Sopir Bukan Manusia

Lagi, jurnalisme televisi membuat saya menuangkan kemarahan di sini. Di Topik Pagi ANTV, pagi ini, diberitakan ada taksi diseruduk bis Akademi Kepolisian. Disebutkan (dan ditunjukkan rekaman), taksi ringsek bagian belakang. Yang mengganggu, narasinya yang –menurut saya- sangat jahat, SADIS!

…beruntung taksi tidak membawa penumpang sehingga tidak ada korban…

 

Dalam berita itu dijelaskan, sopir bus mengalami luka-luka, sedang sopir taksi (seingat saya) tak disebutkan keadaannya, meski taksi Kosti yang diseruduk dari belakang akibat (diduga) rem bus blong, harus terdorong hingga 25 meter dan terhenti setelah tertahan karena menabrak pembatas jalan.

Andai berita itu merupakan siaran live seperti peristiwa polisi memberondongkan senjata api ke sebuah rumah yang diduga persembunyian teroris, saya sangat maklum. Sama SANGAT BISA MEMAHAMINYA atas begitu belepotannya reporter yang sedang live report dari sebuah lokasi bencana seperti di Ciwidey, Bandung, tempo hari.

Saya suka menyebut para jurnalis demikian sebagai orang-orang yang nalar, rasa, dan tanggung jawab profesinya tak pernah di-upgrade. Kesalahan demi kesalahan selalu berulang, dan selalu dibiarkan. Padahal, keledai saja jarang yang mau celaka untuk ke sekian kalinya.

Begitulah ‘konsekwensi’ tuntutan industri. Para pemodal dan eksekutifnya yang pecinta opera sabun, selalu mendasarkan pada ukuran-ukuran fisik. Wajah cantik atau ganteng, berkulit bersih, menjadi prioritas sebuah proses seleksi. Indeks prestasi berguna untuk mengonversi kekurangan fisik yang ‘dibutuhkan’ etalase mewah bernama layar televisi. Banyak yang mengira indeks prestasi sama dengan ai-kyu, dan é-kyu hanya bahasa milik motivator semacam Mario Teguh atau pencerah iman ala Ari Ginanjar yang kini jadi miliarder itu.

Logika berita soal taksi tadi, memberi petunjuk kepada kita, bahwa keselamatan dan nyawa sopir taksi jauh lebih murah dibanding penumpangnya, lantaran si sopir hanyalah orang yang dibayar. Karena dibayar, maka keberadaannya tidak seistimewa penumpang. Padahal, ungkapan pembeli adalah raja tak berlaku dalam konteks itu, meski seorang sopir taksi harus berhati-hati selama berada di belakang kemudi, apalagi saat mengangkut penumpang.

Hingga kini, saya tak pernah mengerti, mengapa reporter televisi terasa seperti tak pernah dibekali pemahaman mengenai logika bahasa. Diamnya publik dianggap sebagai penerimaan dengan kualitas permakluman yang tulus. Mereka lebih mementingkan penampilan fisik, bukan performance yang total. Siapakah reporter dan presenter stasiun teevisi kita yang Anda kenal memiliki ciri smart dan bisa menunjukkan inner beauty-nya?

Kadang saya risih untuk menempatkan reporter suratkabar harian jauh lebih baik dibanding jurnalis televisi. Banyak reporter televisi (apalagi yang merangkap kamerawan) lebih menyukai penggalan pernyataan narasumber yang sesuai dengan frame yang sudah dibangunnya sendiri. Tak jarang, narasumber diarahkan sedemikian rupa, sehingga hanya tersedia jawaban ya atau tidak, tanpa mencoba dengan cara lebih cerdas dengan cara ‘menjebak’ dengan formulasi pertanyaan, yang berakibat muncul pernyataan yang lebih natural, dan tampak lahir dari dalam diri si narasumber.

Saya bukanlah seorang mantan jurnalis yang memiliki kecakapan bahasa dan skill wawancara memadai. Tapi dibanding kebanyakan reporter televisi, saya merasa jauh lebih bermartabat dibanding mereka. Indikasinya sederhana: saya lebih risau soal pemilihan kata (saya tak mau menyebut dengan istilah diksi, kuatir mereka tak ngerti. Hehehe…). Baik ketika melakukan wawancara maupun saat menyusun sebuah berita, saya selalu takut salah menentukan kata. Untuk blog yang masih dianggap remeh saja saya tak tega menggunakan kata seenaknya, kok…..

Lagi-lagi, saya harus menyalahkan para pengelola media televisi. Seperti saat tvOne melangsungkan reportase lapangan secara langsung dari lokasi longsor Ciwidey, misalnya. Untuk menunjukkan lokasi longsor sangat jauh dari tempat si reporter berdiri, diselipkan narasi bernuansa apologis dan ‘menuntut permakluman’ pemirsa, dan diperkuat dengan ‘bukti’ tayangan gambar dari jarak jauh.

Menyedihkan memang…..

(Untuk para jurnalis televisi, kalau Anda tersinggung atau ingin marah, harap diarahkan kepada saya saja, ya… Pada kemarahanmulah, saya jadi yakin bahwa ternyata kalian masih punya keinginan untuk berubah)

 

 

 

 

7 thoughts on “Sopir Bukan Manusia

  1. Jlitheng

    Bukti kejamnya mesin/industri. Filosofi dalam sistem industri tak dikenal yang namanya manusia, yang ada hanya alat dan obyek, semua bernilai materi atau benda. Apa pun yang berbasis industri, omong kosong bila bicara tentang manusia!

  2. Sepakat kang! aku juga cuma pers abal2, tapi kalo pas bikin berita…ughh mikir editorialnya setengah modar, ada pertimbangan asah asih asuh. tapi konon, apa yg terjadi pada lembaga di sebuah negara adalah cerminan masyarakat di negara itu.

Leave a Reply