Curiga Pembuat Wacana

Sejujurnya, saya curiga dengan pelontar wacana pergantian nama Solo sebagai pengganti Surakarta. Semoga, itu bukan program ‘iseng-iseng berhadiah’ oknum-oknum jurnalis. Maklum, pada masa ‘panas’ menjelang pemilihan walikota, melempar wacana kecil bisa menggelinding menjadi bola salju. Membesar, destruktif!

Saya hanya ingin mengingatkan saja, siapapun Anda sebagai ‘produsen’ wacana, sebaiknya lebih berhati-hati. Tak ada baiknya memprovokasi, apalagi jika didukung kekuatan media massa. Jangan sampai dilatari semangat ngepas-ngepasaké atau mencocok-cocokkan.

Ibarat budaya, biarkan semua tumbuh alamiah. Seperti dalam praktek berbahasa Jawa, ada ragam tutur dan tertulis. Secara lisan, orang bisa menyingkat kata atau memunculkan istilah baru, meski ketika dipraktekkan dalam bentuk tulisan, lantas harus tunduk pada kaidah, seperti tata bahasa atau penyesuaian gramatikal.

Kata Solo memang lebih seksi. Enak diucapkan karena hanya terdiri dua suku kata. Solo juga nyaman didengar, ramah telinga. Berbeda dengan Surakarta yang panjang, yang menyulitkan penggunanya, apalagi jika diterapkan untuk nama media. Untuk URL sebuah website saja sudah boros karakter, bagaimana tidak menghabiskan banyak space bila diadopsi untuk nama majalah atau koran? Tentu, loper koran akan risih mengeja saat keliling menjajakan.

Semoga, bukan jurnalis atau orang-orang media yang mempromosikan kata Solo sebagai pengganti nama resmi Surakarta. Kalau inisiatornya adalah mereka, maka turut malulah saya, sebab melihat teman seprofesi tampak nyata bodohnya. Bagaimana saya menjawab kalau ada orang bertanya: Kang, jadi wartawan itu mudah, ya? Tak perlu belajar, tak harus pintar, yang penting bisa bikin istilah aneh-aneh?

Ya, bagaimana tak boleh disebut bodoh kalau membaca catatan sejarah saja ogah?

Andai wacana penggunaan nama Solo itu dilontarkan oleh orang media, maka itu bukan perkara sulit. Cukup sering saya menjumpai, segelintir (oknum) jurnalis menggadaikan moralitas, dengan cara memproduksi dan mereproduksi isu sebuah kepentingan subyektifnya sendiri. Ada yang membombardir pemberitaan untuk memojokkan pihak tertentu (bisa pribadi atau institusi), padahal ujung-ujungnya diajak cincai atau diharapkan duit iklannya. Tak banyak, tapi ada orang bermental demikian.

Pada kepentingan membuat kata Solo jadi identitas resmi, misalnya, bisa meminjam mulut siapa saja. Dosen, peneliti atau pengamat sosial-politik, misalnya, bisa diwawancarai karena dianggap memiliki kredibilitas akademik. Kalau sulit mencari tokoh masyarakat, misalnya, maka bisa dibuatkan nama organisasi. Abal-abal alias tak jelas eksistensinya pun bisa untuk tipu-tipu dikit.

Mau pakai atas nama forum ini atau paguyuban itu sebagai narasumber, tak soal. Toh, publik tak akan mencari tahu lebih jauh, apalagi memverifikasi keabsahan sebuah institusi. Kepercayaan publik toh sudah dimandatkan kepada jurnalis atau institusi media secara aklamasi. (Maka tak aneh kalau pers dianggap sebagai pilar demokrasi keempat, setelah lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif, karena strategisnya posisi)

Saya hanya bisa berharap, semoga wacana Solo segera hilang sebab implikasinya bisa panjang. Tak hanya kerabat Kraton Surakarta sebagai ahli waris yang bisa ikut menyoal, kalangan sejarawan, ahli hukum, politisi pun berhak ikut membela atau menentangnya. Begitu pula masyarakat, sebagai pemilik kedaulatan budaya yang sesungguhnya.

Yang tak kalah mengkuatirkannya, karena ini menjelang pemilihan kepala daerah, pemunculan isu itu bisa memicu konflik politik, baik di level elit maupun massa pendukung. Pasalnya, salah satu kerabat Kraton Surakarta akan ikut berlaga dalam pilkada, April mendatang.

Mari kita lihat, siapa sesungguhnya yang bermain-main dengan menggunakan isu seksi seperti Solo ini? Jangan lupa, cermati pula, untuk kepentingan apa/siapa mereka berwacana…

5 thoughts on “Curiga Pembuat Wacana

  1. hakakaka ngkakak moco komen e suryaden, memang biasanya nama kota ngadopsi dari nama sesepuh.. bisa jadi kejadian yang dijadi2kan..

    lha saiki malah aku sing bingung kang, sejatine solo kui surakarta, opo dua kota yang sama-sama beda tapi ada di satu lingkup geografis yang sama? (kota tradisional dan kota modern dengan manajemen yang sama sekali pisah tapi yang dimanajemeni wong sing podo)

    piye jal anggonmu njelaske?

Leave a Reply