Pemabuk Intelek dan The Twitters

Kata twit menurut AlfaLink berpadanan dengan mengejek, menggoda. Sedang twitter dipadankan dengan cicit-cicit, kicau. Apapun padanannya, kini saya sedang tergoda dengan kicauan di situs jejaring sosial Twitter. Namanya saja kicauan, tentu ada yang merdu, tapi tak sedikit pula yang berisik dan mengganggu.

Uniknya, kicauan para tweeps bisa jadi rujukan informasi yang menarik, menggoda untuk ingin lebih (mencari) tahu. Mulai cerita macetnya jalan akibat adanya rombongan demonstran, hingga kicauan tentang konflik dua menteri, yang menurut saya mengganggu. Kenapa terganggu, sebab nalar dan feeling saya belum bisa menautkan perihal konflik dua orang berinisial ARB dan SMI dengan aliran dana bailout Bank Century, yang saya yakini bocor ke mana-mana.

Membingungkan memang. Makanya, saya tetap yakin dengan pendirian saya, bahwa skandal Bank Century bukan urusan Robert Tantular dan teman-temannya sebagai pemilik saham. Ada misteri yang belum terungkap gamblang hingga kini. Ribut menjelang berakhirnya Pansus Century dan berita tarik-ulur anggota koalisi, bagi saya, itu memberi petunjuk mengenai besaran persentase tingkat keraguan yang saya miliki.

Sungguh, ribuan kicauan yang dipancarkan oleh jutaan orang tiap hari, menyodorkan kepada kita sebuah puzzle yang bisa kita susun sendiri sehingga menemukan kebenaran subyektif. Saya termasuk jenis orang suka ngotak-atik pesan, mencermati arah dan maksud si pembuatnya, dengan berpedoman pada fakta-fakta subyektif yang sudah saya miliki sebelumnya.

Mari kita simak baik-baik. Seburuk-buruknya isi pesan atau kicauan, tampak tak banyak yang punya niat bermain-main, kecuali satu dua yang berbagi joke atau cerita-cerita ringan sebagai penghiburan bagi para followers­-nya. Boleh saja Anda menyebut pekicau itu seperti kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut seorang pemabuk.

Sebagai orang yang lama bergaul dengan pemabuk, saya justru mengapresiasi keberadaan mereka. Terlepas dari soal setuju dan tidak setuju pada perbuatan mabuk, saya justru banyak menemukan pelajaran hidup dari mereka. Tak jarang, pada posisi mabuk seseorang bisa lebih jujur mengungkapkan perasaan dan pendapatnya dibanding saat waras. Apalagi bagi orang-orang introvert.

Sewaktu kuliah dulu, saya memilih ‘belajar’ dari teman-teman pemabuk. Dari 200-an teman seangkatan, terdapat sekitar tujuh orang pemabuk yang membentuk gank. Di sini, saya ingin menyebut mereka sebagai pemabuk intelek. Saya sebut demikian, sebab keseharian mereka sangat lekat dengan buku. Akrab dengan teks.

Hampir semuanya menggemari novel dan bacaan-bacaan filsafat. Seperti berlomba, masing-masing pada kontes banyak-banyakan sumber bacaan. Banyak nama yang sering mereka sebut. Ada K. Bertens, Bertrand Russel,  Erich Fromm, F. Schumacer, Alvin Toffler, Neil Postman, Jalaludin Rahmad, Leo Tolstoy, Anton Chekov, Jujur Prananto, Sindhunata, YB Mangunwijaya, dan entah siapa lagi.

Saya tak tahu siapa nama-nama yang mereka sebut itu. Karena malas belajar saja, kadang saya melontarkan pertanyaan terkait mata perkuliahan yang saya tak paham, ketika mereka sedang berkumpul, dan sedang mabuk! Ramai diskusi antarpemabuk hanya saya dengarkan, sambil diam-diam mencari bahan untuk kemudian saya cocokkan dengan referensi seadanya yang saya punya. Aman, walau rata-rata cuma dapat nilai dua koma, namun sedikit banyak bisa mengendap di kepala.

Karena membahas satu tema sambil mabuk berjamaah secara panjang lebar, sayalah yang sangat diuntungkan. Apalagi, ketika itu mereka rajin baca Kompas Minggu, yang selain menampilkan cerpen-cerpen bermutu, juga artikel-artikel budaya yang dilontarkan pemikir-pemikir kebudayaan kontemporer di Indonesia. Dari sana, teman-teman jadi kerap berlomba, cepet-cepetan membuat artikel untuk dikirim ke berbagai media massa.

Unik dan asyik. Honor tulisan mereka yang diterbitkan lantas dibagi dua: separuh dibelikan buku dan sebagian lainnya dijadikan modal untuk beli gepengan (sebutan untuk Mansion House atau Vodka), agar lancar dan berani menyerang lawan diskusi dengan argumentasi (dari buku-buku yang mereka punya, tentunya).

Apakah orang mabuk itu hilang kesadaran sehingga pernyataannya tak memiliki makna? Sejauh pengalaman yang saya rasakan, saya harus menjawab tidak! Sama halnya dengan orang berkicau di Twitter, saya tak menganggapnya sebagai mengirim pesan tanpa makna. Tinggal bagaimana kita memilah dan menyikapi pesan-pesan yang terlontar dari mereka. Pemabuk dan pekicau, sekilas tak ada beda.

Sependapat atau tidak, ya terserah Anda. Wong di sini, saya juga cuma meracau…….

* terima kasih pada Zam yang sudah mengingatkan kekeliruan penyebutan hingga perlu ralat.

9 thoughts on “Pemabuk Intelek dan The Twitters

  1. melihat kata-kata “Pemabuk Intelek” mengingatkan saya pada kaos pemberian dari sebuah kumpulan anak2 muda di kota Jogja yang bertuliskan “Bajingan Terhormat”, genah males nganggone to.. btw saya blom nyemplung di dunia perkicauan itu, jadi saya ndak tau apa aja yang sudah terjadi disana..mungkin suatu saat..

    tapi, kamu menjadi tidak terhormat sejak pergi dari Plurk, lho…..
    /blt/

  2. mereka (terjemahan dari they) sepertinya mulai resah dengan ricauan-ricauan penghuni negeri ini, hingga membuat pagar-pagar pembatas dan / atau malah membatasi ricauan agar tindak tanduk mereka (terjemahan dari they) –terutama yang negatifnya– tidak ter-sebarluaskan seantero negeri. dan sepertinya mereka (sekali lagi ini terjemahan dari they) mencoba mengubur dalam-dalam arti dan tugas seorang pembantu (dibaca: wakil yang dipilih oleh kita-kita —-padahal 2 kali taun 09 saya tak memilih satu pun) yang seharusnya memang benar-benar membantu apa keinginan dan harapan kita-kita, bukan malah menjejali dengan permen pahit, dan aturan-aturan (ibaca: uu) pengekangan dan pembodohan serta opera sabun coleknya yang ngga mutu banget semisal curhat publik yang sambil memelas-melas meminta dikasihani…… heu heu heu …….

    curhat itu strategi juga, lho….. eh, strategi apa hobi?
    /blt/

  3. Hahaha, baru tahu aku, sisi lain pemabuk.

    Tapi kalau masalah Century, mereka nggak mabuk tapi ngomongnya nggak mudengke. Atau dipaksa mabuk aja biar jujur. Hahaha *guyon, bukan ide yang baik*

    hahaha… sungguhan juga gak apa-apa, kok. siapa tahu, saat mabuk mereka jadi jujur… :p
    /blt/

  4. “hilang kesadaran sehingga pernyataannya tak memiliki makna?”
    kayaknya ndhak kok pak bhe..wong saya juga pernah liat orang mabuk..
    biasanya orang mabuk itu kalo ngomong jujur,ndak membatasi apa yang diomongkan atau menutup2i fakta..

  5. Keknya sekarang juga banyak yang mabuk tuh Pakdheee…..!

    Mabuk kahanan…. karena dah terlalu banyak perilaku yang nggak mutu
    Ada yang merasa tersinggung karena kebo, seolah olah difitnah nan keji, karena sang pemfitnah katanya dah nggak santun……
    Ada lagi Pak Jenggot yang jualan permen ber-konten….
    Dan juga Ada Pak Tonang yang bener-bener nggak tenang karena ulah sang gembala di tengah kota… so bikin larangan “kebo dilarang lewat jalanan (ibukota)”

    Beneran Warna warniiiiiii, semua dech ada disini…. (Presenter style)
    ;(

    ya ampyuunnn…seriousnyaaa…
    /blt/

  6. Selama masih bisa ngecu sebelum kena RPM Konten karena mengicau kritik para pembuat aturan.
    Entah karena tidak suka dikritik atau hanya ingin tampak baik.

    tak mau dikritik karena nyaris belum pernah baik…
    /blt/

Leave a Reply