Bukan Musik Biasa

Banyak komponis dan musisi menjadikan forum Bukan Musik Biasa sebagai ajang nètèr kadigdayan (menjajal kemampuan). Juga, sekaligus sebagai tempat promosi dan memperkenalkan komposisi hasil kerja kreatifnya. Bukan Musik Biasa memang dirancang sebagai forumnya orang-orang di luar yang mainstream. Mau coba? Gratis!!!

Kalau Anda bertanya gratisnya di mana, jawabannya adalah gratis segala-galanya. Nonton tak keluar duit (malah dapat suguhan minum), yang tampil tak dibayar, pekerjanya tak diberi honor, bahkan panitianya pun bekerja sukarela. Kalaupun ada perkecualian, hanya untuk satu jenis kontribusi, yakni pembicara. Dialah narasumber yang sengaja dihadirkan untuk membahas atau mengomentari penampilan.

Dalam sekali penyelenggaraan, beberapa grup tampil bergantian. Dan usai pentas, dilakukan diskusi bebas. Si seniman menyampaikan gagasan dan argumentasi atas karya yang baru saja dipentaskan, narasumber ikut membahas, dan pengunjung pun bisa (bahkan diharapkan) menyampaikan apresiasinya. Terbuka, dan yang penting konstruktif.

Meski serba gratisan, forum yang digelar setiap akhir bulan ganjil, ini nyatanya langgeng hingga tiga tahun. Sabtu, 30 Januari, malam nanti merupakan penyelenggaraan yang ke-17 kalinya. Bertempat di pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (terkenal dengan sebutan TBS, Taman Budaya Surakarta), forum ini sudah dikenal di kalangan komponis/musisi kontemporer se-Indonesia.

Komponis/musisi dari Padang, Makassar, Jakarta, Surabaya, Bandung dan berbagai pelosok negeri lainnya, juga datang sukarela. Ada yang berbiaya sendiri, ada pula yang disponsori. Panitia, hanya bisa membantu rekomendasi untuk keperluan artis, dan menanggung penginapan serta kebutuhan makan selama di Solo.

Inisiatornya adalah I Wayan Sadra, komponis asal Bali yang kini mengajar di ISI Surakarta. Ia enggan disponsori dengan alasan takut terkontaminasi politik uang. “Spiritnya adalah kebersamaan dalam sebuah proses pencarian. Uang kerap mengganggu karena prasangka bisa bermula dari sana,” ujarnya, suatu ketika.

Sejauh ini, Taman Budaya Surakartalah yang memberi fasilitas bagi seniman. Intinya, agar komponis dan musisi bisa berkreasi dan mengekspresikannya dengan leluasa. Soal pilihan sumber bunyi, tak ada batasan. Mau pakai kaleng, instrumen musik tradisional hingga combo band pun tak jadi soal. Diatonis, pentatonis atau campuran keduanya pun bukan jadi batasan. Pokoknya, eksplorasi bunyi yang berujung pada sajian musikal.

Bila Anda tertarik, salah satu penampil malam ini adalah Purwa Askanta. Seorang musisi biola, yang kesehariannya adalah pengajar musik di Jurusan Karawitan, ISI Surakarta. Ia juga sudah melanglang buana, baik sebagai salah satu musisi Twilite Orchestra, maupun dengan kelompok-kelompok lain, termasuk dari kampusnya.

Siapkan diri Anda menemukan ‘keanehan-keanehan’ di dalamnya. Dimulai pukul 20.00 dan bisa berakhir kapan saja, sampai pengunjung ‘bosan’ berdiskusi atau si seniman kehabisan argumentasi. Hehehe… Karena Bukan Musik Biasa, maka siap-siap saja kalau ternyata warna musikalnya masih asing di telinga Anda, atau sebaliknya bentuk penyajiannya yang tak biasa. Ya, sesuai namanya lah…..


4 thoughts on “Bukan Musik Biasa

Leave a Reply