Opera Jawa Versi Dua

Garin Nugroho seperti kesengsem pada dua hal: kisah Ramayana dan penyutradaraan tari. Setidaknya, itulah yang saya perhatikan dalam empat tahun terakhir.

Pada kisah Ramayana yang berintikan peperangan Rama (sebagai simbol kebaikan) versus Rahwana yang berkonotasi jahat dengan bumbu pesona kecantikan Sinta, itulah Garin mengeksplorasi habis-habisan. Lewat film Opera Jawa (2006), ia bahkan menyabet pujian publik film tingkat dunia.

Dari film itu, ia lantas mengembangkan pada bakat keduanya, sebagai sutradara tari. Dengan melibatkan koreografer Eko Supriyanto (Solo) dan Martinus Miroto (Yogya), Garin melahirkan The Iron Bed (2008). Hasil pernyutradaraan dengan pendekatan filmis itu bahkan memukau seniman dari beragam cabang dan aliran yang berkumpul di Swiss dalam forum Zurcher Theater Spektakel, pada pertengahan 2008.

Sukses di festival seni yang melibatkan puluhan seniman dari 40 negara di Asia, Amerika Latin dan Afrika itu, The Iron Bed lantas diminta tampil dalam Indonesian Dance Festival di Jakarta, tahun lalu. Sebuah apresiasi yang menarik, mengingat Garin ‘hanya’ pendatang baru di dunia seni pertunjukan, meski ia pernah menyutradarai pertunjukan drama semasa SMA di Semarang dulu.

Oh, ya, hampir saya lupa. Kata Garin, sepulang dari Swiss, resensi The Iron Bed yang saya buat dan dipublikasikan di The Jakarta Post, katanya memperoleh pujian dari Robert Wilson, art director kelas dunia yang menjadi penggagas acara di Swiss itu. Aha!! Senangnya hati saya…..

Saat diberitahu soal itu, pun saya berlagak merendah dengan mengatakan tak mungkin ada resensi yang bagus kalau materi yang diresensi jelek.

Tapi, sungguh menarik mengamati metamorfosa Garin. Semula, saya mengenalnya sebagai penulis yang kritis. Ketika itu, akhir 1980-an hingga pertengahn 1990-an, karya-karya tulisnya kerap mejeng di halaman opini harian Kompas. Dia masih menyebutkan identitasnya sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Beberapa teman kuliah saya yang kagum padanya, sudah dua orang yang meniru jejaknya, menekuni dunia tulis-menulis dan menjadi sineas andal. Keduanya pernah meraih penghargaan kelas dunia pula.

Kembali ke soal penyutradaraan tari, harus diakui dia memang piawai. Talentanya kuat, bahkan garapannya lebih detil dari koreografer pada umumnya.

Tapi, yang selalu menggelitik saya hanya satu: soal penampilan sosok perempuan sebagai tokoh sentral. Baik pada film Surat untuk Bidadari, Bulan Tertusuk Ilalang, Daun Di Atas Bantal, hingga Opera Jawa, Garin menempatkannya sedemikian rupa. Simbol-simbol feminin juga kuat pada semua karyanya, termasuk pada karya tari The Iron Bed dan yang kedua, yang diberi judul sama dengan filmnya: Opera Jawa.

Semoga, Opera Jawa yang menonjolkan ciri Langendriyan atau operet versi Jawa menuai sukses dipentaskan di Belanda, paruh kedua tahun ini. Melihat pertunjukan ‘perdana’ di ISI Surakarta, tiga hari lalu, saya optimis Garin sanggup mempertanggungjawabkan orisinalitas garapannya, meski koreografinya ditangani Eko Supriyanto.

7 thoughts on “Opera Jawa Versi Dua

  1. tahun 2007, aku ngantri di JIFFEST untuk menonton filmnya, opera van java, udah ngantri 2 jam, eh…gak dapet tiket, tak tongkrongin sampai penjaganya anyel, tetep gak dikasih masuk.
    kemaren pas diajakin ama temen2 bengawan nonton versi aslinya, malah ana tamu.
    suatu kali, pasti bisa menikmati,
    melihat gambar dan tulisan kang blonti cukup membuat hasrat menonton kembali mengalir.

Leave a Reply