Wayang Kampung Sebelah

Idiom botol dihadirkan sebagai sindiran atas banyaknya pemabuk jalanan

Wayang kulit, mungkin bukan sesuatu yang asing bagi Anda. Paling-paling, kendala yang dihadapi hanya soal penggunaan bahasa Jawa yang halus, sastrawi dan penuh metafora. Aha! Kalau soal ini, tak usah malu, sebab banyak anak muda Jawa masa kini yang asing pada bahasanya sendiri. Tenang, ada wayang kampung yang sanggup mengatasi problem massal (nan memalukan orang Jawa) itu.

Wayang kampung, memang lahir dengan semangat pemberontakan akan kemapanan, sekaligus jawaban atas kegelisahan artistik. Ia seperti tari-tari tradisional di Jawa, yang karena populer pada wilayah kultur dan geografis tertentu lalu diambil pujangga kerajaan, sehingga setelah dimodifikasi sedemikian rupa, ditampilkan lagi dengan citra baru: produk genuine kerajaan.

Wayang kulit, dalam perkembangannya pun mengalami pasang-surut. Bahkan, pada masa Soeharto berkuasa, wayang dimanfaatkan sebagai media sosialisasi kebijakan politik-ekonomi, sosial-budaya, bahkan pertahanan dan keamanan. Pokoknya, pergelaran wayang adalah sarana pemantapan ideologisasi pembangunan.

Banyak dalang menjadi kaya raya karena pertunjukan itu menjadi ‘lagu wajib’ acara-acara pemerintahan, baik sipil maupun militer, sehingga seorang dalang bisa 20 kali pentas dalam sebulan! Tapi, ya itu tadi, ada syarat yang tak boleh dilanggar: dalang harus pro-pembangunan. Terjemahannya bisa macam-macam, meski yang seragam adalah berada di belakang kehendak Bapak Pembangunan. Titik!

Ciri utama pergelaran ini adalah membawa publik terlibat pertunjukan seperti ikut melontarkan celetukan dan kritikan langsung pada semua seniman yang terlibat

Lalu, apa hubungannya dengan wayang kampung? Baik, wayang yang diinisiasi oleh Jlitheng Suparman adalah sebentuk perlawanan atas dominasi ‘rezim pakem’ yang masih dianut oleh mayoritas dalang masa kini. Juga, menjadi jalan keluar akan kegelisahan, ketika pertunjukan wayang tak ubahnya ajang biduan campursari atau pedangdut.

Simak motto Jlitheng berikut, mungkin Anda bisa mengira-iranya sendiri atas apa yang terjadi dalam dunia pakeliran itu.

Daripada nanggap wayang dapat dangdut, lebih baik nanggap dangdut dapat wayang!

Sungguh, itu merupakan motto sarkastis ala Jlitheng, yang tumbuh bersama sejumlah komponis/musisi antikemapanan semacam Max Baihaqi, Yayat Suhiryatna dan sejumlah seniman lain. Mereka merasa, lebih baik jujur sejak semula, bahwa yang ditawarkan adalah tontonan musik dan penonton dapat ‘bonus’ wayang daripada sebaliknya.

Bagi saya, itu merupakan sindiran cerdas. Dan, saya tahu, mereka bukan sekadar melawan. Jlitheng memiliki kecakapan seorang dalang klasik, juga memiliki bekal sastra Jawa yang kuat, meski bukan semata-mata karena ia sarjana Sastra Jawa. Ia hanya sosok yang prihatin dengan dunia pakeliran masa kini, juga kecenderungan banyak dalang yang mengumbar caci maki di atas panggung. Lebih dari itu, terlalu banyak dalang yang ngawula si penanggap atau yang membiayai.

Penonton bisa berada di semua sisi, tak cuma cukup menikmati tapi bisa ikut mengisi

Jlitheng dan kawan-kawan juga prihatin, ketika anak-anak muda kini, mulai menjauh dari produk kebudayaannya sendiri lantaran berjarak pada bahasa. Karena itulah, Jlitheng mengkombinasikan bahasa yang digunakannya, dengan yang lebih akrab dengan keseharian. Gado-gado pun bukan soal sepanjang efektif untuk membangun dialog antara kreator dan publik.

Kalau di atas saya sebut berbeda dengan dalang ngawula pada pemodal, bukan berarti  Jlitheng cs menolak undangan. Ia hanya berharap, penanggap juga paham untuk tak mendikte terlalu dalam di wilayah kreatif. Sebuah relasi pasti punya aturan mainnya sendiri, sehingga setiap orang pasti bisa membawa diri, tahu diri namun tak larut hingga mengorbankan wilayah artistik dan ekspresi seni.

Dalam konteks problem masyarakat Jawa kontemporer, kehadiran kelompok Wayang Kampung Sebelah, demikian Jlitheng menyebutnya, bisa menjadi jembatan kepada banyak orang untuk kembali mencintai wayang. Dari sisi pakeliran, ia masih menggunakan layar dan boneka wayang, meski totok-tokohnya bukan wayang klasik, namun tokoh-tokoh manusia masa kini.

Iringan yang menggunakan musik combo pun dimaksudkan sebagai bagian dari wujud pemberontakannya, sekaligus untuk memancing awam segera mendatangi keramaian yang ia hadirkan. Dari semula tergoda dangdutnya, lama-lama dibawa ke dalam suasana pakeliran, wayang yang mendekati ‘seharusnya’.

Satu yang unik dari proses kreatif kelompok ini adalah program ‘Serangan Pentas’ yang dilakukannya di beberapa tempat di Kota Solo dan sekitarnya. Mereka mendatangi kampung-kampung, menggelar pentas tanpa bayaran, dan sembari menghibur mengajak publik kembali mencintai wayang. Dan, tak lupa ia ingatkan problem-problem keseharian, terutama yang berkaitan dengan kehidupan sosial, antara warga negara dengan pemerintah/negaranya.

8 thoughts on “Wayang Kampung Sebelah

  1. asha

    Selamat siang pak dalang. saya Asha dari RCTI Jakarta. Boleh minta kontak Wayang Kampung Sebelah? atau dengan pak Jlitheng sendiri? Sekiranya pak Jlitheng dan WKS nya bisa bekerjasama dengan RCTI. detil lengkap nya akan saya sampaikan langsung. terimakasih banyak..

  2. Pembaruan dalam dunia pewayangan ya Pakde? Tapi bukankah kalau suatu kebudayaan terus-menerus diperbarui maka budaya itu akan kehilangan jati dirinya? Dengan kata lain wayang kulit yang asli akan terlupakan? Pripun Pakde?

    kebudayaan selalu berubah. pasti selalu ada yang bertahan pada keaslian, namun agar tak lekas punah, perlu juga strategi untuk menjembatani kesenjangan kultural antargenerasi. percayalah, wayang tak gampang mati…
    /blt/

  3. dulu……..,hampir tiap minggu pagi nonton wayang,tapi kayaknya sekarang emang udah gak ada ya??

    emang ada stasiun TV yang siarkan wayang di pagi hari? seingatku, dulu ada TVRI yang siarkan wayang orang tapi cuma buat cengengesan…
    /blt/

  4. Jeder… Woh nampol itu paragraf pembukanya. Ya, tapi benar adanya kalau kami kurang, bahkan tidak mengerti tentang bahasa Jawa, saya pun dulu dalam acara wayang kulit, selalu kagum dengan sabetan, tokoh, dan nuansa mistisnya, entah kenapa justru tanpa mengerti arti sesungguhnya.

    kayak penggemar klenik saja, pakai nuansa mistis segala…..
    /blt/

  5. Jlitheng

    Matur nuwun, Om Blontank… kami sudah dibantu menjelaskan tentang Wayang Kampung Sebelah (WKS) kepada masyarakat… semoga WKS dapat bertahan untuk berjalan di atas rel selamanya…

    weh, kula pun kados jubir, nggih?
    /blt/

  6. akar

    wahhh .. jadi pengen nonton kyai jliteng … ada jadwal manggungnya mas?

    wah, gak ada pentas terjadwal tuh. coba pantau dia di FB-nya. ID sama sama dengan namanya….
    /blt/

Leave a Reply