Politisasi Kata Solo

Ketika dimunculkan wacana istilah Solo sebagai pengganti Surakarta, saya bereaksi keras melalui blog ini. Saya tahu, kata Solo terasa lebih seksi dibanding Surakarta. Pengucapannya pun mudah, bahkan lebih enak didengar. Banyak yang melupakan ekses politisnya, namun ada yang menikmati karena punya kepentingan politik di balik wacana itu.

Kita tahu, pemilihan Walikota Surakarta sudah dekat. Melempar wacana penggantian Surakarta menjadi Solo bisa jadi bola api yang sanggup melumat ketentraman yang ada selama ini. Sentimen budaya basis tradisional Joko Widodo dan Edi Wirabhumi yang akan bersaing pada pemilihan itu bisa berubah menjadi konflik terbuka. Bukan tak mungkin, Pak Jokowi bisa tergusur kalau potensi konflik tak terkelola dengan baik.

Saya merasa tahu siapa si pelontar wacana itu. Secara subyektif, saya menduga kepentingan mereka sangat pragmatis, jangka pendek dan hanya untuk diri dan institusinya sendiri. Namun, pada sisi lain yang seolah-olah obyektif, tak lepas dari sejarah ‘pelacuran’ mereka selama ini, yang menurut saya cenderung anti terhadap banyak kebijakan Pak Jokowi.

Andai prasangka saya terhadap ‘kelompok’ itu terbukti benar, alangkah menyedihkan sikap dan tindakan eksperimentatif mereka. Pandai betul mereka mengelola isu sensitif, namun sangat strategis untuk melakukan delegitimasi pada sosok, yang beberapa saat lalu (dan sepertinya kini pun masih) tidak disukainya itu.

Mengapa saya menyebut lontaran isu Solo dan Surakarta itu sensitif menjelang pemilihan kepala daerah?

Edi Wirabhumi yang berasal dari keluarga Kraton Surakarta pasti akan memperjuangkan nama Surakarta tetap abadi hingga akhir zaman. Karakteristik masyarakat yang mayoritas abangan pun belum tentu rela bila Surakarta sebagai kiblat spiritual Jawa digantikan dengan Solo yang cenderung ahistoris.

Mungkin, mereka bukan pendukung Kanjeng Edi atau massa Partai Demokrat dan Partai Golkar yang mengusung menantu Pakubuwana XII itu sebagai calon walikota. Namun Surakarta sebagai identitas kultural dan kesejarahan, bisa jadi akan dibela dan mengerucut menjadi bentuk perlawanan terhadap Pak Jokowi, andai tim sukses incumbent tidak memiliki sensitifitas terhadap masalah yang satu ini.

Pak Jokowi yang diusung PDI Perjuangan, yang sebagian massa-nya juga teridentifikasi sebagai penganut kejawen, bisa-bisa ditinggalkan sebagian pendukungnya yang secara spiritual masih berorientasi ke poros Kraton Surakarta-Sunan Lawu-Nyi Roro Kidul. Politik praktis, kadang masih kalah pamor bila dihadapkan pada hal-hal berbau spiritual.

Coba, kalau sampai Pak Jokowi sampai dicitrakan sebagai pendukung penggantian SurakartaSolo, akan seperti apa jadinya? Bagi orang-orang yang berpikir terbuka dan memiliki wawasan memadai, bisa saja akan menganalogikan Surakarta sebagai nama perusahaan, sementara Solo menjadi produk dagangan. Sebaliknya, bagi yang berpikir sempit dan primordial-emosional, salah-salah mereka akan meyakini kebenaran sebuah persepsi atau opini yang dibangun rival politiknya, bahwa Pak Jokowi-lah pendukung perubahan identitas kultural nan sensitif itu. menjadi

Siapa yang menangguk untung? Tentu saja mereka yang suka bereksperimen, demi kepentingan subyektifnya sendiri. Namanya juga coba-coba, tak berhasil pun tak apa. Siapa tahu, mereka berhasil memenangkan sebuah perang opini, sambil berharap keberuntungan berpihak kepadanya.

So, bagi Anda yang menganggap Solo lebih seksi dibanding Surakarta, pertimbangkan kembali catatan singkat saya ini. Jangan ikut-ikutan tanpa alasan, apalagi kalau cuma berpikir demi branding, penyebutannya enak di kuping dan sebagainya. Jangan pula asal berargumentasi, bahwa pernah pada suatu masa ada bangsawan Kraton Surakarta berpihak kepada Koloniais Belanda, lalu mengubur fakta sejarah begitu saja.

Seorang anak yang lahir dari rahim pelacur tak akan pernah bisa mengatakan anak seorang ustadzah. Namun, ia tak berdosa karenanya, dan tak ada larangan ia berbuat baik, membangun masjid, menyuarakan kebenaran dan membangun peradaban.

Kecuali Anda seorang manusia kerdil, jangan sekali-kali mengingkari sejarah.

6 thoughts on “Politisasi Kata Solo

  1. Nama Surakarta dan banyak orang menyebutnya Solo. Itulah salah satu keunikan Solo.
    Berkaitan dengan pemilukada Solo beberapa waktu lalu terbukti pak Joko Widodo meraih suara dg persentase yang sangat tinggi. Ora mempan berarti Pakdhe aji-ajine lawan politike 🙂

  2. gezz

    Solo atau Surakarta adalah dua sisi mata uang. Sebuah nama terkait dengan sebuah wilayah tentu saja tidak bisa lepas dari sosio-historisnya yang memang melekat erat dengan pelaku sejarah saat itu. karena itu nama itupun menjadi tidak bisa dilepaskan dari makna dan realitas kesejarahan itu.

    Penggantian nama atau sebutan menjadi sah-sah saja adanya sepanjang realitas empirik menunjukkan atau menguatkan penyebutan yang baru itu. masalahnya bukan ahistoris atau historis, tetapi realitas empirik lebih banyak melihat pada sisi kepraktisan (kemudahan penyebutan) bukan pada urusan historis atau ahistoris tadi.

    Masalah ini menjadi rumit manaka kemudian dipolitisir oleh kelompok kepentingan untuk mendapatkan dukungan secara kultural, dan sentimen dari kelompok (taruhlah) kelompok tradisional dan feadal. salah satu calon nampaknya mempermasalahkan penyebutan dalam rangka menggalang opini, dan menuai simpati.

    Pembahasan masalah ini akan menjadi menarik manaka dilakukan bukan dalam ranah politik tetapi dalam konteks sosio budaya dan sejarah. Bukan untuk ajang mencari dukungan….

    sepakat sepenuhnya. tanggapan yang jernih dan mencerahkan…..
    /blt/

  3. dua2nya bisa dipakai secara bersamaan kok

    gak perlu ada pegantian nama

    seperti saya ini yang merantau
    ketika ditanya asli mana tentu saya menjawab solo
    karena orang2 tahunya solo
    kalau saya sebut surakarta pasti bingung
    karena di sini pun ada tempat yang namanya surakarta

    tapi ketika mengisi isian resmi dan sebagainya yang bersifat administratif, tentu saya tuliskan kan surakarta

    gak perlu ada pergantian nama

Leave a Reply