai di semua warung di Jakarta, kecuali –tentu saja- supermarket.

Untuk jenis teh celup, saya masih suka dengan teh Sosro Premium yang kini di-branding ulang dengan nama Heritage. Dulu, teh itu jarang ditemukan. Tak semua supermarket menjualnya. Hanya sedikit hotel yang menggunakan Sosro Premium sebagai ‘teh resmi’ di kamar, yang biasanya diletakkan berdampingan dengan mesin pemanas dan dua botol air mineral. Satu yang kuhafal hanya Hotel Santika, meski sejak beberapa tahun terakhir menggantinya dengan Sari Wangi.

Di hotel-hotel ‘prestisius’, kebanyakan menggunakan brand-brand internasional seperti Lipton atau Dilmah. Tak ada teh lokal dijajakan, apalagi di restoran.

Dulu, ketika mobilitas saya masih tinggi: Solo-Jakarta-Bandung-Semarang, hampir selalu ada beberapa buah teh celup di dalam tas, tergantung lamanya bepergian. Yang pasti, saya siapkan tiga per hari. Di restoran pun, tak jarang saya minta air putih panas dan gula, sementara teh saya ambil dari bungkusan plastik agar tak tertular bau baju.

Itulah sebagian cerita tentang kegemaran saya akan teh. Bila hari-hari ini ramai berseliweran kicauan tentang #tehpokil di Twitter, itu semua tak lepas dari ‘berisiknya’ para pekicau, seperti @budionodarsono, @nukman, @didinugrahadi, @venturaE, @unizl, @wasisg hingga @PakBondan, serta banyak lagi. Tentu, yang utama adalah komunitas Wetiga, di mana di wedangan itulah semula formula #tehpokil hendak dijajakan.

Dan, dari sahabat-sahabat pekicau itulah, sepertinya saya harus belajar. Ruang dan peluang usaha sudah dibuka dan dimuluskan oleh mereka, dan saya tinggal menerima berkahnya. Entah, dengan cara apa saya harus membalas kebaikan mereka. Begitu juga kepada @mrbambang, @omith, @bangsari, @hedi, @riyogarta, @mbelgedez, @pasarsapi, @raravebles, @blathik_ayu, @tsuroiya, @ulil, @susiivvaty, @nongmahmada, dan masih banyak lagi.

Mungkin, kelak saya akan menamainya agak norak: Teh Pokil cap Berkah Twitter.

Catatan tentang #tehpokil bisa dilihat di sini

23 thoughts on “Teh Pokil “Berkah Twitter”

  1. evi

    penasaran ama Teh Pokilnya….
    Teh asal Tegal emang mantabs! *bangga jd orang Tegal*
    Pakdhe, udh nyoba nyampur Teh Djenaka ama Teh Nutu dari pekalongan…? enak juga loh… 😉

  2. DV

    Aku ‘mengikuti’ timelinemu jadi ya agak ‘ngeh’ dengan teh pokilmu meski ya tetep penasaran dengan rasanya.
    Sebagai orang yang lahir dan besar di Jawa, aku sangat menyukai teh juga Paklik…
    Simbahku suka juga nyampuri teh kayak gitu, seingatku dia jago nyampur teh Tjatoet dengan Teh Abang sing ono gambar angka kae tur aku lali tepatnya merk apa..

    Rasanya nyamleng, sruputane ki kandhel.. 🙂
    .-= DV´s last blog ..Tentang Piala Dunia =-.

  3. Salam persohiblogan

    Pak, undangannya sudah saya share di milis komunitas Blogger Bogor (BLOGOR). Kebetulan memang saya Kadiv. HUMASnya 🙂

    Wah enak pastinya ya teh nya 🙂

Leave a Reply