Makam

Makam adalah tempat peziarah merenungkan banyak hal, untuk memperbaiki laku sisa hidup dan berkaca pada perilaku yang mati semasa hayat. Karena itu, orang lalu mendaras doa. Memintakan ampunan dan ruang di surga bagi yang mati. Fisik makam hanya sarana untuk memasuki ruang-ruang spiritualitas.

Tak aneh, banyak orang Jawa mengutamakan pulang dari perantauan untuk berziarah ke makam-makam kerabat sepekan menjelang ramadhan. Bahwa tradisi itu bernuansa sinkretisme kepercayaan Jawa kuno dan pengaruh Hindu tak bisa dinafikan. Namun, justru tradisi semacam itu yang dijadikan pintu masuk bagi Wali Sanga ketika mendakwahkan ajaran Islam di Jawa.

Makam atau kuburan adalah ruang kontemplasi

Pelan-pelan, Wali Sanga mengajak peziarah untuk tidak meminta sesuatu dari yang mati, namun justru mendoakan mereka, memanjat kepada Sang Maha Kuasa. Dari pendekatan semacam itulah, Islam menyebar di tanah Jawa. Sebuah cara jitu pada masa itu, dengan menonjolkan kearifan berupa penghormatan terhadap keragaman.

Kita masih ingat, Syeh Ja’far Shadiq yang lantas bergelar Sunan Kudus melarang pengikutnya menyembelih sapi, sebab hewan itu dikeramatkan umat Hindu. Jejaknya masih terasa hingga kini, di mana masakan daging kerbau lebih mudah dijumpai di Kudus. Kerbau menggantikan lembu.

Ciri arsitektur masjid dan kompleks makam yang Hindu pun dipertahankan hingga kini, sebab ruang spiritualitas berada jauh di dalam dari yang bendawi, material. Isi lebih penting daripada kulit, yang fisik. Termasuk dalam tradisi ziarah, tak bisa dinilai dari perilaku kasat mata.

Tradisi Sadranan, yakni nyekar atau ziarah massal di bekas wilayah Mataram merupakan wujud kejeniusan para wali memodifikasi tradisi lama, yang bagi sebagian kelompok yang mengklaim sebagai ‘pembaru’ Islam dianggap bid’ah, tak ada landasan hukumnya.

Mendoakan kerabat, bukan meminta kepada yang sudah mati

Tak cuma Sadranan yang tahunan, malam Jumat juga dikeramatkan. Orang Jawa akan memilih itu sebagai ‘hari baik’ untuk berziarah, meski sejatinya bisa dilakukan kapan saja. Sebagian pemakaman umum di Jepara, bahkan ramai orang datang dengan kostum gamis dan bersarung pada Kamis sore hingga petang. Mereka membaca Yaasin dan Tahlil di samping pusara.

Begitu lekatnya tradisi ziarah kubur, lantas menjadikan makam bukan sekadar gundukan penutup jasad semata. Pada makam terdapat teladan, yang bisa ditiru dan dipraktekkan ke dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Makam adalah pengikat, bukan semata bagi yang bertalian darah, namun juga tali penghubung antara murid dengan guru, antara santri dengan kiai, antara yang hidup dengan telada si mati.

Andai pejabat Pemda DKI memahami aspek kultur dan spiritualitas seperti ini, mungkin tak akan terjadi amuk massa di Koja. Andai persoalan utamanya adalah sengketa kepemilikan lahan, biarlah itu diselesaikan dengan pendekatan hukum. Namun yang tak bisa diabaikan, adalah keberadaan makam Mbah Priok, orang suci yang berjasa bagi persebaran Islam di Batavia.

Mungkin, PT Pelindo, Pemda DKI hingga Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menganggap hubungan warga dengan Mbah Priok hanyalah hubungan irasional. Mereka lupa, ada pola hubungan yang bisa diterima dengan nalar, bahwa dari makam itu, berbagai etnis merasa dipersatukan sehingga menghasilkan relasi sosial yang harmonis, dan berlangsung secara turun-temurun.

Sedikit banyak saya juga tahu, populasi masyarakat miskin di daerah itu cukup besar. Kesulitan ekonomi yang menghimpit mereka lantas memunculkan sifat/karakter keras akibat persaingan hidup yang sengit. Penghasilan pas-pasan, fasilitas umum yang minim kian menambah peliknya kompleksitas persoalan. Jangankan untuk mandi, air untuk makan, minum dan kebutuhan sanitasi sangat mahal di sana.

Persoalan-persoalan sosial yang begitu nyata, tak kunjung menemukan solusi. Pada masyarakat demikian, aspek spiritualitas lantas menjadi satu-satunya medium katarsis, sekaligus ruang kontemplasi, yang pada gilirannya mampu berperan sebagai rem bagi nafsu-nafsu emosional sesaat.

Pada situasi psikososial yang ‘buruk’ itulah, kehadiran ratusan Satpol PP yang dipersepsikan sebagai alat kekuasaan (PT Pelindo) dicurigai akan menggusur Mbak Priok atau Habib Hasan bin Muhammad Al Hadad, satu-satunya suh, medium perekat relasi sosial antaretnis. Pada titik itulah mereka menemukan ruang ‘katarsis’, yang sayangnya, menjadi kelewat anarkis.

Atas dasar itulah, saya bisa memahami kemarahan mereka. Saya juga meyakini, pola dan bentuk komunikasi kedua belah pihak yang bersengketa tak mempertimbangkan aspek-aspek kultur yang hidup di tengah-tengah mereka. Bahkan, saya masih kuatir dengan pernyataan Wakil Gubernur Prijanto, yang menyebut ada pihak yang sengaja ‘ngompori’ sehingga peristiwa tragis itu terjadi.

Tak bijak seorang pemimpin membuat pernyataan yang justru berpotensi memperkeruh suasana. Yang perlu dicari adalah solusi meredam ketegangan, termasuk memilih pihak-pihak yang dilibatkan dalam proses dialog dan mediasi. Menghadirkan Habib Rizieq dalam penyelesaian sengketa, pun bakal menjadikan runyamnya suasana.

Di makam, yang hidp mendaras doa dan membacakan ayat-ayat suci

Ketokohan Rizieq dalam ‘kelompok Islam’ hanya karena FPI-nya. Sementara, dalam konteks tradisi ziarah kubur, ia termasuk kelompok orang yang menentang tradisi ‘bid’ah’ itu. Kalau gagal mengidentifikasi persoalan, nampaknya persoalan Mbah Priok bakal jadi panjang.

Salah satu harapan, justru keterlibatan Gubernur Fauzi Bowo atau Foke. Sebagai orang NU, pasti dia sangat tahu seluk-beluk ziarah dan makam orang-orang yang dianggap suci.

7 thoughts on “Makam

  1. Mungkin seharusnya meniru walikota yang mengadakan jamuan makan siang selama 50an kali sebelum mengutarakan tentang pemindahan lokasi kaki lima. Sayangnya urusan perut lebih utama untuk “orang-orang gendut” sebab kerakusan dan kekikiran sudah mendarah daging. Bagi mereka, jalan pintas berbuntut kerusuhan lebih murah harganya.

Leave a Reply