Berharap pada Cina

Malam ini, asyik juga nonton Rossy, yang menghadirkan peranakan Cina yang jadi polisi untuk diwawancarai. Sayang. perempuan polisi itu menuliskan namanya Yolla di setelah pangkatnya: Brigadir Satu. Sungguh menarik kalau ia menuliskan nama kecilnya, sebauh nama Cina, Chiang Mei Xiang (semoga saya tak salah menuliskan namanya).

Peranakan Cina menjadi polisi baru saya tahu kini, meski (kalau tak salah ingat) pernah ada sebelumnya. Di TNI, saya malah belum pernah mendengar, apalagi tahu atau bertemu. Kalau pegawai negeri, saya sudah pernah menjumpai, meski hanya beberapa. Salah satunya bernama Oh Bun Lan, yang kini sudah pensiun dari pegawai Kantor Pajak di Semarang.

Oh Bun Lan, bagi saya, bukan seorang Cina. Ia seperti orang Jawa kebanyakan, hanya berdialek Semarangan. Sering dia, itri dan anak-anaknya berkunjung ke rumah saya, dan masuk rumah tidur di atas tikar sambil menunggu ibu atau bapakku pulang kerja. Kami seperti keluarga, padahal kenalnya juga tak terduga. Hanya karena ia sekantor dengan paman saya.

Sama seperti Mei Xiang yang ‘bernama’ Yolla, Om Bun Lan memakai Buntoro sebagai nama resmi ‘kedinasan’. Sekilas pilihan nama itu merupakan kerelaan. Padahal, itu merupakan catatan sejarah kelam kebangsaan. Sebuah kebijakan yang direka-reka Soeharto pada masa-masa awal berkuasa, demi pembeda semata. Yang ‘ikut’ Soeharto harus membumikan nama, terserah mau beraroma Jawa, Sunda atau suku-suku yang menjadi mayoritas di mana ‘Si Cina’ tinggal. Pokoknya, asal jangan Cina!

Karena itu, identitas kultural mereka harus disembunyikan. Soeharto yang suka hal-hal serba mono, tunggal dan seragam, pun terus membuat kebijakan-kebijakan yang mengukuhkan atribut sosial peranakan Cina ke dalam satu sektor semata: bisnis! Ya, hanya di sektor ekomoni saja mereka dikotakkan. Dalam rentang waktu sangat panjang, Presiden Kedua Indonesia itu membatasi peranakan Cina menjadi pegawai negeri, polisi atau militer.

Kita tahu, stereotip bahwa peranakan Cina itu pengejar untung semata, pelit dan asosial lahir dari situasi politik yang serba monolitik, dikendalikan oleh rezim yang sangat kuat. Ujung-ujungnya, prasangka sosial yang dibumbui penyakit cemburu sosial akut, terbukti menorehkan luka yang teramat dalam lewat Kerusuhan Mei 1998. Banyak peranakan Cina mati sia-sia, sebagiannya diperkosa, dan yang terbanyak: dihanguskan rumah dan lahan usahanya setelah dijarah hartanya.

Memang, prasangka terhadap peranakan Cina masih ada di mana-mana, meski sudah mereda setelah Tragedi Mei itu. Kerusuhan 1998 menjadi titik balik bagi interrelasi peranakan Cina dengan suku-suku lain di Indonesia, apalagi banyak orang merasa, penjarahan dan penghangusan Cina pada tahun itu hanya buah provokasi politik semata.

Dan, KH Abdurrahman Wahid sebagai presiden membuka pintunya, dengan menyerahkan kembali hak-hak peranakan Cina yang telah dirampas penguasa Indonesia, yakni menjalankan syariat ke-Cina-an yang tak mungkin dipungkiri. Kita tahu, tak cuma Cina, semua bangsa di dunia memiliki tradisi meneladani budaya nenek moyang mereka. Imlek, barongsai, Taoisme, Konghucu dan tetek bengek yang berbau Cina, sama derajadnya dengan sadranan atau tradisi bersih desa.

Beruntung, Pemerintahan Megawati meneruskan pembangunan rumah kebangsaan yang pondasinya telah dibuat oleh Gus Dur. Tahun baru Imlek dinyatakan sebagai hari libur nasional, Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) dihapuskan dan sederet kebijakan yang menjunjung tinggi hak-hak sipil dan kulturalnya.

Ingin sekali rasanya, saya segera melihat peranakan Cina menadi polisi, pegawai negeri, tentara, atau profesi-profesi lain yang berhubungan dengan publik luas, sehingga bisa mempercepat terjadinya silang budaya, akulturasi yang sesungguhnya, dan sebagainya. Selain Briptu Chiang Mei Xiang, saya juga bermimpi ada infanteri bernama Liem, penerbang Han, atau marinir Tan.

Tak cukup rasanya saya hanya mengenal Oh Bun Lan, Sofyan Tan, Chiang Mei Xiang, Margarita Astaman, Tiki Budiono, Amin Santoso, Stanley Adi Prasetyo, dan entah siapa lagi. Dulu, banyak nama Cina terlibat dalam pergerakan kemerdekaan, juga membangun pondasi demokrasi di negeri ini. Tak perlu lagi orang Jawa, Sunda, Batak, Padang, Bugis dan sebagainya merasa lebih pribumi, dibanding peranakan Cina, Arab, India. Sebaliknya, tak perlu pula kita menganggap orang barat serba hebat. Kita semua sama.

Kalau kita mau mengupayakan mewujudkan Indonesia yang bhinneka, lebih beradab dan kian maju, maka inilah kado terindah di tahun macan. Sekaligus memaknai Valentine’s Day tahun ini dengan menebar kasih sayang tanpa membeda-bedakan suku, ras, agama dan sebutan-sebutan tak bermutu lainnya.

Gong Xi Fat Chai

7 thoughts on “Berharap pada Cina

  1. bisa dikatakan sampai sekarang pun sebenarnya, Indonesia masih tetap tidak bisa lepas dari cina, sehingga pemerintah mengesahkan untuk menjadikan warga cina yang tinggal di Indonesia menjadi warga negara Indonesia juga. Intinya saling menghargai saja satu sama lain, walau mereka bukan orang Indonesia asli. pemikiran agan, jadi bahan masukan juga bagi kami, terima kasih.

  2. ari kristyono

    keturunan China jadi TNI? he he, sering gak di kampus dulu melihat pak tua kurus yang suka naik Honda CG item, sering pura-pura jadi loper koran? Itu Serma Budi, Intel Kodim.

    Terus ada lagi beberapa, tapi biasane masuk lewat jalur perwira wamil. Dan sayangnya juga muncul tudingan miring, keberadaan mereka mau jadi tentara, hanyalah untuk mengamankan bisnis keluarga. Apa ada yang benar seperti itu, entahlah.

    Tapi Pak Budi itu, setauku tentara tulen.

    wah, kasihan Pak Budi. semoga, ke depan banyak lagi tentara, polisi, PNS dan pekerja apa saja dari peranakan Cina. supaya makin baik negeri ini…
    /blt/

  3. ho’oh dhe, tdi lihat juga pas di metro..
    saya juga baru tau klo ada polwan peranakan cina..

    Gong Xi Fat Chai & selamat hari kasing sayang, dhe..

    sayang casing apa kasih sayang? sing bener yen nulis, Mo…
    /blt/

  4. Saia baru tahu ada budaya Cina di Indonesia setelah kakakku menikahi ‘peranakan Cina Menado’

    aku tak punya keluarga Cina. tapi ada yang dapat suami Papua. jadi, itemku ada yang menemani :p hehe…
    /blt/

  5. wah seandainya gus dur nggak ada gek piye indonesia jal

    ya gak masalah. Gus Dur kan hadir ‘kebetulan’. kalau tak ada yang Gus Dur, Gusti Allah pasti mengutus yang lain, ta…
    /blt/

Leave a Reply