Selalu Bilang Yes

Pak SBY, sampeyan itu mbok ndhak usah banyak mengeluh atau mengadu. Kata orang Jawa, aja kakehan sebut. Yang begitu itu tabu. Saru, ora ilok. Kalau saja orang-orang yang demo bawa kerbau itu tidak sampeyan ungkit, sampeyan jelas-jelaskan, mungkin situs jejaring sosial bakal ramai dengan sindiran untuk sampeyan. Tuh, baca kata Akbar Tandjung.

Asli, saya sedih dengan pilihan strategi komunikasi sampeyan. Sajake, sampeyan menyukai model komunikasi yang salah. Sepertinya, sampeyan mau meniru komunikasi politik gaya Jawa yang dulu dipakai Pak Harto, mencoba model pasemon. Jaman sudah berubah, Pak… Orang Jawa kini sudah pada berpikir dan bersikap lebih terbuka dan egaliter, lebih senang suatu hal disampaikan secara to the point, tak lagi berbelit eufemisme yang sok sastrawi.

Meski pada semua bahasa itu melekat rasa, namun sungguh beda makna rasa bila sebuah ungkapan ‘di-Jawa-kan’. Ya seperti soal kebo kemarin itu. Kenapa sampeyan justru ngonceki candraning kerbau? Sebagai wong Jawa, sampeyan pasti tahu istilah yang dipakai para orang tua dan guru ketika memotiviasi anak-anak agar sekolah dengan tekun, supaya tidak bodho longa-longo kaya kebo.

Coba, deh dicermati lagi, berapa kali sampeyan sambat sebut, yang hasil akhirnya justru blunder buat sampeyan sendiri? Usai bom Marriot dan Ritz-Carlton, sampeyan konperensi pers lalu menunjukkan foto sampeyan jadi sasaran tembak dalam latihan perang sebuah kelompok ora mutu. Apa hasilnya? Sampeyan malah jadi ledekan publik dan media, sebab foto yang sampeyan bawa ternyata terbukti basi.

Gara-garanya, menurut saya sih ‘sepele’ saja. Itu karena sampeyan juga selalu bilang yes pada laporan yang masuk. Seperti tak ada filtering atau mekanisme recheck, foto yang sudah beredar di gedung DPR pada 2004 masih dimunculkan lima tahun kemudian dan dibilang seolah-olah temuan baru.

Teringat itu, saya jadi sedih. Saya membayangkan para diplomat asing di Indonesia membaca berita itu, lalu muncul bisik-bisik antarmereka dan menyebut intelijen kita lemah. Gimana, coba? Apa itu namanya tidak mempertaruhkan kehormatan negara? Ini prestise kita dalam percaturan global, lho… Apalagi, di dunia tanpa batas, sensor nyaris sudah tak mungkin.

Satu lagi, saya pingin usul pada sampeyan, agar tak lagi membiarkan orang-orang di sekitar sampeyan, juga para pejabat di bawah sampeyan, selalu bilang yes. Serba inggih, sendika dhawuh. Tanda-tandanya sudah banyak saya temukan. Terlalu banyak pejabat orang membeo pernyataan sampeyan, atau memberi dukungan terbuka setelah melihat bahasa tubuh sampeyan.

Ketika pejabat kepolisian mengimbau (melarang?) demonstran membawa hewan, saya melihatnya sebagai ‘tindak lanjut’ atas sikap sampeyan yang kurang berkenan. Juga, ketika sampeyan sambat kebrebegen, bising oleh pengeras suara pengunjuk rasa di sekitar istana. Saya tahu, demonstran yang demikian juga tak bijak dan (bolehlah) disebut kelewatan. Tapi, kenapa sampeyan sendiri yang menyatakan terganggu dengan itu? Bagi saya, itu juga termasuk sambat.

Terlalu banyak mengeluh atau kakehan sambat bisa dimaknai cengeng bagi semua orang, apalagi yang berkultur Jawa. Sampeyan lupa, bagi orang Jawa, praja itu penting. Ya, praja atau kehormatan itu menuntut kita pandai-pandai bersikap dan bertutur. Cara njaga praja itu bukan jaim, tapi harus prawira, gentle.

Bicara hanya bila dirasa perlu dan penting, serta empan papan, alias tepat waktu dan tempat (forum). Mengeluh itu pantangan dalam kultur manapun. Sekali lagi, jangan terlalu lama membiarkan budaya serba nurut alias selalu bilang yes pada sisa masa pemerintahan sampeyan. Empat tahun masih cukup untuk memperbaiki keadaan, supaya kelak sampeyan meninggalkan kenangan baik.

Apakah sampeyan tak pingin seperti Gus Dur, yang semasa hidupnya banyak dikecam karena sikapnya yang blak-blakan, kadang memberi mengagetkan, namun di balik itu semua, ternyata ada kepentingan umum dan kebenaran yang diperjuangkan? Lebih baik ‘menderita’ selagi hidup dan diberi amanah membuat banyak kebaikan.

Jadikan sampeyan dan pembantu-pembantu pemerintahan sampeyan bisa sukses bak yudhawan, menang bagai perwira perang. Ya memerangi korupsi, memerangi nafsu memperkaya diri, keluarga dan kelompok, juga sukses memerangi kemiskinan dan pengangguran… Silakan, pilih longa-longo atau jadi perwira sejati.

3 thoughts on “Selalu Bilang Yes

  1. sejak mulai tenarnya pak sby (waktu masih jd menterinya megawati, tidak diajak salah satu meeting para menteri), sby menjadi figur yang dizhalimi dan sebagai pihak teraniaya oleh FITNAH yang KEJAM. sepertinya, itu menjadi kebiasaan sampai sekarang. tiap kali pidato pasti ada kata FITNAH dan KEJAM.

    nek dipikir2, perode ngarep wis mboten ajeng maju malih kok taksih bingung masalah pencitraan nggih. lak meding nggarap gaweanne kanthi tenanan. wis beres. ora kakehan ‘aeng-aeng’

    muga-muga priyayine ndang eling, tur dadi tambah waspada. ben slamet saputra-wayahe…
    /blt/

Leave a Reply