Baik to Work

Baik to Work memang plesetan asal-asalan atas istilah Bike to Work, bersepeda ke tempat kerja, yang kini menjadi tren di Jakarta dan beberapa kota di Indonesia. Baik ya baik. Apik, kata orang Jawa. To Work berpadanan dengan bekerja, sehingga memang baik kalau seseorang benar-benar mau bekerja. Silakan menyimak pengalaman spiritual dan sosial saya.

Di Jepang, konon sepeda ini tunggangan resmi para suster Katholik, sebelum akhirnya saya beli di sebuah pasar di dekat Pelabuhan Tanjung Priok, tiga tahun silam. Aneh, semua orisinil-nil...

Mengawali hari (Rabu, 24 Pebruari), saya harus membeli ban dalam dua buah, hanya dalam satu jam. Karena bocor, saya mencari tukang tambal ban. Waktu sudah jam 1 lewat, sehingga saya baru menjumpai tukang tambal ban setelah menyusuri jalan-jalan sepanjang dua kilometeran. Singkat kata, saya harus mengganti ban dalam dengan yang baru.

Beres terpasang, pergilah saya. Duit Rp 25 ribu ‘melayang’ untuk ongkos dan pembelian. Mungkin, itulah cara Tuhan mengingatkan saya untuk berbagi rejeki, sehingga saya harus membangunkan tukang tambal yang tidur di atas dhingklik, bangku panjang semalaman, di pinggir Jalan Slamet Riyadi. Tuhan pasti tahu, sudah lama saya ogah bersedekah.

Baru dua kilometer meninggalkan lokasi tambal ban di Sriwedari, stang mulai goyang-goyang. Kempes ban lagi, sehingga saya harus menuntunnya. Lumayan, seribu meter jaraknya. Unik, sebab jenis bocor sama. Dop (yang benar, istilahnya apa, ya?) terlepas dari tempatnya. Maka, saya pun meminta diganti ban baru saja. Mereknya beda, tapi sama-sama asing bagi saya. Sama-sama bukan barang branded.

Terhadap jenis bocor yang beginian, saya selalu memilih menggantinya saja. Seolah sederhana, tapi penanganannya lebih rumit dibanding bocor biasa. Harus menggunting ban dalam (yang tak terpakai tentunya) sebagai penyangga, juga mesti menambal untuk memasang kembali dop-nya. Dua kali kerja. Belum lagi kalau harus menambal beberapa bagian yang bocor lainnya, sebagai akibat terlalu jauh dipaksa berjalan tanpa angin di dalamnya.

Sebaiknya jangan protes, semasa SMP-SMA, saya pernah menjalani profesi sebagai asisten tambal ban di bengkel milik tetangga, di kompleks pasar tak jauh dari tempat tinggal saya. Sepulang sekolah, saya biasa nongkrong di bengkel itu, tentu tanpa sepengetahuan orang tuaku. Harapannya cuma satu: dapat makan dan es teh gratis. Dan, saya menyukai sensasi merokok dalam kondisi tangan kotor kena oli, yang lantas mengotori kertas pembungkus tembakau yang kuisap.

Sambil menunggu penggantian ban dalam, beruntung saya bisa sejenak merenung. Apa karena beberapa hari ini saya iyik atau berisik terhadap Menteri Tifatul Sembiring yang saya anggap bersalah membiarkan Rancangan Peraturan Menteri tentang Konten Multimedia, lantas Gusti Allah marah kepada saya?

Ah, tak mungkin. Pikir saya, Tuhan akan berpihak kepada saya dan orang banyak yang telah beramai-ramai menentang pemberlakuan RPM Konten (dan UU ITE) karena kedua peraturan itu ingkar sunnah. Melawan fitrah yang dikaruniakan Allah kepada manusia, yang disebutkan dalam kitab-Nya sebagai khalifah di dunia. Pengertian ideal khalifah, tentu saja yang mendatangkan berkah bagi alam semesta.

Bukan seperti yang diyakini sebagian orang penganut paham khilafah, yang ditafsir sebagai kemutlakan wewenang di dunia: serba mengatur, selalu merasa benar. Negara dipersonifikasi pada satu orang semata, yang tidak pernah bisa diduga maksud dan tujuan hidupnya. Hahaha…

Lalu, untuk menghibur diri, saya pun berandai-andai. Lalu, terlintas di benak saya, kalau ban yang baru dibeli bocor lagi, mungkin itu sinyal agar saya segera membeli Mercy atau Cherokee, yang di dalamnya terdapat Macbook dengan akses internet bergerak. Dengan mobil jenis itu, lebih pantas saya memiliki ban tubeless yang jika bocor pun masih bisa digeber, tanpa harus repot menuntut. Di dalam mobil dengan fasilitas itu pula, saya masih bisa ikut (setidaknya) meramaikan penolakan pemberlakuan RPM Konten dan mendesakkan revisi pasal-pasal intimidatif di dalam UU ITE.

Tapi, usai membayar ban kedua, duit tinggal tersisa beberapa ribu saja. Saya berharap tak bocor lagi (dan mengganti ban baru lagi). Andai sampai begitu, berarti saya harus kemana-mana menaiki sepeda Bridgestone antik yang diimpor dari Jepang dengan status used bike itu. Walau antik, saya merasa tak sanggup kalau menggenjotnya hingga puluhan kilometer saban hari.

Belum lagi rasa was-was yang bakal terus menggelayuti. Belum tentu, di Solo ada orang yang memiliki sepeda antik seperti punya saya itu, sehingga akan menggoda orang untuk ganti memiliki. Masih mending kalau menanyakan harga pengganti. Bagaimana kalau  antiknya sepeda itu mendorong orang untuk mencuri karena bakal mahal jika dijual kembali? Bukankah itu artinya saya memberi kesempatan orang berbuat jahat, sehingga saya berdosa karenanya?

Apapun, sepeda 3 Speed itu selalu memancing tanya setiap kubawa. Lampu yang akan menyala otomatis bila tak ada cahaya matahari atau karena mendung sering mengundang tanya. Begitu pula dengan indikator cukup-kurangnya tekanan udara di dalam ban sehingga mudah untuk mengontrolnya, tanpa harus menekan dengan jempol dan telunjuk.

Tapi, sungguh banyak hikmah yang kupetik dari ‘tragedi dua kali beli’, dinihari tadi. Menuntun jelas memalukan, meski juga menyehatkan. Sepertinya, lebih sehat kalau saya juga sering menggenjot sepeda kesayangan saya, tanpa rasa was-was ada yang bakal mencurinya. Harta hanya titipan, dengan sedekah dan derma menjadi pupuk kesadaran: bahwa Tuhan selalu sayang dengan hamba-NYA, termasuk orang-orang seperti saya (yang menolak RPM Konten Multimedia).

Pak Tifatul, apa sampeyan juga punya sepeda seperti punya saya? (Kalau tak punya, saya maklum saja. Makanya sampeyan berseberangan dengan saya dalam memaknai kebebasan berekspresi, yang pasti setiap manusia punya ukurannya sendiri, dan akan selalu terikat dengan norma dan etika lingkungannya).

Baik to Work, Pak Menteri. Sebaiknya, sampeyan segera bekerja…..

Seperti penggiat Bike to Work yang bertujuan mulia menjaga udara tetap bersih, sehat dan layak hirup demi kelangsungan kehidupan seluruh makhluk hidup, hasil kerja sampeyan untuk membatalkan RPM Konten dan merevisi UU ITE juga akan mendatangkan berkah bagi alam raya. Indonesia jadi damai, maju dan lebih bermartabat. Asli. Saya tidak bohong…..

9 thoughts on “Baik to Work

  1. ALPHA FEBELA PRIYATMONO

    OM , SAYA PUNYA SEPEDA MEREK SWALLOW BUATAN ARAYA JEPANG,…….OM BISA BANTU TENTANG ARTIKEL SPEDA SWALLOW …….SUWUN

  2. Beli ban dalem merk Swallow aja Pakde, murah cuma Rp 12.000, karetnya lumayan tebal.
    Ban luarnya juga siapa tau udah alus Pakde, jadinya kalau terkena benda runcing bisa langsung “jleb” nembus ban dalem. Kalau saya selalu sedia ban dalem, kunci baut, dan pompa portabel, kalau swaktu2 ban sepeda bocor di tengah jalan.

    Pokoknya, bersepeda itu dinikmati sajalah Pakde, 😀

  3. tulisane apik mbanget kang..
    baik to work atau apapun pilihan kita, resiko akan selalu ada..
    nah mungkin pak menkominpo jg sama ketika dia memilih pilihannya dengan RPM itu..

Leave a Reply