Berharap pada Pesta (1)

Pancingan Kang Iman Brotoseno tentang calon manusia kursi Pesta Blogger 2010 lewat Twitter memperoleh tanggapan ramai, kemarin lusa. Malah, ada satu teman ‘mengacau’ dengan menyodorkan saya sebagai salah satu kandidat. Hingga pesta kemarin, saya masih kurang sejalan. Meski begitu, saya mengapresiasi dan salut pada usaha teman-teman.

Pesta Blogger, menurut saya, merupakan peristiwa penting dan menarik. Seribuan orang datang menyemarakkan, dan dengan jumlah berlipat lagi, orang memperbincangkan dan turut meramaikan aneka lomba dan event-event pendukung. Itu menjadi pertanda, banyak harapan masih ada pada sebuah pesta.

Soal siapa chairman atau manusia kursi Pesta Blogger 2010, tak terlalu penting bagi saya. Apa yang dirintis Lae Enda Nasution, lantas diteruskan Ndoro Wicaksono dan Kang Iman Brotoseno tinggal diteruskan, dan dimaksimalkan aspek manfaatnya, baik bagi blogger khususnya, maupun publik pada umumnya. Masa depan Indonesia, sangat ditentukan oleh pastisipasi warganya.

Cukup banyak jenis partisipasi yang dilakukan para blogger (baik pengelola blog maupun pelaku mikroblogging), dan pengguna media berpenyangga bandwidth. Gerakan Koin Prita dan dukungan terhadap Bibit-Chandra merupakan contoh nyata, betapa publik online menjadi kekuatan penekan baru, ketika partai politik dan politisi tak layak diharap.

Tapi, blogger dan publik online bukan kumpulan orang-orang yang memiliki kesamaan ideologi, gaya hidup, juga kelas sosial. Sangat beragam dan sangat cair sifatnya. Seorang dengan seseorang lain yang semula tak saling kenal, bisa bersekutu sebab ‘dipertemukan’ oleh kesamaan minat/sikap/topik tertentu.

Begitu juga sebaliknya, seseorang bisa menghasut publik online untuk memusuhi atau mendukung sesuatu dengan memanipulasi ketokohan atau menyelewengkan legitimasi sosial/akademik/kultur yang dimilikinya. Dalam ranah daring, itu pun soal biasa. Kalau suka yang syukur, andai tak suka ya monggo saja.

Berpijak pada keberagaman latar belakang minat dan sikap publik online itulah, event semacam Pesta Blogger layak diharap. Dan bagi pengharap sepicik dan senaif saya, sangat mudah berbalik menjadi pembenci kala harapan tak terpenuhi. Semestinya, orang seperti saya tak boleh kecewa sebab orang seperti Enda, Ndoro dan Iman, saya tahu bekerja hanya secara sukarela, karena didorong kecintaannya kepada Indonesia.

Pesta, kondangan, kopdar akbar atau apapun istilahnya, bagi saya sama saja. Yang lebih penting bagi saya hanyalah menjadikan peristiwa tahunan itu lebih bermakna, bagi siapa saja. Pada sebuah pesta perkawinan, misalnya, perhatian tamu tak seluruhnya dicurahkan untuk pengantin dan apresiasi kepada tuan rumah sebagai pengundang.

Sejak merencanakan datang, para calon tamu pasti berharap akan ketemu kolega atau teman lama. Sesi foto akan ditinggalkan, lalu dialihkan untuk bergerombol dengan orang-orang yang dirasa cocok untuk berbincang. Dan banyak terjadi, akan diperoleh teman/kolega baru pada forum-forum seperti ini. Tuan rumah dan mempelai akan happy akan kemeriahan perhelatan, para tamu juga tak boring karena tak dipaksa fokus pada sosok mempelai semata.

Pesta Blogger, pun demikian adanya. Memberi ruang bagi yang datang, bahkan untuk mojok sesuai minat, kesukaan dan pertemanan, adalah kebaikan. Sebab bukan partai, pun ia tak bisa ‘memaksa’ publik untuk berhimpun dan bersekutu. Cair dan bebas. Suka-suka, sesuai selera.

Mungkin Anda bertanya, untuk apa saya cerewet?

Sebab saya menaruh harapan. Harapan agar setiap pesta tak hilang jejaknya. Karena itu, harus diberi makna, termasuk menjadikan setiap pesta tahunan sebagai momentum yang tak mudah atau bisa dilupakan. Soal cara, rasanya bisa dirembug, didiskusikan dengan terbuka. Katanya generasi web-two-O, masak gak bisa?

Seperti kemarin, misalnya, akan menarik kalau Prita tak cuma (maaf) dipajang sebagai ‘seleb’ lantaran telah dianiaya oleh keberpihakan hamba hukum yang keliru. Andai Pesta Blogger 2009 mengeluarkan petisi atau seruan agar penguasa tak semena-mena, mungkin tak akan muncul RPM Konten Multimedia yang kontroversial itu. Penguasa tak memperhitungkan (apalagi takut) warganya, sebab kita pun sering lekas melupakannya.

Di mana-mana, penguasa akan sangat suka bila warga negaranya alim, pendiam, tidak neko-neko, tak banyak menuntut dan banyak lagi. Apalagi, di negeri yang demokrasinya sedang tumbuh seperti Indonesia, di mana elit-elit politiknya terlalu lama hidup dalam budaya politik pamer kuasa, masih ingin meneruskan tradisi lamanya.

Kita tahu, mobilisasi massa dengan watak premanisme yang melekat pada mereka masih dipertontonkan elit politik saat merasa diusik kepentingannya. Dengan dalih ‘menghindari kerusakan’, banyak dari kita memilih untuk menyingkir ketika preman bayaran (baik yang bertato maupun berjubah) datang menekan. Pada saat kita diam itulah para pencoleng tertawa dan berpesta pora merayakan kemenangannya.

Mumpung masih ada waktu, ada baiknya Pesta Blogger 2010 dirancang dengan melibatkan semua yang dianggap sebagai stakeholders-nya. Adakan jajak pendapat, baik kepada anggota-anggota komunitas blogger maupun publik yang lebih luas, termasuk apakah kata ‘pesta’ masih hendak dipakai atau ditolak. Itu pun dengan catatan, bahwa ajang ‘kopdar akbar’ itu masih milik para blogger.

Logikanya, kalau sebuah event itu milik blogger dan untuk blogger demi Indonesia, maka perancangnya seharusnya juga para blogger sendiri. Jangan sampai terjadi seperti pada sebuah pameran, di mana perancang acaranya adalah para pebisnis, yang sudah berhitung proyeksi untung dari sponsor dan tiket masuk pengunjung.

Kita patut becermin pada semangat persaudaraan yang dimiliki para blogger, yang ditunjukkan melalui aksi nyata saling sapa dan saling kunjung-mengunjungi, entah secara virtual maupun badaniah. Tak jarang, dari forum kopdar dadakan sekalipun, muncul beragam gagasan, meski biasa-biasa saja. Namun ada satu hal yang sangat terasa dan membekas dalam: kebersamaan…..

Eh, hampir terlupa. Kalau benar kata Pesta Blogger sudah bukan milik para blogger, ganti nama sajalah… Biarkan kata itu jadi milik pihak yang (mungkin sudah) membawanya ke ranah hukum HAKI, lalu bikin ajang pesta bersama, tentu yang lebih mblogger. Biar kegembiraan dan kebersamaan dialami dan dimiliki siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Tapi ingat, bukan yang beraroma Coca Cola!

Dipersilakan juga membaca beberapa tulisan terkait: Sumpah Blogger, Saatnya Blogger Bertindak, USA Butuh Blogger Indonesia,  dan Layang Blak Kotang (Bahasa Jawa)

15 thoughts on “Berharap pada Pesta (1)

  1. wah saya dukung penuh deh nek pakde bersedia mandegani pesta blogger!
    .-= Ndoro Seten´s last blog ..GREBEG SAMPAH 2010 =-.

    wow…!! tak mampulah awak nii…

    menurutku, teman-teman jakarta lebih tepat (kalau penyelenggaraan masih di ibukota seperti dimaui ‘pemilik’ hak cipta). kenapa? sebab pengorganisasian akan lebih mudah, dan pengurusan sponsor lebih mudah. tanpa sponsor, berat menyelenggarakan event sebesar itu.

    kita harus memikirkan kepentingan yang lebih besar, daripada suka-tak suka pada orang-perorang. gitu, Kang

    /blt/

  2. IMHO Pesta Blogger akan selalu jadi wahana, isinya mau apa monggo di inisiasi oleh yang ingin menginisiasi, justru karena blogger itu sudah sangat beragam dan tidak ada yang berhak memaksakan agendanya

    Maka itu, dengan senang hati jika saat PB 2010 misalnya, ada kelompok blogger anti sensorship, membuat pernyataan, grup blogger mendukung jupe, membuat dukungan, pasukan blogger siap dugem, mempromosikan ajang ajep2x

    Monggo dikonsep, diorganisir, nanti PB 2010 bisa jadi panggungnya.
    .-= enda´s last blog ..Biografi Heath Ledger =-.

    betul, Kang Enda. jagad blogger itu sangat beragam, dan itu asyik. karena komplitnya latar belakang, minat dll itu, memungkinkan saling berbagi. yang satu belajar pada yang lain, dan sebagainya. mau seneng-seneng, suka jalan-jalan, hobi kerut-kening sama asyiknya pula.

    yang penting, bagaimana memaknai forum pertemuan agung. tentu, saya juga paham, tak mungkin sebuah niat baik akan menyenangkan semua pihak. apapun, yang dilakukan Kang Enda, Kang Wicak dan Kang Iman sudah sangat bagus. tinggal dilanjutkan dan disesuaikan…

    /blt/

  3. Ben

    Pemikiran yang menarik! 🙂

    Eh, tapi alinea terakhirnya tdk kalah menarik… he he he 😉

    biar gak Amrik banget. gak kapitalistik gitu, lohh…
    /blt/

Leave a Reply