Prinsip Ekonomi Jokowi

Pak Joko Widodo akan maju lagi menjadi calon Walikota Surakarta untuk periode jabatan kedua, 2010-2015. Saya berharap kesuksesan berpihak sosok yang santun, rendah hati dan visioner itu. Dia layak memperoleh kepercayaan publik Surakarta atau Solo, untuk mewujudkan mimpi-mimpinya tentang kota yang menyejahterakan penghuninya.

Saya berani menyebut ‘layak’ bagi Jokowi –sapaan akrabnya,  sebab ia telah berhasil memajukan kota dengan cara yang sangat sederhana, namun tak setiap orang mau melakukan. Yakni, mengakrabi dan menyelami kehidupan dan harapan wong cilik, lalu berusaha keras memperjuangkannya.

Pedagang kakilima yang sering dianggap sampah perusak keindahan kota bagi kebanyakan penguasa kota, justru dimuliakannya. Pajak retribusi dari usaha sederhana beromset puluhan hingga ratusan ribu akan lancar ketika ada kesempatan berusaha dan menghasilkan laba.

Pada sisi itu, dia sudah mewujudkannya. Pasar-pasar direnovasi agar penjual dan pembeli nyaman bertransaksi. Dengan begitu, terjadi pemerataan rejeki. Pada sisi lain, orang seperti diingatkan untuk hati-hati membelanjakan rejeki di pasar-pasar moderen berpendingin ruangan, yang berada di balik gedung-gedung mewah menjulang tinggi.

Memenuhi kebutuhan rumah tangga tak mesti mendatangi mal dan pusat perbelanjaan mewah, yang harga jual barang-barang dan jasanya pasti lebih mahal akibat aneka pajak yang dibebankan kembali pada si pembeli. Masuk mal memang tampak bergengsi, tapi pesonanya kerap membuat orang mudah lupa memilah mana yang perlu dibeli atau dikonsumsi dan mana pula yang mesti dipertimbangkan kembali.

“Pembangunan pusat perbelanjaan moderen memang dibutuhkan karena pasarnya memungkinkan. Tapi perekonomian rakyat juga harus tumbuh, sehingga perlu strategi proteksi yang elegan. Semua pelaku usaha sama-sama punya hak untuk berkembang, namun tak boleh saling mematikan,” ujar Jokowi, suatu ketika.

Begitulah, terbukti kemudian, pasar tradisional tak begitu saja ditinggalkan masyarakat, meski pusat-pusat perbelanjaan moderen terus tumbuh signifikan. Satu-satunya ancaman yang merisaukannya, adalah menjamurnya minimarket waralaba yang membangun usaha di tengah-tengah permukiman padat penduduk, yang menggerogoti warung-warung kelontong milik perorangan.

Ia tak kuasa menghentikan bidang usaha yang ijinnya telanjur diberikan pemerintahan periode sebelum dirinya. “Saya bisa di-PTUN-kan kalau membatalkan ijin usaha mereka,” ujarnya.

Demi keindahan kota, ia pun menata pedagang kakilima. Dibuatlah shelter-shelter usaha dengan jaminan tingkat kenyamanan lebih dari sebelumnya, supaya tak berontak saat mereka harus memindahkan lokasi usaha. Pedagang tak perlu dibebani biaya, supaya tidak merasa dianiaya. Bila perlu, proses pemindahan juga dibantu, entah berupa subsidi tunai, maupun disiapkan semua sarana pengangkutannya. Promosi zona usaha, pun dilakukan untuk merangsang orang agar datang, dengan biaya ditanggung pemerintah kota. Fair.

Maka, kini bisa kita lihat wajah kota yang tak semrawut seperti masa-masa sebelumnya. Kebersihan tampak di mana-mana, sehingga sedap dipandang mata. Uniknya, ia melakukan itu bukan untuk mengejar penghargaan atau piala.

“Banyak penghargaan yang bisa diminta,” katanya, “tapi ada imbalannya. Dan, saya tak mau membeli piala atau penghargaan dari lembaga Negara, apalagi untuk sebuah kebijakan yang memang sudah seharusnya saya jalankan.”

Jokowi sangat rasional. Cara berpikirnya khas, selalu berhitung untung-rugi. Bedanya, ia tak mengejar laba demi penumpukan harta sebagai bagian dari penyelenggara negara.  Maka, tak kaget ketika saya mendengar kabar, ia menjual sebagian aset usaha miliknya, demi ongkos sosial-politik yang (tak seharusnya) ditanggungnya.

Politik memang kotor, tapi ia enggan ternoda oleh karena posisinya yang memungkinkan segalanya. Saya rasa, tak ada alasan bagi warga Kota Solo atau Surakarta untuk tak memilihnya kembali. Banyak potensi investasi yang sudah selesai dijajaki, tinggal menunggu realisasi. Dampaknya, lagi-lagi pada pemerataan kue ekonomi.

Sebuah kompleks konvensi dan eksibisi yang diperlukan untuk memajang produk-produk industri (moderen maupun tradisional) sudah dinanti segera berdiri. Kesempatan usaha rakyat di sekitar lokasi tadi, tak mungkin dihindari, sebab efek berantai pasti terjadi secara alami, seturut prinsip ekonomi: adanya penawaran karena muncul permintaan.

Ijin prinsip pendirian rumah sakit bertaraf internasional, kata Pak Jokowi, pun sudah diberikan kepada investor. Lokasinya, pun di kawasan yang selama ini terkesan terabaikan dan tertinggal dari pembangunan. Bila terealisasi, kelak, keberadaan rumah sakit itu juga membuat perekonomian warga sekitar lokasi ikut terdongkrak.

Bukan lantaran harga tanah yang jadi melonjak, namun –lagi-lagi multiplier effects, berupa kesempatan berusaha bagi warganya, dengan berjualan makanan atau kebutuhan lain sebagai contohnya. Kesempatan kerja juga kian terbuka, sehingga menurunkan jumlah pengangguran dan penduduk miskin di wilayahnya.

“Saya memang membatasi lokasi usaha di tengah kota. Warga yang tinggal di pinggiran kota tak boleh tertinggal kualitas hidupnya lantaran semua terkonsentrasi di kawasan-kawasan tertentu saja. Dalam hal begini, saya bersedia dikatakan keras kepala: pilih bekerja sama, atau tidak sama sekali!” kata Jokowi.

11 thoughts on “Prinsip Ekonomi Jokowi

  1. djaka

    Mas, bagaimana dgn transportasi (umum) Kota Solo? Sdh semakin semrawut lho, apalagi yg ke arah perumahan2 di solo baru, jaten, atau di sebelah utara. Jalan2 di solo perlu segera ditambah, atau kendaraan pribadi harus bisa ditekan pertumbuhannya.

  2. saya rasa ini merupakan kampanye terselubungkah???

    disebut kampanye terselubung juga boleh, kok. anggap saja ini testimoni saya sebagai orang yang mengagumi beliau…
    /blt/

  3. Ah ya, bantaran Bengawan Solo beberapa juga masih berupa pemukiman kumuh, bahkan penuh dengan sampah. Apa memang tak mungkin merevitalisasi bantaran Bengawan Solo agar elok kembali? PR juga nih buat Pak Jokowi.

    sepertinya, Pak Jokowi tahu persoalan itu. paling juga sudah punya formula untuk penyelesaiannya…
    /blt/

  4. keren sekali cara mempimpin pak Jokowi
    andai saya warga Surakarta, pasti saya milih dia
    jarang pemimpin yang berpihak pada pedagang kecil dan warga yg ‘ermasa’ terpinggirkan..

    smoga terpilih lagi..

    andai punya KTP Solo, mungkin tradisi golput bisa kusudahi…
    /blt/

  5. Rahmat

    (Dalam hal begini, saya bersedia dikatakan keras kepala: pilih bekerja sama, atau tidak sama sekali!” kata Jokowi.)

    PR yang belum selesai adalah kasus bantaran kali bengawan solo, dapatkah dia jg memperlakukan seperti halnya dengan PKL banjarsari, pasar tradisional?????
    dengan pernyataan itu berarti, dia juga ga mau kerjasama dengan rakyatnya sendiri ya???????…menyedihkan.

    wah, yang itu saya ndak tahu. pernah dengar, ganti rugi pernah diberikan duluuu…. banget, dengan syarat sertifikat diserahkan. kalau benar muncul sertifikat yang konon baru lagi (yang lantas jadi alat bukti minta ganti rugi), ya susah penyelesaiannya… andai benar gosip itu, gimana menrut Anda?
    /blt/

Leave a Reply