Obrolan Century

Sore yang cerah, Lik Manto duduk di teras rumah sambil membaca koran pagi. Kopi dan pisang goreng terhidang sudah mendingin, belum disentuh sama sekali. Berulang kali ia menggaruk-garukkan tangan di kepalanya yang tak gatal. Ia terus memelototi baris demi baris kalimat, berita tentang hasil akhir Pansus Century.

“Serius temen bacanya. Ada berita bagus ya, Lik?” sapa Kang Tarman.

“E…, Man. Sini, mampir….,” jawab Lik Manto. “Ini, lho, baca berita Century. Pansusnya wis rampung, tapi siapa yang makan duitnya tak juga ketahuan, ya?”

“Wealah, Lik… Lik Manto itu kayak ndak tahu saja. Ya begitu itu mainannya orang gedean. Ngomongin perkara gede dan duit gede itu ndak ada gunanya buat orang-orang seperti kita. Paling-paling malah bikin sakit hati,” sahut Kang Tarman. Tangannya cekatan, mengambil makanan yang sedari tadi terhidang. “Wis, Lik, mendingan makan pisang goreng ini saja….”

Kowe ki, lho, Man, wong genah duit negara dicolong terang-terangan begitu kok dianggap sepele. Coba perhatikan baik-baik, siapa yang makan duit itu? Mosok nalar?!? Ibaratnya, ada orang butuh pertolongan cuma seribu, kok dikasih lima ribu. Lha yang empat ribunya ke mana, siapa yang bawa?”

Kabeh itu sudah genah ikut salah. Wong mutuskan perkaranya saja bareng-bareng kok masih dicari yang paling bersalah. Apa itu tidak aeng-aeng namanya? Pansus DPR itu mbok nyari siapa yang menikmati duit lebihannya, siapa yang ngembat. Dari situ kan ketahuan siapa yang paling berperan.”

Lik Manto kian bersemangat. Wajahnya memerah, marah karena merasa ada yang tidak adil dalam pengusutan skandal bailout Bank Century. Sebagai nasionalis sejati dan keturunan pejuang kemerdekaan, ia semakin merasa risih ketika mendengar perkara Century hanya dikotak pada perseteruan dua menteri, antara Sri Mulyani dan Aburizal Bakrie.

“Coba kaupikir lagi, Man. Kalau bukan kerjaannya orang pinter dan aneh-aneh, kenapa masalah Century hanya muter-muter di sekitar Bakrie dan Mulyani? Taruh kata, memang benar keduanya itu bersaing atau saling bermusuhan. Kalau benar-benar bermusuhan, kenapa tidak ada yang menyerang musuhnya dengan mengungkap soal larinya duit lebihannya itu?” Lik Manto terus bicara, mengeluarkan semua yang membuat sesak dadanya.

Kang Tarman menukas, “Bukannya duit lebihannya dibawa Robert Tantular sebagai pemilik bank, Lik?”

“Alaahhh…. Taruhlah dia yang mengemplang. Kita ini kan punya auditor dan intelijen jago-jago. Pasti gampang menemukan dimana harta si Tantular disimpan. Nyatanya mana?” jawab Lik Manto.

“Kita ini bukan cuma ditipu permainannya para politisi. Akademisi dan tokoh-tokoh sipil saja malah pada ikut-ikutan membelokkan perkara. Ngakunya saja rakyat sipil, jebul ya ikut-ikutan ngapusi kita sebagai wong sipil…”

“Aku itu ndak percaya sama mereka-mereka itu. Pokoknya, selama mereka tidak membuka ke mana larinya duit bailout Bank Century, saya ndak akan percaya mereka selamanya. Mereka itu manusia-manusia murahan, rendah moralnya. Teriak-teriak transparansi, nyatanya suka nutup-nutupi. Ngomong demokrasi, nyatanya ikut-ikutan ngebiri informasi. Wis, Man, kita ndak usah ikut pemilu saja kalau hasilnya membuat negeri kita koyak dan rusak.”

Kang Parman terdiam. Pisang goreng baru habis dimakan sebagian. Sisanya masih di tangan, tak sanggup meneruskan, apalagi menelan. Apalagi, ia mulai teringat, betapa Pansus Century pernah membuatnya terperanjat, ketika seorang wakil rakyat yang seharusnya terhormat malah meneriakkan kata bangsat.

4 thoughts on “Obrolan Century

  1. Deddy

    Wah..Pansus abal2…
    Contoh 1. ..Anggota Pansus inisial BS…bengak-bengok dengan lantang dan yakinnya ada suara Tantular eeh..ternyata salah..dan tak mau mengakui kesalahannya…mung banter cocote..
    Contoh 2. Anggota Pansus yang ngakunya sarjana matematika..tapi baca data dari LPS aja kedodoran…hohohohoho..

    ya, begitulah kualitas anggota DPR kita… pada gak mau berkaca, pede-nya luar biasa…
    /blt/

  2. kalo sampai pansus pun belum bisa membuktikan hilir dari aliran uang tersebut, itu membuktikan bahwa memang ada peran petinggi yang setinggi-tingginya yang menikmati uang ntu (doh)

    apa kata dunia ??

    dunia sudah lama berkata: Indonesia itu negara ada-ada saja…
    /blt/

Leave a Reply