Pantun Menteri

Mari pangestu mengunyah sirih, cukup segitu dan terimakasih

Begitu bunyi tweet @tifsembiring yang tak lain adalah Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Senin (22/2) sekitar pukul 23.40. Menggelitik, tapi tidak simpatik. Setidaknya, menurut (dan bagi) saya. Andaikata ‘risih’ dengan protes publik di Twitter, tak semestinya Pak Menteri asal-asalan membuat pantun. Jangan lupakan diksi, deh…

Andai itu diucapkan Pak Tifatul di hadapan Bu Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dalam sebuah upacara peresmian masuknya akses internet di sebuah kampung perajin kerajinan di pelosok kampung atau lereng gunung, mungkin akan menjadi bahan pengusir kantuk atau gerah hadirin. Tapi di Twitter dan tanpa copy carbon ke Twitter ID-nya Bu Mari, bagi saya itu kurang tepat.

Asli, ini contoh tak baik dalam konteks penggunaan media jejaring sosial untuk berbagi. Kalaupun hendak melucu, tetap saja saya tak suka dengan cara demikian. Silakan pakai nama diri sendiri kalau ingin membuat lelucon model begini. Kalau toh diramaikan atau diprotes, mungkin Pak Menteri bisa berkilah macam-macam. Misalnya, Bu Mari tak tersinggung, tak masalah, dan seterusnya.

Tapi sudahlah, nasi sudah telanjur menjadi bubur. Harap dimaklumi saja, mungkin ini pertama kali beliau ‘belajar memasak’ peraturan (UU ITE dan RPM Konten), yang kemarin sempat dia takutkan menjadi ajang menyerang pihak lain, menyebarkan pornografi, caci maki, dan lain sebagainya.

Saya sedang menunggu saja, siapa tahu pada kicuan berikutnya, Pak Tifatul akan mengucap permintaan maaf sudah mencatut nama Bu Menteri.

7 thoughts on “Pantun Menteri

  1. Ael

    rakyat jelata sepeti saya, milih suryaden jadi presiden.

    jelata itu soal nasib, tapi kalau suryaden jadi presiden, jelas bukan nasib! ora trima… :p
    /blt/

Leave a Reply