Kriminal Terhormat

Menjadi seorang kriminal itu mudah. Yang tidak gampang adalah ketika menjadikan tindak kriminal sebagai profesi. Perlu kesungguhan dan totalitas untuk bisa terhormat di tengah masyarakat, supaya bisa memperoleh predikat profesional. Kalau tataran ini tercapai, semua urusan jadi mudah.

Ketika sedang makan di sebuah restoran di Solo, saya bertemu seorang teman secara tak sengaja. Datang sendirian, dia bilang sedang menunggu bos. Tak lama kemudian, dua polisi berpakaian preman memasuki restoran diikui seorang lelaki paruh baya yang datang mengendarai sedan warna gelap, dikawal satu sedang patroli polisi.

Oo.. rupanya, bos yang dimaksud teman tadi adalah kriminal profesional. Kiprahnya terasa di mana-mana. Ia pernah menjadi sinterklas yang suka bagi-bagi proyek karena posisi ‘setengah resmi’-nya di sebuah kementrian. Pada saat lain, orang itu mengacau di dunia politik dengan kekuatan uang. Kini, dia meringkuk di penjara, meski saya tak yakin ia menderita di sana.

[Yakin tak menderita di penjara, sebab saya pernah mendengar –tepatnya kesaksian yang mendekati valid, luasnya jaringan si profesional itu. Dia banyak bergaul dengan petinggi-petinggi partai politik, jenderal polisi dan militer, juga kalangan mafia peradilan, baik yang di wilayah kehakiman maupun kejaksaan]

Sebagai kriminal, ia biasa tampil terhormat. Ada di forum-forum resmi kenegaraan hingga wilayah keagamaan. Kaki tangannya tersebar di mana-mana. Di daerah, ia ‘punya’ wartawan juga aktivis lembaga swadaya masyarakat yang cerewet pada korupsi, walau sejatinya bukan orang bersih. Pokoknya, top!

Kalau menyimak sepak terjang kriminal penggangsir duit negara yang ke mana-mana tampil mulia, maka saya tak heran menyaksikan perlakuan istimewa terhadap seorang tersangka kriminal seperti Gayus H. Tambunan. Koruptor gurem berkekayaan puluhan miliar saja dijemput polisi bintang tiga dan staf-staf khusus dari lingkaran istana negara.

Simak saja pernyataan Denny Indrayana, yang menyukai diksi kooperatif terhadap para tersangka pelaku kriminal. Seorang tersangka kasus korupsi saja masih dihormati setinggi langit dengan menyebut kooperatif ketika mau diperiksa. Pejabat-pejabat lembaga kepolisian dan kejaksaan pun disebutnya kooperatif saat mau memberi informasi kepada anggota Satuan Tugas Mafia Hukum bentukan presiden.

Saya bingung, kata kooperatif yang seharusnya dilekatkan pada subyek-subyek yang setara pada sebuah bentuk hubungan/relasional, namun justru dilekatkannya pada begundal kriminal. Sudah seharusnya, seorang tersangka atau pelaku kriminal nurut pada pemeriksa atau penyidik. Kebohongan dan penyangkalan sudah ada konsekwensi hukumannya.

Begitu pula Satgas Mafia Hukum yang bekerja atas nama presiden/kepala negara, sudah selayaknya memperoleh haknya untuk mengakses informasi dari lembaga-lembaga negara hingga pada batas-batas tertentu. Kepolisian yang kedudukannya di bawah presiden, misalnya, wajib menyerahkan data/informasi jika diminta. Sehingga, kata kooperatif memberi kesan seolah-olah keduanya berdiri sama tinggi, dengan kepentingan berbeda satu sama lain.

Sungguh penggunaan istilah yang menggelikan, bila seorang Gayus yang terindikasi memperkaya diri dengan kedudukannya di Kantor Ditjen Pajak dan lantas melarikan diri masih disebut kooperatif. Denny bahkan tak mau menyebutnya sebagai penangkapan atau menyerahkan diri. Sebuah ironi bagi seorang doktor dan peneliti pada lembaga kajian antikorupsi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Denny, rupanya masih menggemari eufemisme politik ala Orde Baru. Saya tak tahu bagaimana ia akan menjelaskan makna kooperatif itu ke dalam Bahasa Inggris ketika berhadapan dengan jurnalis-jurnalis asing. Atau, mungkin ia tetap akan menggunakan cooperative demi memancing tawa media asing.

Ada baiknya, kita membuka-buka kembali berita saat Denny dan kawan-kawannya melakukan inspeksi mendadak ke rumah tahanan di mana Artalita Suryani memperoleh perlakuan mewah di dalam penjara. Seingat saya, ia juga menyebut Artalita sebagai sosok yang kooperatif pula.

Di Indonesia, memang lebih enak jadi kriminal profesional. Martabatnya tetap ‘terhormat’ karena aparatur negara juga rajin membantu ‘menghormatkan’. Maka, jangan tanggung-tanggung melakukan tindak kriminal seperti maling ayam, mencuri motor, memetik semangka di kebun tetangga, apalagi dengan alasan cuma untuk biaya sekolah, apalagi sekadar mengganjal perut yang lapar.

Petinggi-petinggi Republik Indonesia, sepertinya malu kalau punya penjahat-penjahat kelas recehan. Mungkin kuatir dianggap bukan bangsa hebat dalam percaturan internasional. Kalau Jepang bisa punya Yakuza dan Cina punya Triad, kenapa Indonesia tidak? Indonesia kan juga naga Asia yang harus diperhitungkan….

5 thoughts on “Kriminal Terhormat

  1. Mr.Nunusaku

    Wong dasarnya aja dari kelahiran maling, kalau bapanya maling sudah tentu yang dilahirkan menjadi anak maling. Bangsa kita ini memang kualitas budaya maling keturnan budak budak maling, lihat aja saat bapakmu mantan Soeharto memengang kekuasaan untuk merampok harta negara. Karena anak-anaknya juga keturunan maling dari bapanya, Tomy anaknya menjadi kriminal maling terbesar dan kehidupan keluarga cendana hasil kekayaannya dari maling harta negara.

    Generasi penerus tetap melakukan hal yang sama untuk menjadi malig yang dihormati, karena bapak-bapaknya telah memberikan teladan maling yang harus diperjuang demi kehidupan mereka. Tanpa dasar maling yang akan dipraktekan, mereka akan terhina menjadi manusia kere selamanya.
    Ini mas budaya wong Jowo yang kita harus tekuni dalam memperkaya diri menjadi ‘MALING YANG DIHORMATI”. Loh kok maling harus dihormati peye mas ? wong sugu gurunya sudah memberikan teladan bagi anak-anak cucunya
    harus tetap menjadi maling yang dihormati. Lihat apa yang dilakukan Gayus H. Tambunan ini bari baru dapat dibilang maling profiniel.

    Memang Gayus H Tambunan sudah memikirkan hal-hal yang dia melihat selama ini dalam negara kriminal wong Jowo, Kalau bapak=bapak banyak melakukan hal yang tidak terpuji dalam kekuasaan untuk menjadi maling terhormat merempak harta negara…? mengapa saya harus menontonya seperti wang golek.

    Karena bapak-bapakku sudah melakukan menjadi maling terhormat sudah makmur hidupnya dengan hasil maling dalam kekuasaan, ya saya juga harus dapat melakukan hal yang sama menjadi maling terhormat, dan sudah saya praktekan membuat hidup dan istri saya bahagia, lihat saya kondisi badan saya bertambah gemuk dan selalu tersenyum dimukan aparat negara.

    Senyum Gayus H Tambunan mempunyai arti yang sangat dalam, menyindir bapak-bapakku yang telah memperatekan Maling terhormat.
    Haya hanya mengikuti teladan pendahu saya agar saya menjadi maling yang dihormati oleh pemimpin bangsa. Dengan istilah ‘GURU KENCING BERDIRI, SAYA KENCING BERLARI’. Kata Gayus H Tambunan karena kita hidup dalam NKRI dan kita harus menjadi NEGARA KRIMINAL YANG DIHORMATI OLEH BANGSA YANG BESAR, INDONESIA NAGARAKU BERSATU MENJADI MALING YANG DIHORMATI.

  2. “Saya bingung, kata kooperatif yang seharusnya dilekatkan pada subyek-subyek yang setara pada sebuah bentuk hubungan/relasional, namun justru dilekatkannya pada begundal kriminal. ”

    berarti ya memang setara (kelakuannya) dengan begundal itu pak…

Leave a Reply