Surakarta atau Solo

Beberapa hari ini, muncul wacana menjadikan Solo sebagai pengganti Surakarta. Dimotori oleh para pensiunan pegawai Pemerintah Kota Surakarta, ide itu disambut antusias oleh pers setempat. Harian Solopos, misalnya, menunjukkan sinyal dukungan. Bisa saja di-klop-klop-kan karena ada unsur kata Solo pada brand-nya.

Sejumlah sosok pun merasa lebih suka dengan sebutan Solo, dengan alasan nama itu sudah mendunia. Ada batik Solo, Soto Solo, Sate Solo, dan… yang sering menggoda fantasia adalah Putri Solo. Batik Surakarta atau yang serba Surakarta, menjadi asing sebab jarang terucap. Jarang terucap, boleh jadi karena tak pernah diingat. Begitu juga kata Sala. Lebih nyaris tak dikenali lagi.

Bagi saya, ini wacana menarik, sekaligus menggelitik. Beberapa teman menanggapi kicauan saya di Twitter secara beragam. Ada yang mengatakan Solo lebih keren. Ada yang menyebut branded, bahkan. Mas Budiono Darsono pun berkicau demikian:  pernah ke solo? Pernah. 3 kali! Kalau ke Surakarta? Wah Belum pernah.

Bagi wong Bojonegoro seperti Mas Budi, nama Solo pastilah lebih akrab. Tiap tahun, tanpa iringan lagu ciptaan Gesang pun, air Bengawan Solo selalu meluap di kejauhan, hingga ribuan warga Bojonegoro harus menanggung celaka: terpaksa berenang di air kotor akibat kesalahan orang-orang hulu, yakni warga eks-Karesidenan Surakarta yang membiarkan lingkungan rusak hingga banjir ke mana-mana.

Ndorokakung, blogger kawakan van Yogyakarta menyarankan agar bikin referendum saja, warga maunya solo, sala, surakarta, atau london…*eh. Begitu tanggapan dia atas kicauan saya di Twitter. Sedang Mas Didi Nugrahadi, juragan Dagdigdug yang asli Turisari, Kota Surakarta, lebih suka Solo dibanding dua nama lain: Surakarta dan Sala.

Bagi saya, nama hanyalah kesepakatan umum dan sikap penerimaan bagi yang dinamai. Blontank Poer misalnya, saya anggap sebagai ‘brand’ semata. Toh, sebagian teman lebih nyaman dengan nama yang saya akui dan gunakan secara ‘resmi’ sejak 23 tahun lalu itu. Soal nama asli? Ternyata itu hanya (maaf) berguna urusan administratif saja: bikin SIM, KTP, paspor, buka rekening, dan surat nikah.

Tujuh huruf nama asli saya, lantas menjadi tak terlalu penting. Kalah dengan 13 karakter (termasuk spasi :p) yang telah branded! Hahaha…

Kembali pada Surakarta yang diwacanakan ganti nama jadi Solo, saya hanya ingin mengingatkan pada beberapa hal. Pertama, Surakarta diambil dari nama kerajaan penerus Dinasti Sultan Agung, kerajaan Mataram. Lengkapnya, Surakarta Hadiningrat. Terlepas dari naik-turunnya pamor kerajaan (sejak ada bangsawan yang berpihak ke kolonialis Belanda, hingga munculnya raja ‘sial’ kembar, maksudnya Pakubuwana ke-13), kita juga mesti mempertimbangkan –setidaknya mengapresiasi sejarahnya pula.

Kedua, nama Sala (huruf a dibaca seperti o pada tolol) yang diambil dari nama desa (ada juga yang menyebutnya cikal-bakal penduduk karena di desa itu pernah berdiam Kyai Sala). Itu terjadi kira-kira tahun 1740, ketika kerajaan Mataram harus dipindahkan dari Kartasura karena dianggap tak aman. Kebetulan, ketika Pakubuwana II bertahta, benteng kraton bisa ditembus Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning dari Semarang.

Akibat serbuan Sunan Kuning yang lantas terkenal dengan sebutan Gègèr Pecinan itulah, kerajaan dipindahkan. Semula, nama Kadipala dipilih, namun atas berbagai pertimbangan lantas dibatalkan sehingga menemukan nama Sala, yang diduga berasal dari salah satu spesies pinus (Pinus Merkusii) yang ketika itu tumbuh di sana, di kompleks kerajaan yang bangunannya masih kokoh hingga kini.

Ketiga, istilah Solo (dilafalkan seperti o pada kata soto), yang menurut saya hanyalah simplifikasi atau penyederhanaan pelafalan saja. Hanya karena berlangsung lama, dipakai banyak orang, lantas diterima apa adanya, sampai kini, ketika banyak orang mengucapkannya sebagai Solo (ingat kata soto), bukan Sala seperti kaidah penulisan dan pelafalan kata dalam Bahasa Jawa.

Saya paham, manusia modern cenderung suka hal-hal yang simpel, praktis. Apalagi yang menyukai dunia pencitraan, pasti brand akan menjadi sesuatu yang penting, karena itu harus diperjuangkan. Padahal, dengan atau tidak adanya perubahan nama itu, Solo sebagai brand tak perlu dikampanyekan lagi. Awareness-nya sudah menjangkau seluruh dunia, kok. Lihat saja dokumen-dokumen kuno di Universitas Leiden, atau pusat informasi wisata.

Bahwa banyak orang tak mengenal nama (formal) Surakarta, sebab sejatinya mereka tak pernah memerlukan hal-hal formal administratif karena ketika berhubungan dengan Solo, mereka tak membawa proposal proyek atau dokumen tender. Jadi, biarkan nama Surakarta tersemat di mana saja, seperti yang sudah terjadi selama ini.

Apalagi, meski terkesan gampang, untuk mengubahnya mesti melalui perubahan Undang-undang No. 16 tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kota Besar dalam Lingkungan Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

(Ingat: undang-undang ini belum berubah, sehingga secara legal, kata Jogja juga belum bisa menggantikan Jogja atau Jogjakarta. Nyatanya, Yogyakarta di-branding jadi Jogja, pun tak jadi soal, bukan? Dan kita lupa, berapa ongkos rapat-rapat dan sosialisasi untuk mengubah undang-undang ketika semua ‘stakeholders baru giat bekerja ketika ada uang?!?)

Referendum memang pilihan bijak, meski konsekwensinya mahal. Tapi, apa salahnya membiarkan saja apa adanya seperti sekarang saja? Apalah arti sebuah nama, kata Pakdhe Shakespeare… Ya, seperti kata Blontank Poer yang menggantikan tujuh huruf itu sajalah. Kalau masih kesulitan, Mbah Gugel toh bisa membantu Anda kapan saja dan di mana saja, asal Anda memintanya, bukan?

Gitu aja kok repot!

Jika tertarik, silakan ikut polling gaib tentang pergantian nama Surakarta di sini

24 thoughts on “Surakarta atau Solo

  1. dua-samudera

    hahahaha, sama aja. Tiga nama itu punya peranan masing2. Surakarta dalam hal administrasi lebih formal dan keren. Solo lebih ringkas, unik dan menjual. Sedangkan Sala (kedua huruf o dibaca seperti pada kata sorong/potong/dorong/bengong) itu lebih pada pelafalan masyrakat Jawa. Kotanya satu tapi namanya banyak. ya ndak apa-apa. Wong nama kita juga banyak toh. ada temen yang manggil ini, ada yang itu. Malah unik. Kayak jogja.

  2. hendromasto

    nganu, senada dengan mas djaka.

    arswendo yg nulis kitab solo sepertinya begitu sembrana dengan menabalkan pinus merkusi sebaga pohon asal kata sala. pinus merkussi hanya bisa hidup di atas ketinggian muka laut 200 meter. sala (dalam angka) hanya punya ketinggian rata-rata 90-an meter di muka laut. soal pohon sala, bisa dilihat di bekas rumah ki gede sala yang sekarang berada di belakang tatag rambat kraton kasunanan (tak jauh dari ‘singgasana’ nyai setomi).

    nuwun

    wah, panjenengan malah pirsa katha makaten, kok. mugi-mugi Mas Wendo maos… nuwun.
    /blt/

  3. hmmm…sala atau solo ya?

    Soal sejarah, harus & penting sekali dicatat & tidak boleh, ulangi, tidak boleh dilupakan. Baik atau buruk itulah kota kita. Kalau bagus harus dijaga lalu ditingkatkan. Kalau buruk harus diperbaiki.

    Mendukung penggunaan kata solo bukan berarti lantas mengabaikan hal-hal penting dibelakangnya. Sama sekali bukan itu. Keinginan menggunakan kata solo lebih untuk mendukung program komunikasi pemasaran yg dijalankan pak walikota, Jokowi, dengan luar biasa. Upaya dan hasilnya tampak nyata. (eh, ternyata pak Jokowi alumni SMP 1 lho. Salam alumni pak)

    Namun apapun nantinya nama yg dipilih/ditentukan/disepakati, saya akan berdiri di depan untuk membantu sepenuh hati program memasarkan kota yg kini sudah antik.

    Salam hormat untuk pak Jokowi, seluruh tim pendukung di pemerintahan dan seluruh warga masyarakat solo yg telah bahu-membahu menjadikan solo seperti sekarang ini, cantik.

  4. djaka

    Wah telat baca, malah baru ngerti ada isu ini. Sekedar komen boleh ya mas wartawan?

    Sala itu bukan Pinus merkusii, tapi Couroupita, sejenis pohon suci bagi orang Buddha. Kalau saya sih gak masalah mau Surakarta atau Sala ( tidak Solo!). Tapi sebetulnya apa sih yang sensitif di sini ? Semoga bukan lagi persaingan antara Kasunanan dan Mangkunegaran.

    ya sip. soal nama latin, kuambil dari buku Kitab Solo. untuk para pembaca, silakan saja. mungkin buku yang saya kutip salah data.
    matur nuwun Kang Djaka… yang terasa, tak ada hubungan antara persaingan keduanya, kok…
    /blt/

  5. Tentang pohon Sala, aku pernah dapat kembangnya, ketika mampir ke Vihara Watugong Semarang.
    Menurut pengelolanya, itu adalah 1 dari sedikit pohon Sala yg masih ada.

  6. Untuk kesekian kali soal ini dibahas, bagusnya yang di sini lebih mengemuka. Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat adalah dua wilayah yang memiliki beberapa pelafalan dan penyebutan — bahkan Yogya lebih banyak variannya. Hasil terakhir: nama provinsi DIY(ogyakarta) tapi gubernur merangkap sultan menetapkan merek “Jogja”.

    Lantas bagaimana dengan Solo, Sala, Surakarta?

    Untuk branding, kalau mau gampang, ikuti saja yang kadung lumrah di kuping khalayak. Bagi saya yang lebih penting ini: setiap pengucap tahu nama lain, terutama nama resmi, dari nama yang dijadikan brand. Terus terang saya kemarin gumun, karena mendengar seorang putra Sala bilang, “Kalo Surakarta itu kan nama karesidenan.”

    sepakat, Man. prinsipnya, saya tak terlalu menyoal seandainya para pengusul punya argumentasi yang rasional. toh, selama puluhan tahun, pemakaian nama Solo dengan Surakarta tak pernah jadi persoalan. yang berurusan dengan ‘Surakarta’ juga tak pernah punya problem, begitu sebaliknya dengan pengguna ‘Solo’ dan masyarakat kebanyakan.

    kalau memang ada urgensi mengganti nama oleh sebab tertentu, misalnya, bolehlah itu diperdebatkan, dicarikan jalan pemecahan, dan kalau perlu, ya dilombakan sekalian. hahaha…
    /blt/

  7. hmmmm tnyt lafal yg diucapkn dosen sy qt menyebutkn kt Solo’ it tulisanny Sala..

    sy t’tarik dg pmbincangan ini.. isu2 sprti mbuat warga ny lbh perhatian dg isu lokal.. sy meskipun bkn pnduduk Solo sngt t’tarik dg wacana ini..

    mnrt sy munculny nama mnjd suatu nama kota psti puny sejarahny bkn krn asal comot tnp makna dan arti.. biarkn nama asli Solo (alias Surakrta) tetap dipertahankan krn it brrti qt melestarikn budaya jk qt enggan utk melestariknny maka kmgknan anak-cucu qt ke dpnny tdk akn prnh mengenal

    walaupun cara penulisannya seperti (maaf) remaja: malas-malasan menyusun huruf menjadi kata, tapi menyimak pesannya, sampeyan orang pinter dan asyik. buktinya juga suka isu-isu ‘remeh’ menurut kebanyakan orang masa kini. terima kasih, mari kita lanjutkan diskusinya…
    /blt/

  8. Jlitheng

    Sementara iki mbok mikir liyane dhisik sing luwih murakabi, kaya ta, upamane, piye carane Solo utawa Sala utawa Surakarta ora sangsaya entek dibadhog cukong sing malah ngrusak tatanan lan kabudayan…

    saestu makaten. kula sarujuk kaliyan penjan…
    /blt/

  9. abufathan

    1. Pensiunan ki mbok wis enggar2 menggalih ra usah sok perhatian. (kira2 sewaktu masih jadi birokrat, kerjaannya apa ya)
    2. Alasan pengusulan pergantian nama begitu sederhana, karena Solo lebih terkenal daripada nama resminya, Surakarta. (Kira2 setelah ini, paguyuban itu mungkin akan usul agar nama walikotanya pakai yang sudah terkenal saja, Jokowi daripada nama resminya Joko Widodo)
    3. Apa ya ndak mikir, ganti nama bukan urusan gampang dan butuh biaya yang tidak sedikit. untuk ganti kop surat, stempel, papan nama dll saja akan habis berapa banyak duit (la mbok sudah dipakai untuk kepentingan yang lebih banyak manfaatnya bagi rakyat miskin).
    4. Yang terpenting sebenarnya, energi, waktu, biaya dan berbagai hal untuk mengegolkan pergantian nama itu apakah sebanding dengan perubahan penghidupan warga solo to? dengan kata lain, apakah setelah nama itu diganti, terus warga solo akan hidup lebih layak?
    5. Dll

    asyiik…. idenya bernas sekali. semoga pada membaca masukan seperti ini. makasih, nggih….
    /blt/

  10. ael

    Mungkin ga ya suatu saat ada ontran-ontran kaya gini lagi dan kesepakatan yang besok dicapai untuk penamaan kota ini (entah itu Surakarta atau Solo) mbesuk-mbesuk menjadi masalah lagi?

    mungkin penamaannya akan menjadi satu karakter yaitu (hanya) karakter ke 15 dalam abjad saja (kalau yang terakhir ini hanya kelakar saja, hehe..) :p

    kok kelakar, sih? betulan saja malah asyik. jadi pemberani gitu, lho…
    /blt/

  11. wah ndadak ngganti KTP wong sak kutha sala, kop surat, papan nama, lll, gek piro ragad-e kuwi mengko

    p.s. sukoharjo diganti “sukarjo” utawa malah “karjo” sisan mestine ya luwih branded, terutama di kalangan bis dan angkot. lol

    karjo…karjooo….. karjo, giri, citaan….. (kaya kernet)
    /blt/

  12. Nama Surakarta memang lebih cocok buat urusan adminstratif daftar akun online, sedang Solo lebih enak untuk sms, plurk dan twitter sebab ngirit karakter. Dan Sala hanya diketahui orang-orang tertentu seperti 7 huruf itu. hehe.

    wakakaka…. tujuh huruf!
    /blt/

Leave a Reply