Bekasi, Oh Bekasi

Mendengar nama Bekasi disebut, ingatan yang segera muncul adalah sebuah kota yang crowded, macet,  penuh polusi, entah dari kendaraan bermotor dan mesin-mesin industri yang bertebaran, maupun debu-debu di jalanan. Bekasi, bagi saya tak beda dengan Jakarta, kota yang sejatinya tak terlalu saya suka.

Bekasi bersih harus bisa diwujudkan, bukan demi meraih penghargaan semata

Udara sungguh segar terasa ketika Sabtu (6/3) subuh itu, kami –sepuluh blogger dari Karanganyar dan Solo, Jawa Tengah dan Ponorogo, Jawa Timur, berjalan kaki dari Stasiun Bekasi hingga Asrama Haji. Rimbun pepohonan dan bersihnya lingkungan sepanjang jalan yang kami susuri menerbitkan angan, Bekasi bagai Kota Kyoto yang tenang dan nyaman.

Tapi, Bekasi bukan Kyoto, yang keteduhan dan ketenangannya sempat saya nikmati selama sepuluh hari, tujuh tahun silam. Bekasi nyaris seperti kebalikannya. Berpenghuni sekitar dua juta jiwa, dengan perilaku keseharian akibat tingkat pendidikan dan kesadaran warga yang tak sama, tak mudah menjadikan Bekasi sebagai kota yang bersih, hijau, asri dan nyaman ditinggali.

Sebuah tulisan pada pot bunga raksasa menggelitik saya: Bekasi Siap Raih Adipura Tahun 2010. Bila dimaksudkan sebagai pengingat, sah-sah saja pernyataan demikian digemakan. Tapi, membuat bersih dan menghijaukan kota, perlu semangat yang harus dikawal dengan komitmen  dan tindakan, sehingga ia tak berhenti pada slogan. Kalau sekadar mengejar ’kemenangan’, konon masih bisa ditempuh lewat jalur belakang.

Namun, bukan kelihaian mensiasati keadaan demi meraih penghargaan yang menjadi pokok bahasan. Bukan pula menjadikan Bekasi bagai Kyoto, yang penduduknya jauh lebih sedikit, sementara penduduknya sudah jauh lebih maju dalam merawat lingkungan. Kali-kali dengan air jernih bisa dijumpai di mana saja, berbeda dengan kebanyakan orang di Pulau Jawa yang masih menganggap arus sungai seperti truk-truk pengangkut sampah menuju Bantar Gebang.

Terasa agak beda, memang, Bekasi kini dengan sepuluh tahun silam, ketika saya masih sesekali berkunjung ke rumah saudara di sekitar daerah Proyek dan Pekayon. Debu beterbangan masih menjadi pemandangan sehari-hari, dan tak banyak pepohonan yang membantu proses ’purifikasi’ hingga udara pun lebih ’layak konsumsi’ seperti sekarang.

Saya tak (tepatnya, belum) mengenal komitmen dan visi tata kelola lingkungan Walikota Bekasi sekarang. Namun, dari pertemuan ’sekilas’ di tengah-tengah acara Amprokan Blogger yang digelar bersama Komunitas Blogger Bekasi di rumah dinasnya pada Sabtu (6/3) malam, terbit harapan ia sanggup (minimal terasa komitmennya) menata Bekasi menjadi kawasan yang lebih nyaman ditinggali pada masa mendatang.

Bedeng-bedeng tempat warga memisahkan sampah bernilai ekonomis seperti jenis-jenis plastik di TPA Sumur Batu, Bantar Gebang. Konon, omzetnya mencapai Rp 3 miliar perhari

Hijaunya kawasan sekitar Sumur Batu, Bantar Gebang, misalnya, harus bisa dipertahankan hingga puluhan tahun ke depan. Bahwa rumah bagi beragam tanaman akan kian terdesak dan menyusut seiring meningkatnya kebutuhan tempat berteduh warganya yang populasinya meningkat secara pasti, jelas tak bisa dihindari. Dalam situasi yang predictable demikian, selayaknya dibuat strategi kebijakan yang menjanjikan ’masa depan’.

Pemerintah, termasuk Walikota Mochtar Mohamad, pasti ingin tingkat harapan hidup warganya terus meningkat. Dan, satu peran ’kecil’ yang bisa dilakukan adalah mengurangi tingkat polusi yang ditimbulkan oleh debu jalanan yang belum dilapisi macam-macam. Di sinilah, siapapun akan dihadapkan pada tantangan yang kadang sulit dielakkan: pengaspalan jalan demi kenyamanan orang berjalan atau berkendara diutamakan, namun abai pada konsekwensi jangka panjang. Apalagi, bila argumentasi pingin ’asri’ juga dikedepankan.

Pada situasi demikian, sejatinya pengerasan jalan lebih baik dilakukan dengan cara pavingisasi. Bahwa mahal dan ribet perawatannya, memang begitulah nyatanya. Orang cenderung enggan memulai, dan selalu menyorongkan banyak dalih. Padahal, sepanjang orang mau tertib, paving pun bisa awet asal warganya patuh menyesuaikan beban kendaraan pelintas.

Ahaa..! Kambing pun merasa dirinya jadi 'blogger' sehingga ikut-ikutan memeriahkan kunjungan blogger di sebuah industri rumahan

Bagi kawasan permukiman padat, yang untuk tumbuh bunga melati pun terpaksa harus beralih ke pot-pot, perlu segera diambil tindakan yang tepat. Di antaranya, memperbanyak sumber-sumber resapan, meski ’sekadar’ berteknologi biopori. Teknologi sederhana dan murah ini, bisa menjadi solusi untuk kawasan-kawasan berpopulasi tinggi. Banjir dan erosi terkurangi, cadangan air pun terselamatkan.

Adalah sebuah tindakan menarik ketika Pak Walikota mengajak blogger bekerja sama. Sebagai jurnalis-jurnalis warga, seorang blogger bisa turut mengampanyekan ide-ide sederhana demikian melalui blog-blog mereka, dan secara offline bisa dilakukan dengan cara mengajak kerabat, teman dan tetangga. Memang blogger tak bisa bekerja sendirian, begitu pula pemerintah yang dikendalikan seorang kepala daerah. Namun, blogger bisa menggenapi apa yang sudah disuarakan melalui media massa konvensional, pada lingkup kecil maupun besar.

Industri kecil dan industri rumah tangga perlu dipacu dan difasilitasi demi peningkatan perekonomian rakyat, termasuk industri dengan produk boneka

Bekasi bersih bisa diwujudkan dengan mendorong partisipasi blogger, untuk tak pernah jemu menyuarakan dan menggemakan ajakan, untuk bersama-sama merawat alam dan lingkungan, demi meraih masa depan yang jauh lebih berkualitas. Sikap dan perilaku masyarakat yang kontraproduktif terhadap upaya perbaikan bisa dicegah, sementara sebuah prestasi kecil apapun bisa ‘dibesar-besarkan’ demi sebuah provokasi positif yang terukur.

Dengan membangun sinergi demikian, maka Amprokan Blogger yang menghadirkan 300-an blogger dari berbagai kota di Indonesia ke Kota Bekasi selama dua hari itu bisa meninggalkan jejak yang tak hanya mengesankan, namun ikut mendorong perubahan. Perjalanan ke kawasan industri boneka, meninjau pengelolaan sampah TPA Sumur Batu, Bantar Gebang, serta kunjungan ke kawasan industri Jababeka, pun tak sia-sia.

Dukungan penuh (bahkan total) pemerintah dan pelaku usaha, sudah semestinya direspon dengan tepat dan bertanggung jawab. Artinya, tak berakhir pada ramainya postingan semata, apalagi dengan gula-gula berupa hadiah lomba, sehingga upaya yang seharusnya mulia tidak berakhir seperti sebuah proyek sesaat semata.

Walau tak mudah, perjuangan mesti dikawal dengan sikap militan, baik pemerintah, blogger, maupun seluruh warga kota. Industri boneka yang menyerap banyak tenaga kerja tak ada artinya manakala lingkungan tak sehat. Upaya daur ulang sampah di kawasan Bantar Gebang, pun jadi tak bermakna bila sampah di benak dan nurani warganya tak kunjung disirnakan.

Selamat Ulang Tahun ke-13 Kota Bekasi, semoga ketakutan saya akan kota industri yang penuh polusi tak pernah terbukti. Dan, Bekasi Bersih Partisipasi Blogger bisa menjadi salah satu rintisan awal, menuju masa depan yang menjanjikan.

10 thoughts on “Bekasi, Oh Bekasi

  1. Tulisan yang mantap Pakde, Terimakasih atas kedatangannya menghadiri Amprokan Blogger di Bekasi…salam hangat buat semua teman2 blogger Solo.
    Kami akan memeriahkan juga Lomba Blog tentang AIR

  2. Pak Dhe yang suka guyon ini kalau sudah nulis bikin klepek-klepek pembacanya deh
    Ini khas tlatah matarman solo ya pak Dhe?

    Jabat erat buat teman-teman Komunitas Bengawan, semoga limba blog tentang “AIR” sukses melebihi lomba yang pernah diadakan di internet

    Salam

Leave a Reply