Bonek itu Bodoh

Tindakan Walikota Surabaya menjemput kedatangan bonek di Stasiun Gubeng adalah kekeliruan. Dan, janji menanggung biaya perawatan serta membiayai pemulangan jasad bonek adalah kecerobohan. Tindakan itu, berpotensi dipahami mereka sebagai apresiasi atas militansi mereka membela Persebaya. Mereka merasa jadi pahlawan.

Padahal kita tahu, bonek adalah kumpulan orang-orang bodoh, yang tak bisa berpikir dan membedakan mana perbuatan baik dan buruk. Terbukti, menjarah dan bertindak anarkis menjadi trade mark yang nyata tak ingin mereka hilangkan. Pedagang kakilima yang modalnya pas-pasan pun tega mereka zalimi.

Benar, tak semua pendukung Persebaya adalah bonek. Teman-teman saya di Surabaya, jangan Anda marah, sebab saya lebih suka menyebut Anda sebagai supporter fanatik, bukan bonek. Sebab seperti namanya, bonek itu hanya orang-orang bermodal dengkul dan kengawuran, maka dinamakan bondho nekad. Anda bukan bonek karena masih punya akal, budi dan tenggang rasa.

Saya yakin, kata bonek semula berasal dari sindiran terhadap mereka-mereka yang selalu mendatangi tempat penampilan klub pujaan mereka bertanding di berbagai kota tanpa bekal sama sekali. Awalnya, mereka ngamen, lalu ada yang berani minta-minta dan akhirnya, meminta dengan paksa. Kekerasan lantas ditempuh manakala gagal meminta belas kasih orang.

Anehnya, julukan tak bagus itu lantas diabadikan, hingga seolah-olah menjadi sebutan kebanggaan. Karena itu, aneh juga rasanya, ketika menemukan orang-orang yang memiliki akal, hati dan kepekaan rasa, justru bangga dengan sebutan seburuk itu. Saya yakin, dokter jiwa pun akan kesulitan membuat sebutan untuk sebuah gejala yang menjangkiti mereka.

Ketika ribuan orang memadati tiga stasiun di Solo, juga banyaknya orang mematikan lampu penerangan di kiri-kanan sepanjang lintasan kereta api pengangkut bonek, pada Minggu malam hingga dinihari, sejatinya saya ngeri. Anehnya, seperti orang sakit jiwa, saya bisa memahami kemarahan mereka, menyusul insiden tanpa alasan beberapa hari sebelumnya.

Jumat lalu, ketika kereta berhenti di Stasiun Purwosari, rombongan bonek yang menumpang kereta itu pada turun, menyerbu pedagang kakilima demi mengganjal perut mereka. Seperti ingin meneguhkan identitas anarkis yang mereka sandang, mereka pun menyerang jurnalis dan polisi yang berjaga. Andai bonek bukan gerombolan yang patut dicurigai, pasti tak bakal ditunggui jurnalis, apalagi dihadiri polisi.

Coba, apa jawaban kalian, wahai Walikota Surabaya, pengurus dan stakeholders Persebaya, atas kejadian itu? Sekering apakah nurani kalian sehingga masih menempatkan bonek sebagai aset kalian? Kalau memang gentle, mestinya kalian tak hanya bertanggung jawab atas pembiayaan sakit dan kematian bonek. Lebih dari itu, mengganti pula seluruh kerugian pedagang kakilima, jurnalis dan polisi yang terluka, serta kerusakan kereta api akibat ulah mereka.

Tak usahlah jauh-jauh mikir bekal agama, karena agama berada jauh di atas kepekaan rasa. Kalian lupa, sebagai stakeholders yang jelas lebih berpendidikan dan luas pergaulan, kalian tak bakal saya sebut sebagai penyandang penyakit hina bernama kebodohan. Sudah berapa kali, berapa tahun, kejadian penjarahan dan anarkisme berulang?

Bubar-tidaknya Persebaya menjadi urusan kalian. Namun di sini, saya hanya ingin menuntut tanggung jawab moral kalian. Sudah tahu bonek itu bodoh dan miskin, kenapa masih juga dibiarkan  pergi menonton Persebaya berlaga, bahkan disewakan gerbong-gerbong kereta? Kalian pasti tahu, setiap menjarah makanan atau rokok, alasan si bodoh yang selalu datang berjamaah itu juga klise: tak punya duit!

Lha kalau tak punya duit masih difasilitasi untuk pergi menonton, bukankah itu menjadi kecerobohan kalian juga?

Memang, anarkisme bonek tak bisa dilepaskan dari perilaku para politisi dan pemodal yang berwatak kriminal. Demi kepentingan (yang biasanya buruk), mereka terbiasa memobilisasi massa. Kejahatan, selama dilakukan secara komunal, seolah-olah bisa menjadi benar. Padahal, orientasinya hanya kemenangan semu, berbekal ampuhnya model intimidasi.

Sistem hukum yang lemah hanya salah satu celah. Pelaku kekerasan seperti dilakukan para bonek tak pernah berujung pada proses peradilan, sehingga membentuk pemahaman bagi orang-orang bodoh seperti mereka, bahwa apa yang dilakukannya itu sungguh-sungguh benar. Lalu, jadilah peristiwa kekerasan demi kekerasan yang berulang, dengan pola yang sama pula: intimidasi, menakut-nakuti!

Bila pemilik kios-kios di Stasiun Gubeng saja memilih menutup usahanya menjelang kedatangan para bonek, itu sudah cukup memberi bukti kepada publik Indonesia dan dunia, betapa biadabnya perilaku mereka. Merasa diri sebagai orang kecil namun tak punya solidaritas terhadap sesamanya, tentu sah-sah saja bila disebut luar biasa.

Anehnya, Walikota Surabaya seperti bangga terhadap mereka hingga perlu menyambut kedatangannya. PSSI pun, anehnya juga tak sanggup menjatuhkan sanksi luar biasa kepada anggotanya. Skorsing tak boleh bertanding 10 tahun misalnya, bisa membuat para pengelola Persebaya jera dan mau berbenah, termasuk mendisiplinkan dan mendidik pendukungnya, biar tidak menjadi bonek semata, namun pemuja dan pendukung yang lebih masuk akal.

Bahwa tindak kekerasan dan aksi balas dendam menunjukkan rendahnya tingkat kedewasaan masyarakat, itu tak terbantahkan. Aparat yang tak tegas dan hukum yang letoy adalah faktor yang perlu jadi perhatian. Namun sikap para stakeholders yang tak menunjukkan tanda-tanda kedewasaan dalam mendidik publiknya, jelas sangat disayangkan.

Rasanya, demi ketentraman bersama supaya bisa membangun Indonesia Raya, lebih baik para kriminal itu diadili. Pasal mengganggu ketertiban umum, pencurian dan perampokan dengan kekerasan bisa digunakan untuk para perusuh. Terhadap para stakeholders, bisa saja diberikan hadiah pasal pembiaran.

Kalau Anda bertanya bagaimana kalau penjara penuh? Gampang saja, ambilkan dana bencana (karena kejahatan massal bonek adalah bencana kemanusiaan) untuk membangun penjara di Nusakambangan yang masih lapang. Bikin saja sel khusus para perusuh persepakbolaan. Setahun hingga tiga tahun sudah cukup untuk memberi pelajaran. Anda sekeluar penjara jadi perampok, anggap saja kecelakaan, atau pahami saja itu sebagai kodrat orang bodoh pemuja kriminal dan kekacauan.

Jadi, saya merasa tak perlu meminta maaf kepada kalian semua, para stakeholders Persebaya. Saya berjanji pada diri sendiri dan berikrar di sini, akan selalu menyerukan boikot menghadiri laga sepakbola yang dilakukan Persebaya. Juga, menghindari menonton pertandingan Persebaya di televisi. Saya merasa, hanya tekanan massa yang luas yang bisa menyadarkan kalian. Bukan sanksi denda atau hukuman lain yang dijatuhkan oleh PSSI.

Apalagi kalau melihat banyak bukti, PSSI tak pernah punya nyali. Juga keinginan mereformasi diri.

30 thoughts on “Bonek itu Bodoh

  1. Arek Suroboyo

    kalian semua tidak pernah turun langsung membaur bersama bonek, isi blok ini sangat memojokkan dan para media tidak pernah meliput kegiatan positif bonek.

    #haters make bonek famous ((:

  2. Mursyid Effendi

    Lihat komen bonek yg saru di atas, mensahihkan tulisan blog ini. Bonek, bondo nekat, wis kere bodho! Berani mati demi klub? Agomomu opo cak? Kyaimu neng Suroboyo mesti do nangis ndeleng kelakuanmu…. Ngisin2i. Mencoreng nama besar Bung Tomo. Rela mati itu demi negara bangsa agama. Klub bola? Klub bola geblek, main sepakbola gajah? Ngono kui ko belani nganti mati? Ancene kowe pekok kabeh! Setan2 ngguyu kuabeh kemekelen. Hohoho okihhh koncoku…
    Salam, ME,
    eks pemain PSSI pelopor bek progresif,
    top scorer gawang sendiri…

  3. inget ORANG TUA NAK

    FANATIK BERLEBIHAN ITU ASLI BODOH,,KENAPA???,,, MEREKA RELA MENJUAL,MENUKAR,MENGACUHKAN,MEMBENGKANG DEMI BONEK?? SEBEGITUKAH MULIA BONEK DI MATA KALIAN”??? ATAS NAMA SOLIDARITAS KAH SALAH BUNG!!!,, COBA SUDAHKAH KALIAN BERBAKTI SAMA BUNDAMU DAN AYAHMU YANG SERING KALI ENGKAU SEPELEKAN SERTA ACUHKAN NASEHAT SERTA DENGAN ENTENGNYA ENGKAU TINGGAL PERGI DEMI FANATISME BELAKA”DAN BERAPA BANYAK WAKTU YANG TERSITA OLEH ITU. BERAPA SERINGKAH ENGKAU MEMBAHAGIAKAN ORANG TUA??? HARI INI SAJA”<< TAK USAH BICARA YANG LAMPAU APA LAGI TAHUN LALU, HARI INI SAJA SUDAH BERAPA BANYAK KAU BUAT KEBAIKAN UNTUK KE 2 ORANG TUA MU,

  4. DAYAT BONEK

    YANG BODOH ITU BUKAN BONEK TAPI ANDA SEKALIAN TIDAK BISA MELIHAT KEBNRAN DAN KENYATAAN YANG ADA,KARENA ANDA BELUM PERNAH MERASAKAN GIMANA DALAM PERJALANAN NONTON LAGA PERSEBAYA DGN TUJUAN DAMAI TAPI DIPERJALANAN DISAMBUT KEKERASAN LAYAKNYA KAMI INI SASARAN LATIHAN LEMPAR BATU,LEMPAR MOLOTOF,DAN BENDA TAJAM LAINNYA.BAGAIMANA KALAU HAL ITU TERJADI PADA DIRI ANDA?APAKAH ANDA DIAM! MUNAFIK KALAU ANDA MENJAWAB DIAM!!ATAU ANDA BANCI YANG HANYA BERLINDUNG DIBALIK KATA2 “CINTA DAMAI”.ORANG YANG MENGANGGAP BONEK BODOH HANYA ORANG2 YANG SYIRIK DAN MUNAFIK KARENA DI KOTA KALIAN GAK PUNYA SUPORTER YANG RELA HIDUP MATI MEMBELA TIM KEBANGGAANNYA.COBA KALIAN BERKACA APAKAH KALIAN SANGGUP KALAU SLALU DIPERLAKUKAN KAYAK BONEK.SAYA TEGASKAN SEKALI LAGI KALAU SEBELUM ANDA BERKOMENTAR COBA KALIAN BUKTIKAN DULU KENYATAANNYA.JANGAN MEMIHAK YANG SATU.SAYA SALUT DENGAN WALIKOTA SURABAYA.KARENA HANYA WALIKOTA SURABAYA SATU2NYA YANG PEDULI DENGAN SUPORTERNYA BUKAN HANYA DENGAN TIM SEPAK BOLA KOTANYA.COBA ADA GAK WALIKOTA DI INDONESIA INI YANG KAYAK DIA.YANG LEBIH MEMENTINGKAN HATI NURANI DARIPADA KOMENTAR TENTANG KEBODOHAN.

  5. argas.Arek Gabungan setan suroboyo.

    klo solo ma wong klaten pinter gak dodolan kopi nang suroboyo.iku oknum pakde.tapi saiki sampeyan bayangno 2 hari g mangan g ngombe di kreta.ada uang tapi g ada yg jual.di madiun ada pejual nasi kita bayar pakde.lha disolo ada yg jual batu yo dipayu pakde.tapi mau g mau kita trima kenyataan ini kita terlahir dari darah petarung atau pejuang.arek2 arep jihad nan palestina g onok seng mbayari.mosok arep gandol sepur.wanine komentar tok..kaet mbiyen ngono ae mangkane mbulet ae.koyok keris ..

  6. Bagoes

    Asskum,,,saya AREMANIA numpang coment d blog ini..
    Saya sangat setuju dengan apa isi dari blog ini….sebetulnya sangat2 membanggakan sebuah club sepak bola memiliki pendukung yg fanatic seperti Bonek…. Namun mereka menunjukkan kefanatikannya dengan cara yg salah dan sangat2 merugikan banyak org….Daripada membayar gerbong untuk memberangkatkan bonek nonton persebaya keluar daerah, mending uang dari uang daerah itu digunakan pak walikota untuk mewadahi, memfasilitasi, atau entah apapun itu….!! yg penting digunakan untuk merubah image Bonek yg selama ini tidak baik….

    Saya tidak menyombongkan AREMANIA… Kami d MALANG, mencoba dan mencoba sampai saat ini untuk berubah menjadi kelompok suporter yg profesional mendukung AREMA….Saya mencontohkan, meski AREMANIA tidak memiliki ketua tp hanya korwil di masing2 wilayah+minim dana, justru merekalah para korwil yg bersentuhan langsung dgn suporter d wilayahx masing2….. Untuk itu bila menginginkan perubahan pada Bonek diperlukan org yg tepat….. Org itu adalah org yg bersentuhan langsung dgn kelompok suporter tersebut…..bukannya stakeholders dari club tersebut yg tidak tahu permasalahan di bawah….

    Saya rasa sekian saran dr saya AREMANIA…..semoga permusuhan ini bs menemukan titik terang k jalan damai…. untuk yg menuliskan coment di atas entah yg mendukung atau yg menghujat bonek, mohon menyikapi permasalahan ini dengan jernih tanpa harus membawa ego pribadi….
    Trima KAsih….

    sip. begitulah seharusnya. masyarakat kita gampang panas lantaran sulit cari duit: pekerjaan susah, pendidikan mahal, dst. akibatnya, dengan berkerumun, mereka merasa nyaman. namun sedikit pemantik bisa meletupkan dendam yang lama terpendam, seperti mudah ngamuk, dll itu. semua kelompok supporter memiliki problem yang sama.

    mari kita perbaiki negeri ini dengan kebersamaan dan sportivitas.
    salam,
    /blt/

  7. Arn3k

    Ki blog tmpek ancene,blog’e para anjink2,juancok kbeh

    kalau saya dijancok-jancokke gak masalah. yang penting jangan melukai, atau merugikan orang lain. salam damai, bung…
    /blt/

  8. tekad

    Walikota Surabaya adalah mantan BONEX bro……jd wlikotanya jg gak punya aturan, coba liat aja byk lokalisasi WTS yg masih dipelihara…itulah ciri khas BONEX.

    mari kita bersama-sama menjaga kedamaian dan ketentraman. kalau benar mBonek, semoga Pak Walikota cepat baik…
    /blt/

  9. Jonathan Ryousuke

    Bonek (homo brutalicus) | fossil range : 1500 mya – today | found location : Surabaya, above the train, football stadium (persebaya only), inside your septic tank | food : pkl, police, journalist, journalist’s cameras, train lamps, ball, your mom,dinosaur feces | behavior : extremely brutal, extremely stupid, extremely homosexual | species : homo brutalicus (Surabaya mayor, 1110), h.brutalicus imperiosus

    like!
    /blt/

  10. kera ngalam

    BONEK iku pancen ora duwe utek kabeh. muga muga segera oleh balesan dari Allah SWT…

    kalau punya otak, namanya bukan bonek. mungkin bernama fans berat, mania(k), atau apa saja…

    /blt/

  11. segerombolan orang bodoh yang tingkah laku buruknya didukung pemerintah. akankah ini sebagai simbol berhasilnya PSSI?

    kayaknya gitu, deh… *ngirik Nurdin Halid*
    /blt/

  12. sanksi cukup di boneknya saja bukan pada tim persebaya. bonek ga usah atau tidak boleh memberi dukungan saat persebaya away, atau semua pertandingan persebaya di kandang harus tanpa penonton.
    walikota njemput bonek?? politis, maklum walikotanya mau nyalon lagi jadi wakil walikota, sementara manajer tim bajul ijo si saleh mukadar mau nyalon jadi walikotanya..
    ya beginilah sepakbal kalo dijadikan tunggangan pulitik, remek

  13. iya neh, menurutku PSSI tidak tegas. Bukankah ulah bonek ini juga sedikit banyak mempengaruhi keinginan masyarakat bola yang ingin nonton bola di stadion?? Apa jadinya kalo ingin berangkat ke stadion mencari hiburan sepakbola tapi yang di dapat kaca mobil pecah, body motor hancur akibat ulah beringas suporter. Hal ini berimbas dengan sedikitnya dukungan masyarakat Indonesia untuk nonton pertandingan secara langsung di stadion yang artinya mengurangi pendapatan bagi penyelenggara kompetisi. Bukankah yang bisa membeli tiket adalah orang-orang yang notabene menengah ke atas, yang membutuhkan kenyamanan dan keamanan dalam menonton pertandingan. Lihat saja, sampai saat ini kursi2 VIP di pertandingan2 besar masih sangat sulit untuk penuh, itu menandakan belum adanya rasa percaya atas keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat kalangan atas untuk menonton sepakbola secara langsung di stadion. Termasuk menyoroti kualitas pertandingan di ISL (yang katanya kompetisi paling bergengsi di tanah air), masih sangat buruk dengan terlihatnya permainan yang masih sangat mengandalkan fisik. Sangat jarang sekali tim yang mengandalkan teknik/skill dalam menyajikan permainan yang kolektif. Permainan semacam ini tidak mampu mengundang orang2 berduit untuk menontonnya langsung di stadion..

  14. wah kalau saya setuju pak bukan hanya bodoh tapi tidak menghormati diri sendiri terutama tim bajul ijo.
    saya sangat malu sebagai warga yang notabenenya disekitar surabaya. saya suka dengan semangat bonek untuk mendukung pertandingan buat bajul ijo tapi ngeliat kelakuannya bikin panas….

  15. Kelakuan walikota itu patut disayangkan, mungkin walikota perlu penasehat Konseling.
    Dengan disambut sudah artinya = kita datang membawa kebanggaan.
    Bonek itu sangat memalukan pak Wali.

  16. klo gitu walikota surabaya harus mengundurkan diri
    kok malah memelihara anakhisme bonek
    bukannya memberi peringatan dan hukuman kepada bonek karena telah membuat citra buruk untuk kota surabaya..
    apakah PSSI diam saja melihat kenekatan bonek ini

Leave a Reply