Gerombolan Biru

Nilubi merupakan perkampungan yang dihuni warga luhur budi. Mereka peka rasa dan baik hati. Maka, setiap mendapati ada orang disakiti, mereka segera iba hati. Bahkan, asal ada seseorang, meski perkasa sekalipun, asal pandai berpura-pura atau bersandiwara seolah-olah disakiti atau dihakimi oleh orang lain, ia bakal segera memanen simpati.

Seperti Gerombolan Biru, atau sebut saja begitu. Dulunya, hanya ada kelompok kecil yang terdiri dari beberapa orang saja. Pemimpinnya, maksud saya, orang yang dituakan di kelompok itu, sejatinya hanyalah seorang penyanyi. Namun karena setiap penampilannya dilecehkan oleh demang yang berkuasa di Nirubi, maka para warga di perkampungan itu tampil jadi pembela secara sukarela.

Demang yang suka pamer kuasa dan rajin menumpuk harta hasil komisi proyek-proyek dari ibukota lantas dimusuhi bersama-sama. Maka, sang penyanyi yang disia-siakan Ki Demang, pun lantas disokong. Warga yang tak suka pada demangnya, lantas menjadikan si penyanyi sebagai simbol ketertindasan.

Lantaran berpendidikan lumayan, maka si penyanyi pun lantas mengelola dukungan, psikologi massa yang seolah-olah berpihak kepadanya. Ia menyewa konsultan pencitraan, hingga suatu ketika ia menangis di tengah forum rembug desa. Warga desa yang muak dengan kelakuan Ki Demang, pun mendorong sang penyanyi untuk tampil melawan. Setidaknya, tidak menyerah ketika dianiaya pun sudah cukup.

Terbukti kemudian, Ki Demang gagal melanggengkan kekuasaannya. Saat hari coblosan tiba, Ki Demang yang sudah dimusuhi warganya hanya memperoleh suara tak seberapa. Beralihlah kekuasaan kepada sang penyanyi melow itu, yang dikenal suka mengarang lagu pujian akan perlunya kerukunan dan optimisme menyikapi keadaan. Tak terlalu bagus syairnya, namun cukup menghibur ketika warga di sana sudah muak dengan jaron-jargon kekuasaan atau cemooh warga yang kental makian.

Sayang, si penyanyi tak punya keberanian yang memadai. Meski memiliki ciri fisik yang tegap dan gagah, serta kumis lebat yang dapat mendongkrak wibawa, namun hatinya tetaplah hati pengarang lagu dengan kepekaan rasa khas penggubah syair-syair sendu. Karenanya, tak aneh kalau ia lebih mudah menangis ketika bercerita tentang sulitnya mempersatukan warga dalam sebuah forum rembug desa, meski selalu menyelipkan pesan agar warga tetap tegar menghadapi kenyataan.

Demi mendampingi masa depan sang penyanyi, ia menempatkan banyak teman di Dewan Rembug Desa. Seorang di antaranya cukup galak dan terkenal sebagai tukang gertak. Penampilannya pun norak. Dalam musyawarah desa, misalnya, ia tak segan memaki dan mengucap kata kotor kepada sesama anggota dewan. Ketika dikecam warga, anehnya, keluarga besar si penyanyi malah membela, meminta warga memaklumi kemarahan anak buahnya dengan dalih ia tak berniat menista.

Seorang lagi adalah teknisi komputer, yang diperkenalkannya sebagai ahli segala-galanya, terutama yang berhubungan dengan ilmu elektronika. Padahal, sejatinya ia hanya bisa bicara seputar metadata atau catatan-catatan digital yang menyertai sebuah hasil proses elektronis. Kebetulan saja, banyak warga desa Nilubi tak banyak yang mengenal data digital, walau mereka sudah akrab menggunakan piranti apa saja.

Si teknisi komputer pun dikenal suka asal njeplak, karena kerap memproduksi pernyataan-pernyataan yang menyulut kontroversi. Di negerinya, banyak ahli telematika cuek saja sewaktu ada artis dan politisi kebingungan membantah foto dan rekaman mesumnya beredar di internet. Para ahli sungguhan itu sembunyi lantaran risih pada kelakuan artis dan tak suka kelakuan politisi. Kesempatan itu dimanfaatkan si teknisi komputer. Gara-gara itu dia ngetop dan merasa ahli telematika.

Lain waktu, ia menjelek-jelekkan banyak ahli komputer sungguhan sebagai tukang cari perkara. Rupanya, si teknisi komputer itu belum ngerti beda hacker dengan cracker. Aneh bagi kebanyakan orang, namun sebaliknya menurut dirinya. Namanya saja katak dalam tempurung, mana ia tahu gemerlapnya dunia?!?

Yang sudah pasti, trio penyanyi, senator rembug desa dan teknisi komputer sama-sama berjuang mengibarkan bendera biru milik mereka. Yang diyakininya ā€“sebab terjebak keyakinan akan citra, warna biru menjanjikan kemakmuran. Seperti laut yang memberi kelimpahan kekayaan, dan berujung kesejahteraan.

Namun mereka lupa, tabiat laut tak pernah bisa diduga. Ia bisa datang tiba-tiba, lalu menggulung yang ada di sekelilingnya. Bahkan, hingga penghuni daratan sekalipun. Gerombolan biru, tampaknya sedang menunggu waktu. Terlambat memperbaiki diri, mereka akan terempas, digilas oleh kekuatan sejarah.

3 thoughts on “Gerombolan Biru

Leave a Reply