Santri Belajar nge-Blog

Selasa (23/3) menjadi hari celaka buat saya. Diminta turut mem-provokasi blogging, sejatinya sungguh menyenangkan. Sayang, kali ini saya kesandung: ngajarin 100 guru (ustad) yang berasal dari seluruh perwakilan Pondok Modern Gontor, plus sejumlah pondok di Ponorogo. Soal salah kostum yang saya sengaja sejak mula, namun kikuk juga buntutnya. Apalagi, materinya cukup berat, seputar berinternet secara sehat dan etika di dunia maya.

El Nino, èlèk-èlèk ning nongol!

Ada beberapa pengalaman menarik yang bisa dipetik. Seorang ustad bercerita, akses internet sudah lama masuk di pondoknya. Hanya saja, masih sebatas kirim-terima surat elektronik (e-mail) plus baca-baca berita. Facebook masih ‘diharamkan’ sehingga diblok, agar tak bisa diakses.

Citra negatif, rupanya masih menempel di benak pengelola pondok atas media jejaring sosial yang satu ini. Tak bisa disalahkan, meski tak sepenuhnya bisa saya terima alasannya. Adanya sejumlah perempuan remaja yang ditipu sehingga terampas kehormatannya lantaran kurang hati-hati ber-Facebook dan maraknya pornografi yang disebarluaskan oleh sebagian orang, masih menjadi pertimbangan kebijakan demikian.

Teknologi bagai belati. Dua sisinya tak bisa saling ditiadakan. Bagi tentara di medan perang, belati menjadi penentu hidup-mati ketika peluru tak lagi tersisa di kotak magasin. Tapi bagi pencuri, ia akan menggunakan senjata itu untuk menakut-nakuti, bahkan membunuh siapapun yang memergoki aksi kriminal mereka.

Mau berlaku sebagai tentara atau kriminal, bisa situasional, meski tak jarang pula yang menjadikannya sebagai sikap. Cukup berbekal sedikit niat, seseorang bisa membuat kiamat atau mencatatkan manfaat.

Dalam kasus persebaran pornografi, misalnya, tak melulu dijumpai di website atau blog. Lewat mailing list atau surat elektronik, pun bisa disebarluaskan secara massal. Bahkan dalam waktu sekelebat, menembus batas ruang dan waktu. Komputer yang kasat mata dan teknologi internet yang ghoib, bisa menghadirkan fakta apa saja: teks, media dengar atau media pandang-dengar ke hadapan siapa saja. Dengan mengunduh lalu menyimpan berkasnya, ia bisa beredar sedemikian rupa.

Sudah diniati bohemian, tapi sempat ngeper juga ketika menjadi satu-satunya pembicara berkaos, sementara peserta rapi jali, bahkan tak sedikit yang berdasi...

Ketakutan akan penyalahgunaan informasi tentang seks misalnya, sejatinya bisa diantisipasi sedemikian rupa. Orang tua atau yang lebih dewasa tak cuma harus mengawasi penggunaan teknologi oleh yang lebih muda, atau kanak-kanak, namun sebaliknya harus memperkenalkannya sejak dini. Ketidaktahuan akibat kurang pengajaran justru memancing rasa ingin tahu. Dan, secara naluriah, seseorang akan  mencari jawaban terhadap berbagai hal yang dilarang. Kita tahu, salah satu ciri pokok manusia terdapat pada hasrat ingin tahunya.

Kembali pada persoalan santri nge-blog, peristiwa pelatihan di Gontor, kemarin, sungguh menggembirakan saya. Apalagi, dari 100 peserta, baru tujuh orang yang mengaku punya blog. Kegembiraan itu dipicu oleh spirit mereka, yakni ingin syi’ar atau berdakwah melalui media online. Tentu, dakwah tak bisa dimaknai sebatas soal-soal teks agama belaka. Mengabarkan kebaikan, berbagi ilmu pengetahuan dan saling tukar gagasan atau pengalaman merupakan bentuk syi’ar pula.

Kerja Mbah Google dan kerabatnya (sesama mesin pencari), misalnya, membutuhkan kata kunci-kata kunci yang diproduksi oleh narablog (blogger, pengguna media online). Semakin sedikit kata kunci kebaikan yang bisa ‘diingat’ Mbah Google, maka pada saat yang sama, informasi-informasi buruk, penuh mudharat, akan mendominasi.

Satu-satunya cara mengurangi angka kemunculan (probabilitas) kata kunci ‘jelek’, ya itu tadi, tergantung sejauhmana pertumbuhan jumlah narablog, dan dari mereka, seberapa banyak yang mau memproduksi hal-hal berbau ‘syi’ar’ tadi, agar Si Google tidak menyodorkan referensi tak baik yang dimilikinya.

Satu hal yang harus diingat, Mbah Google, Pakdhe Yahoo, Tante Altavista dan lain-lainnya, punya kesamaan tak terbantahkan: tak beragama, tak punya moralitas. Mereka adalah ‘sosok-sosok’ bebas nilai, seperti balita yang punya daya ingat namun belum punya kepekaan rasa dan kekuatan penalaran.

Ketika kita memasukkan kata kunci seperti Islam, ustad atau pesantren, di mesin pencari Google atau Yahoo! misalnya, bisa jadi yang disodorkan selalu informasi yang tak kita suka, yang menyesakkan dada karena si mesin selalu menyodorkan hasil pencarian pada Islam dan/atau muslim yang terafiliasi dengan Bom Bali, terorisme, dan cap-cap buruk lainnya.

Semoga kekurangan saya melahirkan hikmah bagi mereka, sehingga bisa menghasilkan blog yang jauh lebih baik dari yang saya punya

Asal tahu saja, mesin pencari selalu meng-indeks setiap kata kunci yang dicari siapapun, dan dari mana saja. Semakin sering diminta atau ditanyakan, semakin besar peluang sebuah tautan (link) ditempatkan di halaman awal dan posisi atas. Padahal, pemberitaan tentang teroris, misalnya, selalu diulang-ulang oleh banyak media, baik media massa yang meng-online­-kan isinya, maupun ‘penerbit-penerbit’ independen yang disebut blogger.

Relakah kita bila Mbah Google dan kerabatnya hanya mengingat sisi buruk dari agama kita? Jika jawaban kita ya, maka pilihannya hanya dua: tobat atau terpaksa masuk neraka. Selamanya!

(Selamat nge-blog, saudara-saudara. Silakan manfaatkan budi baik Republika dan Telkom yang menyelenggarakan pelatihan bertajuk Santri Indigo. Syi’ar merupakan kewajiban, karena itu, Gusti Allah menawarkan ganjaran)

*** Foto-foto dibuat oleh Dony Alfan

17 thoughts on “Santri Belajar nge-Blog

  1. Syiar…, ya dimanapun kita bisa syiar.
    Mudah-mudahan Umat (khususnya santri )jadi dewasa dan terus lebih dewasa dalam menyikapi perkembangan dunia maya.
    Adanya internet, google, blog, fb dan se”nasab”nya pasti ada asas kemanfaatan.
    Bekali diri, saring informasi, kuasai kata kunci and let’s go to blogging……
    .-= Sunthree´s last blog ..Software Penghitung Zakat =-.

  2. secara mendadak, pak dhe blontang poer niki jadi ustadnya ustadz! ngajari ustad-ustad lama di pondok gontor yang punya semangad ‘ekstrim’ buat menyiarkan agama islam lewat media online.
    weleh, salut pak!
    terimak kasih pak atas kunjungannya. . mampir sebentar ke halaman sederhana blogger warok kemaren! merasa tersanjung karena di sembatkan sebentar buat bersilaturahmi dengan blogger ponorogo yang masih cupu seperti saya.
    semoga sesama blogger saling punya ikatan batin persaudaraan.

  3. Uasyik mbah gaya sampean presentasi. aku cuka banget yang seperti itu. salam buat mbah dan temen2nya, moga makin kecanduan aja ma dakwahnya. sarannya baut blog aku, biar seperti punya mbah. Terima kasih ilmunya, kalo main ke ponorogo…bilang mbah ya…. MAJU BLONTANK——MERDEKA

  4. Relakah kita bila Mbah Google dan kerabatnya hanya mengingat sisi buruk dari agama kita? Jika jawaban kita ya, maka pilihannya hanya dua: tobat atau terpaksa masuk neraka. Selamanya!

    setuju dengan kalimat ini pak. mari kita tunjukkan sisi baik dari agama kita juga. jika bukan kita yang memulai siapa lagi?

  5. ternyata ini toh live report kemarin..
    tak kiro mendalami ilmu filsuf neng gontor…

    weleh, apa aku sangggup?!? abangan tulen, gitu loh… sekali-sekali live report gak masalah, ta?
    /blt/

  6. Saya setuju dengan: “Satu hal yang harus diingat, Mbah Google, Pakdhe Yahoo, Tante Altavista dan lain-lainnya, punya kesamaan tak terbantahkan: tak beragama, tak punya moralitas. Mereka adalah ‘sosok-sosok’ bebas nilai, seperti balita yang punya daya ingat namun belum punya kepekaan rasa dan kekuatan penalaran.”

    tapi maaf, saya kurang sepndapat dengan: “karena itu, Gusti Allah menawarkan ganjaran”
    saya rasa, Tuhan tak sekapital itu…

    tak apa-apa. mungkin lata sambung yang saya pakai, karena itu, kurang tepat. Tuhan memang tak mungkin kapitalis, tapi Tuhan menawarkan/menjanjikan pahala bagi orang-orang yang mengabarkan kebaikan…..
    /blt/

Leave a Reply