Jangan Piara Dendam

Dendam bisa mewujud macam-macam. Balita Muhammad Rafi mestinya tak terluka akibat lemparan batu andaikata tak ada warga Solo yang memiara dendam terhadap bonek. Mungkin, pelaku akan mengajukan apologi demi membalas pendukung Persebaya yang beberapa bulan menganiaya pedagang di Stasiun Purwosari, beberapa bulan lalu.

Apapun alasannya, tanpa melukai balita pun, tindakan pelemparan kereta api yang ditumpangi bonek itu merupakan bentuk kejahatan. Tidak baik, mengabaikan martabatnya sebagai manusia waras.

Sama dengan aksi kekerasan yang diakukan sebagian bonek, saya pun mengecam dan menentang tindakan warga Solo itu. Saya yakin, tak semua bonek itu jelek. Setitik nila dimunculkan akibat ulah segelintir untuk merusak susu yang sebelanga banyaknya. Lebih baik melupakan peristiwa kelam masa silam daripada dikelola menjadi dendam.

Kearifan harus ditanamkan, bukan saja oleh pimpinan massa supporter. Tapi manajemen klub, pengurus PSSI juga mesti menunjukkan sikap proaktif mereka untuk membangun moralitas yang mengedepankan kedamaian. Dengan begitu, harmoni tercipta.

‘Permusuhan’ hanya boleh dilakukan di lapangan. Pun hanya sebatas waktu permainan. Sportifitas harus ditunjukkan, baik dalam sikap maupun tindakan.

Pemerintah pun harus berkaca. Situasi ekonomi yang membuat rakyat gamang menatap (apalagi melakoni) masa depan potensial menyulut kekecewaan dan apatisme. Keresahan yang massif juga punya kecenderungan mewujud dalam bentuk-bentuk kekerasan semacam penganiayaan (yang dilakukan oknum bonek) kepada pedagang, juga tindakan balasan yang lantas dicatatkan sebagai buruknya sebuah kesan.

Buruknya perilaku politisi, lemahnya penegakan hokum dan berlarut-larutnya penanganan kasus korupsi, bukan tak mungkin turut menyulut api dendam. Insiden penjarahan dan pelemparan (bisa jadi) juga cuma menjadi sebuah reaksi, manifestasi kemarahan dan dendam kepada kelaliman penerima mandat penyelenggaraan tata kenegaraan. Katakanlah, itu sebagai ekspresi kekecewaan yang terpendam.

Susno Duadji, Ruhut Sitompul, Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, Gayus, Bank Century hingga manuk palsu polisi dan masih banyak lagi kekonyolan-kekonyolan yang ditunjukkan para penerima mandat penjaga ketertiban bernegara, merupakan factor-faktor pemicu kemuakan publik.

Andai korupsi teratasi, bangsa Indonesia tak seberingas kini. Darah banyak tertumpah, yang lemah lantas menjarah apa saja yang bisa dijarah, seperti ketentraman dan kedamaian yang menjadi hak publik.

Keberingasan yang ditunjukkan para bonek, mahasiswa pengunjuk rasa, suku-suku di Papua, warga Priok hingga warga Solo yang melempari penumpang kereta api hanya sedikit bukti, petunjuk betapa gila dan miskinnya para elit politik kita dalam soa rasa dan kesadaran berbangsa.

Saya yakin, yang demikian tak pantas dikelola para pemimpin negara. Saatnya kekerasan ditinggalkan, dan dendam dihilangkan. Semua orang punya hak untuk hidup tenang.

5 thoughts on “Jangan Piara Dendam

  1. Membaca tulisan ini, saya jadi teringat film-nya Andy Lau yang berjudul Running in a Karma. Dendam memang tidak boleh disimpan, tetapi pelaku kejahatan tetap harus ditindak…… Lanjutkan…………..

  2. Membaca tulisan ini, saya jadi teringat film-nya Andy Lau yang berjudul Running in a Karma. Dendam memang tidak boleh disimpan, tetapi pelaku kejahatan tetap harus ditindak.

Leave a Reply