Blogger Press Tour

Mengumpulkan ratusan blogger dalam satu event bukan persoalan mudah. Tak hanya menyangkut konsekwensi pembiayaan, namun pengorganisasian peserta merupakan persoalan paling rumit. Andai cuma belasan orang, mungkin masih bisa dianggap gampang. Bagaimana kalau sudah mencapai ratusan orang? Di situlah letak tantangan.

Nopy van TPC siap memimpin piknik jurnalis warga alias blogger

Amprokan Blogger yang digelar 6-7 Maret lalu, merupakan bukti kesuksesan BeBlogger. Dari sisi pembiayaan, mungkin tak ada soal. Walikota Bekasi Mochtar Mohamad terbilang jor-joran memanjakan blogger yang datang dari berbagai kota di Jawa, serta sejumlah utusan dari Pekanbaru, Pontianak, Padang dan Banjarmasin. Sedikitnya 310 peserta tercatat sebagai peserta, sehingga lima bus harus dikerahkan untuk keliling kota secara konvoi.

Pesta penyambutan blogger luar kota dimeriahkan dengan hiburan grup band empat perempuan enerjik Delilah serta Iyeth Bustami, pelantun tembang Laksmana Raja di Laut. Penampilan artis-artis papan atas –yang tentu tak murah kontraknya itu, seperti menjadi puncak kemewahan pesta.

Malam ramah-tamah itu bagai pelemas syaraf yang tegang dan melelahkan setelah seharian para blogger diajak berkeliling kota. Dari mengunjungi monumen perjuangan yang berdekatan dengan Taman Pramuka, kampung perajin boneka, TPA Sumur Batu di Bantar Gebang (yang berhasil mengolah sampah menjadi energi listrik), serta meninjau kawasan industri Jababeka yang di tengah-tengahnya terdapat Botanical Garden, sebuah taman botani yang (tampaknya) belum terwujud seperti yang diangankan pengembang kawasan.

Interaksi total: blogger, tumpukan boneka dan kambing

Sungguh pertemuan blogger yang (menurut saya) sangat mewah. Apalagi, pada hari kedua, digelar sarasehan bertema dunia daring, yang menghadirkan tokoh-tokoh di bidangnya. Pakar telematika dan blogger kawakan Romi Satria Wibowo, Content Editor Yahoo! Indonesia, Budi Putra, staf khusus Depkominfo yang mewakilik Menteri Tifatul Sembiring yang urung hadir, pakar online marketing Nukman Lutfi, serta Kepala Pusat Data Elektronik Kabupaten Sragen yang datang mewakili Pak Bupati.

Acara pada hari kedua, rupanya justru lebih memunculkan antusiasme peserta dibanding gelaran hari pertama. Romi yang menyampaikan materi dengan riang dan asyik, juga Nukman yang bergaya cengengesan alias slengekan, justru berhasil menancapkan kesan mendalam pada benak peserta. Begitu pula paparan Budi Putra, bisa menjadi oleh-oleh yang sangat berharga.

Dari keseluruhan materi sharing gagasan para pembicara pada hari kedua, tertinggal satu hal yang mengganjal, kalau tak bisa disebut sebagai sebuah alpa panitia. Benang merah dari pernyataan para pembicara, semua menempatkan konten sebagai kritik utama. E-government, cybercity dan istilah-istilah berbau ‘kemajuan’, disorot masih menjadi semacam euforia. Sebuah daerah terkesan kuno dan tertinggal bila tak menyematkan unsur e- atau cyber yang berdekatan dengan nama sebuah kabupaten/kota.

Kita tahu, teknologi sangat mudah dipelajari atau diakrabi, dan tak terlalu mahal untuk dibeli. Yang justru mahal adalah persoalan akselerasi ketika masuk wilayah aplikasi atau penerapan teknologi. Blog atau website, misalnya, tak bermakna apa-apa sepanjang tak berisi informasi yang berarti.

Dan, bila sudah memasuki pada wilayah materi atau isi, di situlah persoalan sesungguhnya sudah menanti. Sebuah website resmi pemerintah kabupaten/kota, kadang berisi hal-hal yang membosankan. Baik dari sisi bahasa maupun sajian, yang sesungguhnya tak pernah jauh beda dengan buku-buku ‘pakem’ mereka, yakni (Nama Kota) Dalam Angka. Data jarang terbarukan, sehingga tak cukup ‘layak’ dijadikan rujukan (baik untuk keperluan riset akademis atau bahan perencanaan sebuah investasi), bahkan sekadar untuk panduan jalan-jalan.

Isi atau konten menjadi penting, sehingga seseorang yang membutuhkan informasi tertentu tak kecewa saat sudah susah-susah buang waktu untuk berkonsultasi dengan Mbah Gugel, atau mesin pencari yang memiliki banyak ragam kemampuan menemukan sesuatu berdasar kata kunci, frasa atau istilah-istilah populer tertentu.

Di balik rumah kumuh tersembunyi misteri: sampah plastik senilai Rp 3 miliar per hari, juga jual-beli karbon lewat duar ulang energi dari gas metana

Pada sisi inilah, saya (maaf) terpaksa harus menyampaikan kritik terbuka kepada BeBlogger, agar bisa menjadi masukan bagi komunitas blogger, lembaga swasta atau pemerintah. Strategi komunikasi yang bertumpu pada postingan blogger, baik melalui blog atau mikroblog, sangat dipengaruhi oleh penguasaan materi atas sesuatu hal bagi sang blogger.

Apa yang ter-indeks di mesin-mesin pencari seperti Google atau Yahoo! menjadi tak bermakna, bila materi sebuah postingan tak berisi apa-apa. Puja-puji, kritik dan (mungkin) cacian sama derajatnya di mesin pencari. Google, Altavista, Yahoo! atau apapun namanya, sama-sama tak punya perasaan, sehingga tak bisa memilah sebuah pujian harus ditempatkan pada posisi paling atas di halaman pertama sebuah hasil pencarian. Tidak! Mesin pencari tak bisa disuap atau diintimidasi!

Satu-satunya cara ‘mendikte’ mesin pencari adalah dengan memperbayak sajian positif. Pendekatan press tour seperti yang sering dilakukan sebuah public relations agency untuk banyak blogger, bisa jadi sia-sia atau kurang mengena. Seperti saat ratusan blogger mengunjungi perajin boneka, peninjauan lapangan di Bantar Gebang dan sebagainya, proses komunikasi menjadi kurang efektif.

Andai peserta dibagi ke dalam empat bus dan diarahkan ke lokasi-lokasi yang berbeda (Jababeka, Bantar Gebang, Taman Kota dan kawasan lain), mungkin proses pengenalan dan pengamatan sebuah perkara atau lokasi menjadi lebih intens. Dengan demikian, seseorang akan memiliki cukup banyak informasi untuk dijadikan bahan posting di blog masing-masing, sehingga pada gilirannya, akan diperoleh manfaat bagi Bekasi, sebagai obyek yang ingin lebih diperkenalkan potensi dan geliat perubahannya kepada publik dunia.

Janjinya sih industri rumahan, tapi sentuhan moderen tak boleh disalahkan, bukan?

Kita tahu, penguasaan materi sangat perlu sebelum seseorang mempublikasikan sesuatu, baik lewat gambar/foto maupun tulisan. Untuk mencapai itu, diperlukan suasana yang santai, dan bebas alias tanpa beban. Syukur, sebelumnya diberikan semacam panduan atau informasi awal mengenai apa dan bagaimana  Bekasi, dulu, kini dan apa yang diangankan pada masa depan. Satu yang terlupa, peserta Amprokan Blogger tak semua mengenal Bekasi dengan baik, termasuk saya.

Bekasi Bersih yang seperti apa, peserta tak punya pembanding dengan masa-masa sebelumnya, meski banyak komentar yang menyatakan, bahwa dulu dan kini sudah sangat jauh berbeda. Partisipasi Blogger untuk mempromosikan Kota Bekasi di ‘mesin pencari’ pun bakal sia-sia belaka, bila hanya karena ketidakahuannya, lantas membuat materi postingan seperti sekadar memenuhi tugas mengarang.

Teringat saya akan ungkapan Nopy, yang meski dimaksudkan sebagai canda semata, namun justru menemukan konteksnya. “Blogger, kok diatur…,” begitu kata Si Gendut asal Surabaya itu. Ratusan blogger yang ‘digiring’ pada satu lokasi sehingga berdesak-desakan bukan hanya berbuntut gaduh, namun juga berbuah komunikasi yang sia-sia. Satu hal yang membedakan blogger dengan jurnalis kebanyakan, adalah sisi kerelaan (liputan) dan proses penyuntingan hingga penyiarannya.

(Bila pers konvensional menggunakan pertimbangan-pertimbangan redaksional seperti skala prioritas, penentuan halaman dan luas ruang pemberitaan, dan sebagainya, maka blogger yang kerap mengidentifikasi diri sebagai pengembang jurnalisme warga cenderung mencatat dan mempublikasikan banyak hal tanpa banyak pertimbangan. Baik atau buruk, akan ditulis dalam kacamata sangat subyektif, sehingga memperoleh sebutan sebagai laporan testimonial.)

Penjelasan proses produksi kerajinan boneka atau proses daur ulang sampah yang mengandung metana (CH4) menjadi energi listrik sebesar 1.200 KVA dan 500 KVA di TPA Sumur Batu, mungkin tak tertangkap jelas. Apalagi menjelaskan hubungan Pemerintah Kota Bekasi yang memperoleh bagian 10 persen dari ‘kompensasi’ pembelian karbon oleh Pemerintah Belanda melalui pengelola sampah organik itu, padahal tak keluar dana sepeser pun.

Mungkin Anda paham, dan sebaliknya saya justru menjadi bingung menghubungkan cerita ‘rebutan’ sampah antara Bantar Gebang milik Kota Bekasi dengan Bantar Gebang yang disewa Pemda DKI dengan keberadaan Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (United Nations Framework Conventions on Climate Change/UNFCC) dan lain-lain.

Tanpa mbak-mbak Delilah ini, entah apa jadinya kami saat di Bekasi

Setahu saya, karbon itu ya hanya sejenis kertas berwarna gelap yang diletakkan di antara dua atau lebih kertas putih, sehingga sekali ketik, dua-tiga halaman ‘terlampaui’ seperti saat dulu coba-coba bikin skripsi. Kalau sekarang, sih, ingatan akan kata ‘karbon’ hanya  sebatas pada penempatan tembusan saat mengirim e-mail, baik yang terbuka (cccopy carbon) maupun sembunyi-sembunyi, yakni blind copy carbon, bcc!

Bagaimana menurut Anda? Semoga, nasib teman-teman tak seburuk yang saya rasakan, yakni bingung ketika hendak bikin postingan sebagai bagian dari catatan perjalanan. Namun demikian, terima kasih kepada teman-teman BeBlogger yang telah memanjakan kami. Semoga, pertemuan mendatang jauh lebih asyik lagi… Proficiat Blogger Bekasi!

6 thoughts on “Blogger Press Tour

  1. jarang orang mikir sampe ke hal detail kayak gini. kowe bener, mas. blogger susah sekali nulis kalo jalan2nya bareng2 seratusan orang, karena pengamatannya jadi tak mendalam. ini kritik yg bagus.

  2. wah kapan di Soloada kayak gini…..

    kalau tak ada halangan, insya Allah akhir Mei bisa bikin acara kecil-kecilan. semoga terlaksana. sukseskan lho, ya…
    /blt/

  3. Besok, Amprokan Blogger hanya boleh diikuti 10 peserta saja, biar lebih efisien. 😀
    Atau dipecah jadi kelompok kecil dengan pembimbingan dari blogger senior di setiap kelompok.
    Kalau tidak…beh…ini tak ubahnya darmawisata pas jaman sekolah dulu.

    diikuti 10 orang saja? sadis amat???
    menurutku, Amprokan Blogger yang diselenggarakan Blogger Bekasi merupakan ajang kumpul-kumpul blogger yang asyik sepanjang pengalaman berteman dengan berbagai komunitas blogger di berbagai kota, kecuali….. (titik-titik). ramah, bersahabat dan sederajat. tak canggung bergaul dengan blogger kampung seperti saya. tulisan ini hanya catatan semata, yang kutulis sesuka hati, setelah kusampaikan secara terbuka di forum sebelum penutupan acara.

    jalinan pertemanan dan persaudaraan semacam Amprokan Blogger kemarin, sangat memungkinkan untuk memperluas networking. blogger hanya manusia biasa, begitu pula komunitas. tak boleh kerdil, namun jangan sampai jumawa.

    istilah blogger senior juga sudah tak relevan disebutkan. apa ukurannya? semua sama. senior tapi tak update ya tak bermakna apa-apa. yunior tapi aktif dan kaya wawasan, justru lebih berhak tampil di depan. yang penting, semua bersaudara. ya, kan?
    /blt/

Leave a Reply