Becermin pada PM dan DM

Hari-hari ini, dua bulan sudah saya memasuki alam kemajuan. Alhamdulillah, meski masih kerap meracau tapi merasa sudah sangat bahagia. Khas orang Jawa pedalaman, yang lantas besar kepala lantaran ketika merasa sukses menggauli adab orang kota. Genap dua bulan, saya tahu apa yang dimaksud DM. Dan, saya bangga walau helm lama jadi sesak dikenakan.

Sebelumnya, saya memang baru mengenal PM dan Inbox. Walau lama akrab dengan keduanya, nyatanya saya masih tergolong newbie bagi orang-orang yang melek informasi. Tapi, saya tak peduli. Jangan tanya soal gtalk, saya ndak ngerti. Begitu juga skype, saya lebih gak mudheng walau pernah punya flashdisk berbonus fasilitas gratis menggunakan selama setahun, sejak 2005.

Teknologi, memang selalu melahirkan kelas-kelas baru di dalam masyarakat. Sebagian, memang memperoleh banyak manfaat karena mereka melek betul akan teknologi, sehingga bisa mengoptimalkan perangkat berikut fasilitasnya. Sedang saya, dan banyak orang seperti saya, potensial tertinggal dari peradaban.

Kehadiran teknologi selalu menuntut konsekwensi. Jurang bisa terbentuk teramat dalam. Bagi mereka yang tak sanggup mengakrabi, bisa tertinggal sekian langkah. Sebaliknya, bagi yang cepat beradaptasi (tentu didukung kemampuan) bisa kencang berlari, lalu meninggalkan berkilo-kilo meter. Perajin tembaga yang sehari penuh mencipta, bisa kalah pendapatan dibanding seorang makelar (eh, sales marketing) yang hanya bekerja lewat telepon genggam.

Saya tak tahu, apakah Alvin Toffler sempat berfantasi bisa nge-Plurk, punya akun di Facebook atau malah rajin Twitter-an. Tapi, bahwa memiliki informasi akurat dan bernilai bisa dijadikan senjata untuk kaya dalam sekejap, kita (orang Indonesia) sudah disodori banyak contoh. Minimal, dari sepak terjang para makelar kasus (yang akronimnya jadi markus itu) yang hari-hari ini mendominasi jam tayang televisi dan halaman koran.

Mari berandai-andai. Ketika banyak pembuat kerajinan tangan yang bekerja dengan intensitas tinggi selama berpuluh-puluh tahun, bahkan dilabeli penjaga produk budaya segala, namun gagal mengakrabi pasar, lantas terdesak pendatang baru yang akrab dengan teknologi, apakah itu boleh disebut adil?

Kehadiran teknologi, seharusnya mendatangkan kemudahan dan perbaikan kualitas kehidupan. Bagi siapa saja, kapan saja. Evolusi bisa dipercepat dengan teknologi. Sama halnya dengan revolusi yang bisa jadi ‘hanya’ dampak teknologi.

Senang rasanya mendengar kabar, mulai tahun depan, pemerintah sudah mengobral wi-fi hingga menjangkau seluruh pelosok negeri. Konsekwensi baik dan buruk pasti terjadi. Tinggal bagaimana kita berkaca pada ekses-ekses kehadiran dan pemanfaatan teknologi yang telah terjadi selama ini: anak-anak akrab dengan pornografi, juga bocoran jawaban soal ujian akhir nasional yang cepat beredar dari siswa ke siswa lain.

Di mana peran kaum yang telah lebih dahulu melek teknologi? Ya, mari kita bersama-sama meniatkan diri untuk berbagi: yang pinter ngajari yang belum pinter, yang merasa bodoh seperti saya, ya tak usah ragu bertanya…..

2 thoughts on “Becermin pada PM dan DM

  1. Sekarang ini, ibaratnya teknologi sudah jadi nyawanya kehidupan. Ndak melek teknologi berarti ndak bisa hidup. Padahal teknologi harus digunakan secara arif agar tak berbalik merugikan diri sendiri…
    .-= mawi wijna´s last blog ..Yuk Bikepacking! =-.

Leave a Reply