Menteri yang Menyedihkan

Keberadaan Tifatul Sembiring sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika sungguh ironis. Mengaku pernah jadi wartawan (tanpa menyebut nama medianya), tapi tak tahan kritik. Mestinya, ia tahu posisi pejabat publik akan selalu berhadapan dengan kritik (juga pujian), tergantung prestasi, reputasi dan capaian yang pernah dijalankan.

Melalui Twitter, Selasa (23/2) sekitar pukul 20.19 WIB, dia (@tifsembiring) berkicau:

Sy protes HL MI kmrin, krn mlintir brita, itu rporter ngotot trus, sy blg jngan cari rezeki dg cr2 spt itu, lalu dimuat” tifatul tuduh pers”

Rupanya, ia gerah dengan headline halaman 12 Harian Media Indonesia edisi 23 Pebruari yang menurunkan tulisan berjudul Tifatul Tuduh Pers Cari Makan dari Pelintir Berita. Judul berita itu sendiri merupakan kesimpulan dari sebuah pernyataan, yang biasa dibuat seorang jurnalis. Terhadap pernyataan itu, Ketua Dewan Pers Bagir Manan pun turut menyayangkan.

Membaca laporan itu, tampak Tifatul merasa kecewa dengan pemberitaan media massa yang membuatnya tersudut lantaran Rancangan Peraturan Menteri tentang Konten Multimedia menuai kritik keras dari berbagai kalangan. Dari gedung wakil rakyat terdengar desakan pembatalan, begitu pula dari Ketua Mahkamah Konstitusi.

Kalangan organisasi pers seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Dewan Pers pun ikut memberi bobot penolakan seperti yang dilakukan para pengguna dan pengusaha internet, baik blogger maupun sejumlah institusi seperti APJII dan banyak lagi. Pendapatnya seragam: RPM Konten memasung kebebasan berekspresi, menghambat kebebasan pers, dan antiketerbukaan informasi.

Kalau keluhan Tifatul dijadikan judul berita, sebagai mantan wartawan, mestinya dia tahu bahwa yang demikian lumrah adanya. Kalau itu lantas membuat gerah, pasti tak jauh-jauh dari efek polemik RPM Konten yang membuat citra Pemerintahan Yudhoyono goyah, karena itu Presiden sampai menegur/menyindir dalam sebuah rapat kabinet, agar setiap menteri berhati-hati membuat pernyataan dan tidak ‘lalai’ berkonsultasi dengan presiden terkait isu-isu sensitif.

Kembali ke persoalan tuduhan ‘pers mencari makan’ lewat pelintir berita, apapun alasannya, itu tak pantas keluar dari mulut (karena ditulis via pesan pendek, berarti keluar dari jemari) seorang menteri. Ia lupa, meski dirinya seorang Tifatul Sembiring, namun kapasitas dan atribut yang melekat pada dirinya adalah seorang pejabat negara. Gerbang utama komunikasi resmi pemerintah pula!

Andai tak sanggup menerima kritikan, kenapa Tifatul tidak resign saja sekalian dari posisinya kini?

Mari kita cermati bunyi pesan pendek Tifatul yang dikirimkan kepawa wartawan Media Indonesia.

Saya sering merasa kasihan dengan orang yang mencari rezeki dengan cara menuli sesuatu yang menghujat orang lain, mengadu domba, menuduh tanpa konfirmasi yang seimbang. Dan, dengan tenang (orang itu) menikmatinya tanpa peduli.

Selanjutnya, seperti dilaporkan Media Indonesia, ia meneruskan tanggapannya.

Lo, tanpa konfirmasi pun Anda sudah lihai menulisnya. Lihat aja pelintiran berita hari ini. Anda bebas kok menulis apa saja. Anda cari makan dari cara-cara seperti itu.

Dari pernyataannya itu, tampak jelas betul cara Tifatul menyikapi pers/jurnalis. Mungkin, ia mengira semua wartawan adalah tukang pelintir, menulis tidak berdasar fakta dan mengabaikan prinsip cover both sides. Bisa jadi juga, ia terbiasa memberi amplop atau fasilitas kepada wartawan dalam berbagai kegiatannya, baik dalam kapasitasnya sebagai orang partai (PKS) maupun sebagai pejabat negara. (Ingat, belum lama ini, kantornya juga membagai-bagikan telepon genggam kepada wartawan, yang lantas menuai kecaman dari AJI dan kalangan pers)

Tapi, terlepas dari ‘cengeng’-nya Menteri Tifatul, ada substansi yang bisa dijadikan para jurnalis untuk berkaca. Selama masih ada yang mau menerima sogokan (dalam bentuk uang, barang atau fasilitas), ya masih bakal ada pernyataan-pernyataan demikian, dari narasumber.

Dan, terlepas dari semua itu, Indonesia di masa Yudhoyono memang sedang memasuki fase menyedihkan dalam konteks kemerdekaan pers dan kebebasan berekspresi. Terlalu sering saya mendengar redaksi media memperoleh telepon dari orang-orang istana, agar tidak menurunkan laporan ini atau itu. Istilah lamanya, budaya telepon yang menjadi ciri kekuasaan Soeharto, diam-diam bangkit lagi.

Pernyataan Menteri Tifatul hanya indikasi. Sinyal yang mulai kasat mata. Mestinya, ini berkah bagi kita, seluruh warga negara Indonesia. Gusti Allah telah menunjukkan, betapa praktek represi, mulai menggeliat kembali. Artinya: mari mulai melakukan konsolidasi! (Siapa tahu, sebentar lagi muncul musuhnya Ratu Adil, yakni mBak Tirani. Hihihiihii…)

Update (24/2/2010 pk. 9.14 WIB): Silakan baca keluhan Menteri Tifatul via Twitter yang ‘diterjemahkan’ menjadi berita oleh Vivanews ini.

Update lagi : Sekitar pukul 18.30, Rabu (24/2/2010) Pak Menkominfo (@tifsembiring) menuliskan kicauannya di Twitter, bunyinya sebagai berikut:

Stelah sy protes berita gak seimbang, Saya diberi ‘hadiah’ lagi oleh MI hari ini dg judul, “Tifatul lecehkan wartawan”. Saya akan somasi !!

Yang menarik, bila somasi jadi dilakukan, berarti Pak Menteri menggunakan acuan UU Pers. Dari sana, nantinya juga akan terbaca, apakah wartawan Media Indonesia sudah mematuhi Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI) atau Kode Etik Jurnalistik. Kalau begini, malah asyik. Semua bisa belajar.


10 thoughts on “Menteri yang Menyedihkan

  1. wiku

    “Bisa jadi juga, ia terbiasa memberi amplop atau fasilitas kepada wartawan dalam berbagai kegiatannya, baik dalam kapasitasnya sebagai orang partai (PKS) maupun sebagai pejabat negara.”

    hmm…fact or assumption?

  2. EkO NUgroho

    Gak usah jadi menteri kalo alergi terhadap tulisan…Memalukan sekali…Masih ada kesempatan bagi Pak Menteri untuk menyatakan mengundurkan diri karena menyikapi tulisan dengan emosional….

  3. kok aq ngarasa sby skarg otoriter gt y… cengeng. tifatul katanya pernah sekolah informatika, dimana ya sekolahnya?

    wah, saya gak tahu. tanya mbah google saja… sebagai muslim banget, mestinya dia tidak hoax
    /blt/

  4. saya sangat gembira dengan pernyataannya itu, mengapa? Karena benar-benar menggembirakan memiliki pejabat negara yang juga ketua partai besar, dan sangat terlihat bahwa praktek-praktek politik untuk mencapai kekuasaannya sangat membingungkan saya, saya sangat benar-benar gembira dan bangga ketika praktek-praktek politik itupun digunakan untuk bersilat lidah dan jari.. wuah benar-benar akting panggung yang luar biasa… meski diketawaain dan dihujani banyak pisuhan orang, tetep saja bertengger jadi pejabat… benar-benar kuat orang seperti itu, tahan banting, dan tentunya memang sudah tidak memiliki rasa malu…, bukan tokoh agama ternyata, namun memang ahli politik … dahsyat. Naudzubillaah….

    sama. aku juga seneng. jadi tampak jelas wajahnya… daripada pakai topeng, kita sulit membaca ekspresinya…
    /blt/

  5. miturut kang wiji tukul : hanya ada satu kata : LAWAN !
    miturut cicero : non multa dicam ! (saya tidak akan berbicara banyak = ora arep kakean omong), pokoke arep terus menulis hehehe…..salam kang !

    mari bersama-sama, bahu-membahu…
    /blt/

  6. ael

    “kaca” itu mahal, tak semua orang mau berdiri menghadap cermin untuk melihat wajahnya.

    Kalaupun ada yang berani menatap cermin lama-lama, hanyalah monyet yang bisa, seperti peribahasa dalam cerita.

    “Buruk Muka Cermin Dibelah”

    Salam Sejahtera Pakdhe,
    Ael 🙂

    buruk RPM, rakyat dibelah…
    /blt/

  7. menyedihkan mentkominfo tak tahu cara memprotes (kalau benar itu protes pada wartawan media indonesia bukan pers). baca UU Pers dong pak

    jangan meremehkan gitu dong, dik abu…
    /blt/

Leave a Reply