Makna Kicauan

Di Twitter, seseorang meminta pendapat dua temannya untuk unfollow seorang tokoh yang (mungkin) sudah lama diikutinya. Alasannya, timeline-nya penuh dengan kicauan si tokoh, yang belakangan demen marah-marah dan menyerang seseorang. Saya nimbrung, berpendapat agar dia tak perlu melakukan tindakan unfollow. Nikmati saja sebagai lawakan, kicau saya.

Kebetulan, saya juga ‘berteman’ dengan si tokoh, baik di Facebook maupun Twitter. Bahwa sejak Pansus Century memanas, ia selalu menyerang Aburizal Bakrie, seolah pemilik Grup Bakrie itu sebagai satu-satunya faktor atas sengkarut skandal itu. Tampak betul, ia habis-habisan membela Sri Mulyani Indrawati.

Bahwa saya tak suka dengan kemarahannya akhir-akhir ini, namun itu tak membuat saya lantas menghentikan ‘pertemanan’ di dua jejaring sosial itu. Saya justru menyimak semua kicauannya, dan menjadikannya sebagai puzzle yang lantas saya coba susun. Hitung-hitung buat mainan, sambil belajar membaca sebuah persoalan.

Selain si tokoh tadi, sebut saja Si A, saya juga ‘berteman’ dengan Si B. Sama dengan Si A, tokoh yang kedua ini juga mati-matian menjelek-jelekkan anggota Pansus Angket Century. Asyik! Apalagi, saya tahu Si B ini pendukung berat Boediono. Uniknya, meski dia pendukung berat Boediono, nyaris tak pernah menampakkan dukungan terbukanya dalam sengkarut Bank Century itu.

Saya paham, dia orang hebat, sehingga bisa mengaburkan peran. Saya yakin, ia cukup pandai bermain, dan memiliki koneksi dengan seseorang yang bisa disebut punya peran penting di lingkungan istana. Baik Si A maupun Si B, dengan kepentingannya yang (sejatinya) berbeda –menurut saya, sungguh amat sangat sadar dengan kekuatan social media seperti Facebook dan Tweeter.

Banyak followers kedua tokoh itu yang melakukan retweet tanpa reserve. Mereka nge-fans akan ketokohan keduanya, bahkan mungkin karena kelewat mengidolakannya, maka apa disampaikan keduanya diyakini memiliki kebenaran mutlak. Lagi-lagi, itu semua akibat persepsi follower, yang menempatkan si tokoh idola lebih punya kelengkapan informasi dengan tingkat akurasi yang presisi.

Ada yang terlupakan oleh kebanyakan orang, bahwa dalam sebuah skandal, potensi tersangkut pun akan mendorong seseorang membuat benteng pertahanan. Walau bersih, misalnya, seseorang juga sering mudah terdorong untuk melakukan sesuatu yang tak perlu. Seolah-olah, pakaian tak boleh terkotori oleh getah, meski kadang tak bisa dihindari, seseorang sengaja melakukan sesuatu yang hasil akhirnya orang lain ikut ternoda getah.

Dalam konteks Sri Mulyani dan Boediono dalan kasus Century, misalnya, bisa jadi keduanya bersih, namun kuatir ternoda sehingga perlu pasang kuda-kuda. Bisa juga sebaliknya, namun tak semua orang kuasa membuktikannya. Nah, kalau sudah begini, semua jadi gelap. Kebenaran bisa mewujud dalam sebuah klaim, dan kesalahan bisa jadi juga cuma sebuah tuduhan.

Dalam konteks followers yang dalam status ‘kurang tahu pasti’ karena tak memilik akses informasi dari yang bersangkutan, buat apa kita ikut-ikutan ‘beperkara’?

Bagi saya, nikmati saja asyiknya Twitter-an. Yakini saja semua yang kita anggap benar, dengan menempatkan kicuan teman sebagai referensi untuk kita uji, sebelum meyakini. Kebenaran sebuah perkara tak bisa ditentukan lewat voting atau besarnya jumlah dukungan. Tak bisa pula menentukan dengan model permufakatan.

Lantas, buat apa kita membuang energi untuk dukung-mendukung seseorang, sementara kita tak mengerti yang sesungguhnya terjadi? Teliti sebuah perkara, telisik kepentingannya, baru putuskan perlu-tidaknya menjadi follower mereka. Apalagi kita tak mengerti, siapa tahu ada agenda tersembunyi yang sedang diperjuangkan mereka.

Masih banyak orang baik dan tulus berbagi mengenai hal-hal baik untuk kehidupan kita, baik melalui Facebook maupun Twitter. Nikmati saja, suka-suka…..

Update (5/3/2010 00:02)

Pada kasus skandal bail out Bank Century, saya hanya mendasarkan pada beberapa keyakinan pribadi. Pertama, saya tak memiliki informasi yang memadai mengenai apa yang sesungguhnya terjadi, dan siapa saja yang terlibat. Tapi, seperti pepatah, ada asap, pasti ada api. Bukan urusan saya siapa yang memantik api, namun kehadiran asap telanjur memberi petunjuk. Jadi, ya mesti dituntaskan agar tak muncul fitnah macam-macam.

Kedua, saya meyakini pemakzulan bukan sebuah langkah bijak. Andai salah pun, terlalu besar biaya yang harus ditanggung kalau Boediono dilengserkan. Instabilitas akan segera muncul dan bisa jadi bola api yang ditendang ke sana-sini sehingga kian banyak pihak yang terlukai. Efeknya pasti panjang, dan ujung-ujungnya, rakyat pula yang sengsara.

Ketiga, dukung-mendukung yang tidak cerdas dan bijak, justru akan memperburuk keadaaan. Dalam dunia maya, isu berseliweran sehingga ‘kebenaran’ seolah-olah hanya ditentukan oleh banyaknya dukungan. Satu pihak menghakimi dan menjatuhkan pihak lain, begitu juga sebaliknya. Para followers yang tak tahu apa-apa, apalagi yang cuma asal nge-fans turut menyumbang jumlah yang diklaim sebagai pendukung. Alangkah rusaknya bila demikian yang terjadi…

Keempat, dalam konteks mencegah praktek dukung-mendukung ‘tanpa sadar’ itulah, saya menuliskan kesan dan rasa keprihatinan saya, yang sudah lama terpaksa dipendam dalam-dalam. Karena itu, saya berharap siapapun menghentikan model dukung-mendukung demikian. Coba, apa bedanya dengan mobilisasi Pam Swakarsa pada akhir 1990-an yang juga kita tentang ramai-ramai itu?

5 thoughts on “Makna Kicauan

  1. lebih baik emang netral, mas. lagipula banyak intrik politik di balik pansus yg sungguh2 rumit. motivasi para anggota pansus pun tak selalu tulus. hepi hepi saja lihat anggota DPR pada pukul-memukul. hi3.

  2. Salah satu dari dua tokoh tadi memblok saya jadi nggak bisa baca tweet mereka deh 🙂

    masa? tak usah diambil hati lah… kayak prinsip beragama saja: bagimu agamamu, bagiku agamaku. berbeda itu asyik, sepanjang masih bisa berteman, mempertahankan tali silaturahmi. saya suka berteman dengan siapapun, tak peduli beda keyakinan atau beda pandangan, apalagi cuma soal politik. hehehe…
    /blt/

Leave a Reply