Damai Sony dengan Sony

Sebagai peminat ilmu komunikasi, termasuk public relations, saya salut dengan langkah Sony Corp. dalam menyelesaikan sengketa domain dengan Sony AK. Kehadiran Presiden Direktur Sony Indonesia dalam proses mediasi dan pernyataan permintaan maaf dari Vice President Sony Corp. Jepang menunjukkan keseriusan korporasi itu mencegah krisis berkepanjangan.

Solidaritas publik Indonesia terhadap Sony Arianto Kurniawan di situs jejaring sosial Facebook yang mencapai 14 ribu pendukung pada Rabu (17/3), bukan tak mungkin bisa menggelinding menjadi bola salju. Ujungnya, selain citra Sony Corp. bisa ambruk. Omzet penjualan pun bukan tak mungkin tergerus andai insiden Goliath versus David berbuah sentimen hingga boikot produk.

Saya seperti diingatkan kembali pada materi pelatihan PR di Yogyakarta awal 1990, tentang langkah-langkah strategis yang harus dilakukan sebuah perusahaan multinasional ketika produk susunya diisukan mengandung lemak babi. Semua mafhum, betapa sensitifnya isu lemak babi di sebuah pasar yang mayoritas terdiri umat muslim.

Kata Ainur Rofiq, praktisi Fortune PR yang mengajar sesi Manajemen Krisis, salah satu rekomendasi konsultan PR terhadap perusahaan tersebut adalah bagaimana meyakinkan umat Islam di Indonesia, bahwa produk tersebut bebas dari unsur haram yang harus disingkiri umat Islam. Maka, langkah jitu yang ditunjukkan kepada publik adalah beberapa tokoh Islam (kalau tak salah dari MUI Pusat) meminum susu yang ditayangkan televisi.

Namun, proses meyakinkan ulama pun bukan soal mudah. Perusahaan itu harus mencarter pesawat untuk menerbangkan mesin khusus (kalau tak salah) dari Swiss dalam waktu hanya 24 jam. Melalui mesin itu, unsur apa saja dalam proses produksi susu bisa ketahuan. Begitu kira-kira. Saya percaya, sebab Mas Ainur ketika itu terlibat dalam proses pengambilan keputusan pencegahan krisis tersebut, sebab perusahaan tempat dia bekerja merupakan konsultan produsen tersebut.

Dalam kasus Sony Corp. versus Sony AK, tampaknya pokok soal bermula dari firma hukum yang menjadi lawyer Sony Corp. di Indonesia. Dugaan saya, firma hukum itu mengambil langkah ‘kebablasan’ karena hanya memberi dua opsi yang semuanya memojokkan Sony AK. Mereka lupa menelisik content situs pribadi yang dikelola praktisi IT itu, yang nyata-nyata tak berpotensi merugikan nama baik Sony Corp. , Sony AK bahkan tegas menyatakan bahwa situsnya, Sony AK Knowledge Center is not related to or affiliated in any way with Sony Corporation Japan.

Langkah Sony Corp. tidak lagi melibatkan firma hukum tersebut dalam proses mediasi dengan Sony AK mengindikasikan keseriusan raksasa elektronik global itu ‘mencuci tangannya yang sempat ternoda’. Pernyataan Sony Corp. bahwa Sony AK dipersilakan tetap mengelola domain-nya sony-ak.com juga mempertegas siapa sesungguhnya yang lebih berhak atas domain tersebut, sekaligus pengakuannya terhadap kedaulatan hukum Indonesia serta perlindungan hukum atas sebuah hak atas kekayaan intelektual (HAKI) yang dimiliki secara sah oleh Sony AK.

Berakhirnya sengketa dengan win-win solution itu, jelas memberi dampak positif bagi citra Sony Corp. Perusahaan itu tak jadi terjerembab ke jurang krisis, termasuk ada tanda-tanda terbebasnya korporasi multinasional itu dari potensi kerugian akibat menyusutnya omzet penjualan. Banyak orang tahu, banyak produknya masih favorit di pasar konsumen kamera digital, telepon genggam, televisi, hingga kamera videonya, yang hingga kini masih menjadi salah satu produk terbaik di dunia.


10 thoughts on “Damai Sony dengan Sony

  1. hampir ilfil sama sony corp. hehe, masak perusahaan raksasa gitu hanya mengurusi hal yang gak ada sangkut pautnya sama produksinya. tapi untunglah sudah selesai.

  2. jadi prihatin ama yang udah membabi buta (bukan sekedar emosional) mengajak boikot semua produk Jepang dengan alasan nasionalisme di grup pesbuk itu..
    apakah boikot selalu menjadi pilihan utama terhadap semua kasus yang ternyata bisa juga ter-solution dengan win-win..

Leave a Reply