Bila Sony Somasi Sony

Blog pribadi Sony Arianto Kurniawan, tempat berbagi pengetahuan yang menyenangkan

Kalau tidak hati-hati, somasi Sony Corporations terhadap Sony Arianto Kurniawan bisa berbuah petaka. Tak cuma kredibilitasnya yang sudah mapan puluhan tahun bisa mendadak turun, bukan tak mungkin dampak penjualan akan terpengaruh secara signifikan. Satu hal yang kerap terlupakan, Indonesia itu dihuni oleh mayoritas bangsa yang paling mudah bersimpati.

Faksi PDI yang kini menjelma PDI Perjuangan, misalnya, tak bakal mendapatkan kemenangan gemilang pada pemilu 1999, andai rezim Soeharto dan militer tidak melakukan represi berlebihan terhadap Megawati Soekarnoputri. Darah Soekarno yang mengalir di tubuhnya menjadi energi luar biasa untuk dijadikan modal perlawanan terhadap Soeharto.

Kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono pada Pemilu 2004, juga terdongkrak oleh simpati publik lantaran Taufik Kiemas, suami Presiden Megawati membuat pernyataan yang bernada melecehkan mantan pembantu Megawati itu. Publik menganggap pernyataan Taufik Kiemas tidak pada tempatnya, apalagi dilakukan menjelang pemilu, dimana istrinya ikut berlaga melalui pemilihan umum secara langsung.

Intinya, arogansi menjadi kata kunci yang tak bisa diabaikan begitu saja, oleh siapa saja. Jangankan urusan merek dagang atau produk industri, dalam politik di mana dukungan irasional masih bisa dijumpai saja, orang masih bisa berpaling muka, bahkan berbalik arah.

Menurut saya, tindakan raksasa elektronik dunia asal Jepang dalam melakukan somasi tehadap blogger seperti Sony tak ubahnya menggali kuburannya sendiri. Apalagi, urusannya hanya soal sepele: domain!

Sepele, sebab dalam dunia perdagangan bebas dan tanpa batas, upaya memiliki alamat situs atau domain bisa dilakukan siapa saja, dan bisa dibeli dari mana saja. Prinsip siapa cepat dia dapat, pun masih berlaku hingga kini. Prosesnya pun tak rumit, bahkan hanya butuh waktu beberapa menit.

Ada beberapa potret kelemahan bila Sony Corporations ngotot ingin menguasai domain sony-ak.com, apalagi bila menempuh jalur hukum.

Menurut saya, adalah kelengahan manajemen Sony Corp. yang sejak dini tidak berusaha menguasai sebanyak mungkin domain yang terafiliasi atau memungkinkan terbentuknya asosiasi publik akan brand, baik menyangkut produk maupun induk perusahaan. Nilai satu domain, jelas tak berarti bagi perusahaan raksasa yang produknya berebaran di seluruh dunia itu.

Andai Sony Arianto Kurniawan hanya memarkir domain yang dibelinya, untuk suatu saat bisa dijual dengan penawaran harga berlipat-lipat, pun merupakan tindakan yang sah-sah saja. Paling, kriminalisasi yang bisa dituduhkan terhadap Sony Arianto Kurniawan hanya dan hanya jika, seorang IT Specialist di sebuah perusahaan swasta itu menggunakan domainnya untuk menampilkan materi yang merugikan Sony Corp.

Discalimer atau pernyataan resmi Sony Arianto Kurniawan yang menegaskan bahwa situs yang dikelolanya tidak ada keterkaitan dengan Sony Crop.

Kenyataannya, nama domain itu sangat identik dengan nama dirinya, dan konten di dalamnya berisi panduan dan pengetahuan yang bermanfaat bagi orang banyak. Artinya, tak tampak indikasi Sony Arianto Kurniawan hendak menyalahgunakan nama domainnya untuk merugikan pihak lain. Pernyataan di bagian bawan website-nya pun cukup tegas, bahwa situs itu tak ada hubungan atau keterkaitan dengan Sony Corp.

Karena saya meyakini tindakan somasi Sony Corp. sebagai bentuk arogansi dan intimidasi terhadap Sony Arianto Kurniawan, secara terbuka, saya menyatakan dukungan agar Sony Arianto Kurniawan mempertahankan kepemilikan sampai ‘titik darah penghabisan’. Saya pun menyerukan kepada semua blogger, pengguna online dan publik lebih luas untuk memberikan dukungan kepada Sony Arianto Kurniawan.

Kapitalisme, selalu menampakkan wajah ramah ketika membutuhkan publik luas sebagai pasar. Namun pada gilirannya, ia bisa berubah menjadi raksasa yang menakutkan, apalagi ketika berhadapan dengan pihak yang dianggapnya remeh, tak berdaya. Asal kita ingat, Indonesia merupakan pasar potensial bagi produk-produk Sony Corp.

Tampilan sony.com ini merekomendasikan agar kita memilih situs-situs yang terafiliasi dengan induknya

Produk seperti kamera digital, telepon genggam, televisi hingga kamera video, masih banyak diminati di sini. Semoga, Sony Corp. ingat bagaimana sedihnya Soeharto terjungkal, Megawati dikalahkan SBY, dan yang terakhir, walau tak sama namun mirip, bagaimana koin uang receh bisa terkumpul hingga ratusan juta dalam waktu beberapa hari saja.

Apa yang mendorong munculnya gerakan-gerakan perlawanan itu? Tak lain dan  tak bukan, hanya kesewenang-wenangan, arogansi, dan ketidakadilan.

Sony Arianto Kurniawan, ibarat semut yang diinjak gajah. Pertandingan tidak seimbang akan melahirkan simpati dan dukungan secara bergelombang. Spiritnya sama, arogansi harus dibuat tumbang…..

Baca juga info terkait, tentang kerisauan Sony Arianto Kurniawan di sebuah forum dan Sony Agresif Buru Nama Domain, Lalu Dianggurin

12 thoughts on “Bila Sony Somasi Sony

  1. saya setuju sekali dengan pendapat panjenengan :”Satu hal yang kerap terlupakan, Indonesia itu dihuni oleh mayoritas bangsa yang paling mudah bersimpati.” dua contoh di bawahnya juga tepat sekali menggambarkan kondisi tersebut. parahnya lagi, tidak semua orang sebenarnya punya simpati, kadang cuma ikut2an…

Leave a Reply