Festival Pecinan di Solo

Festival Pecinan yang meriah di kompleks Pasar Gede

Suasana perayaan Festival Pecinan di kompleks Pasar gede

Grebeg Sudiro, demikian nama resmi festival dalam rangka menyambut tahun baru Imlek dan Cap Go Meh itu, adalah salah satu bentuk pengakuan resmi pemerintah. Dan ramainya festival, menjadi bukti bahwa sejatinya, tak ada persoalan antarwarga, apapun latar belakang agama maupun rasnya. Kerusuhan Mei 1998 hanyalah karya sutradara besar, kecerobohan oknum meneruskan proyek ilusionis kolonial, divide et impera!

Beruntung, setelah kerusuhan Mei itu, seorang kiai muda mengajak saya terlibat dalam beberapa kegiatan rekonsiliasi. Eh, bukan. Tak ada konflik kok rekonsiliasi… Pokoknya, kurang lebih aneka bentuk kegiatan dalam rangka pemulihan trauma, juga kampanye antidiskriminasi.

Penjaja kue keranjang

Dari sana, saya memiliki akses ke beberapa tokoh dan warga peranakan Cina di Solo, sehingga memudahkan penggalian informasi serta gambaran utuh mengenai nasib peranakan Cina, khususnya di Solo. Terutama, saya sangat terbantu oleh Haksu Tjie Tjay Ing, yang walau sudah sepuh, namun masih enerjik, asyik dan dan menjelaskan panjang lebar mengenai kebudayaan Cina dengan sangat gamblangnya.

Sebagai ‘dewan Syuro-nya’ umat Konghucu, beliau memang alim. Cool dan bisa menerangkan hal-hal yang bersifat otokritik, antara lain kekeliruan sikap sebagian peranakan Cina yang berakibat pada stereotiping hingga muncul stigma negatif terhadap kaum keturunan itu.

Politik rezim Orde Baru yang melarang semua ‘bau’ Cina, sangat terasa hingga muncul kebijakan penyatuan klenteng menjadi tempat persembahyangan umat dengan keyakinan berbeda, sehingga banyak penganut Konghucu yang ‘terpaksa’ memeluk Budha, daripada dicap subversi oleh penguasa. Intinya, kata klenteng itu Cina, maka harus di-Indonesia-kan menjadi rumah ibadah Tri Dharma.

Kini, 12 tahun setelah Tragedi Mei, semua kalangan sudah tahu diri. Satu dengan yang lain sudah merasakan saling membutuhkan, karena itu perlu saling bekerja sama, membangun kota dan memetik manfaat bersama. Dikotomi Cina-Jawa kian tak terasa dibanding sebelum kerusuhan terjadi. Dan peristiwa memilukan dan memalukan itu, rupanya membawa hikmah, yang bisa dirasakan kini.

Pasca-kerusuhan itu, gotong royong dan ronda menjadi kelumrahan. Kecemburuan sosial yang melahirkan prasangka, pelan-pelan terkikis. Menjadi tanggung jawab bersama, untuk lebih menggiatkan lagi pola hubungan tradisional ala kampung dan pedesaan Indonesia semacam itu. Gotong royong bersih-bersih kampung, misalnya, seyogyanya dilakukan bersama, dan mesti menghilangkan model menyuruh orang dengan bayaran. Kebersamaan lebih penting, sebab kontribusi sosial menjadi lebih nyata.

Kemeriahan pesta menjelang Imlek, dirayakan banyak orang

Bahwa belakangan saya mencium gelagat yang (menurut saya) kurang baik dan bisa kontraproduktif dalam jangka panjang, adalah mulai munculnya bentuk kepedulian semu, sebuah relasi sosial yang timpang. Sebuah organisasi kemasyarakatan yang dimotori peranakan Cina, misalnya, beberapa kali tampak overexposed karena menerapkan model ‘tangan di atas’ secara kasat mata.

Berdoa, berharap kebaikan pada masa mendatang

Pemberian sembako atau santunan bagi warga miskin itu baik dan terpuji. Namun kalau terlalu sering, apalagi tampak seremonial dan banyak ‘mengundang’ wartawan?!? Hmm.. Saya kuatir saja, meski sadar pula, mungkin itu menjadi berlebihan. Satu hal yang sering dilupakan adalah ciri orang Jawa Mataraman, yang malu dianggap (apalagi diposisikan) miskin atau tidak beruntung. Jelas seharian tak makan saja, kalau ditawari makanan cenderung berkilah atau mengaku ‘masih kenyang’.

Itulah ciri kultur yang masih hidup hingga kini. Cara mengutarakan pendapat yang muter-muter dan penuh metafora adalah ciri lain warga Jawa pedalaman. Karena itu, pemahaman kultur antara banyak subkultur menjadi penting. Mungkin, itulah seni pergaulan, yang sejatinya tak bisa diremehkan.

Jujur, saya juga mengangankan tak ada lagi eufemisme di antara sesama manusia, terlepas dari agama, etnisitas dan hal-hal atributis lainnya. Termasuk, saya lebih suka menggunakan istilah peranakan Cina daripada Tionghoa. Sama dengan saya yang peranakan Jawa, atau sahabat saya, Ahmad Fahmi yang peranakan Arab.

Terutama dari kalangan peranakan Cina di Solo, saya berharap agak berlebihan. Yakni munculnya orang-orang yang tidak merasa terbelenggu dengan ke-Cina-annya seperti Margareta Astaman, perempuan muda yang belum lama saya kenal. Juga, Tiki Budiono, peranakan Cina kelahiran Semarang yang sejak pertama kali diperkenalkan oleh Arbain Rambey, saya tidak pernah menganggap dia sebagai peranakan.

Kala itu, kira-kira empat atau lima tahun silam, saya yang Jawa bermain bersama-sama dengan Tiki, Ahmat yang Arab dan Arbain yang jelas bukan Jawa, seperti orang yang sudah bersahabat sejak kecil. Aneh tapi asyik. Seasyik pemandangan di Pasar Gede tempo hari, ketika semua orang tumpah ruah menyaksikan alunan musisi-musisi peranakan Cina melantunkan tembang-tembang Jawa seperti Gambang Suling hingga Bengawan Solo, dengan instrumen musik khas Mandarin.

Gong Xi Fat Chai!

3 thoughts on “Festival Pecinan di Solo

  1. Baru selesai baca laporan “Solo Bangkit” yang diterbitkan Solo Pos nih Pakde. Kalau menyaksikan kemeriahan Grebeg Sudiro ini, tak ada kesan bahwa dahulu kota Solo pernah dilanda kerusuhan berbau SARA. Semoga situasi aman dan nyaman ini tetap berlanjut untuk selama-lamanya.

    wah, aku malah belum baca tuh, Wij. pinjem dong… bagus gak?
    /blt/

Leave a Reply