Mahasiswa Penggembira

catatan untuk dua sahabat yang usai menjalani sidang skripsi bersamaan *)

Industri televisi memang sektor pembodohan paling masif di Indonesia. Status mahasiswa yang sangat didambakan oleh para orang tua maupun remaja diruntuhkan begitu saja melalui layar kaca. Berseragam jaket almamater, mereka dihadirkan pada beragam acara. Namun kesan yang mengemuka, sangat jauh dari potret layaknya kaum cendekia.

Lihatlah tepuk tangan yang tak pernah relevan, sekadar demi meramaikan sebuah kemasan pertunjukan. Kebodohan pembawa acara (yang selalu dijumpa pada semua acara) tertutup oleh riuh koor tangan mereka, yang tak jarang dikomando atau dikode oleh kru stasiun televisi. Anehnya, selalu saja banyak acara diramaikan mahasiswa universitas terkemuka, bahkan didatangkan dari luar kota.

Itukah wajah mahasiwa Indonesia? Saya kok tidak terima…

Para pengelola program siaran, menurut saya, menjadi orang-orang paling berdosa atas citra yang timbul atas perbuatan mereka. Seorang pembawa acara yang serampangan memotong pembicaraan, menjadi tanggung jawab mereka. Juga para editor yang suka seenaknya menyunat kalimat karena kebutuhan gambar dan waktu tayang iklan yang (katanya) tak bisa ditawar.

Memang, tak ada keharusan mahasiswa menjadi demonstran. Juga tak ada kewajiban seorang mahasiswa harus berkaca mata tebal lantaran jadi korban kebanyakan baca buku. Mahasiswa boleh tampil apa saja, sesuka hati mereka sebagai individu merdeka. Acara penuh canda tawa seperti Bukan Empat Mata, misalnya, tak lantas menjadi lebih berbobot lantaran dipadati mahasiswa berjaket almamater. Apalagi, peran mereka cuma membantu tepuk tangan, sekadar demi kemeriahan.

Program debat politik juga serupa. Kumpulan mahasiswa yang didudukkan berkelompok sesuai warna jaket, juga tak memberi makna apa-apa selain warnanya dibutuhkan untuk kepentingan manipulasi visual semata. Pertanyaan-pertanyaan standar, bahkan cemen yang terlontar, justru mengesankan ketidakberdayaan. Tampak tak berisi, sebab sering jauh dari sikap-sikap kritis.

Mahasiswa jenis apakah mereka? Jujur, saya sedih setiap melihat penanya beridentitas mahasiswa bisa percaya diri, bertanya dengan bahasa dan materi hampa makna. Atau, jangan-jangan itu merupakan cara Tuhan mempermalukan para menteri pendidikan Indonesia, presiden, juga para legislator yang tak pernah bisa merumuskan arah kebijakan sistem pendidikan kita? Sayang, terlalu halus cara Tuhan menyindir. ‘Anehnya’, Dia tahu ciptaannya banyak yang pandir dan tak peka rasa, tapi masih saja ‘dipiara’.

Coba kita tengok, adakah para pendidik dan pejabat-pejabat yang berkompeten di bidang pendidikan merasa ‘tersinggung’ dengan ulah aktor-aktor dalam mata rantai industri televisi yang membodohkan mahasiwa begitu rupa?

Tapi, ya mau gimana lagi… Para kru televisi berikut konseptornya saja, masih banyak yang cuma hasil seleksi yang mengutamakan tinggi indeks prestasi. Tak peduli mereka hanya kaum textbook thingking, walau lulusan perguruan tinggi terkemuka. Para pengajar pendidikan tinggi, nyatanya juga pemiliki gelar master atau doktor yang asal lulus, sebab mereka juga merupakan produk ewuh-pakewuh. Banyak perguruan tinggi memproduksi lulusan S-2 dan S-3, sebab ada kecenderungan mengukur prestise lembaga pendidikan ditentukan sedikit-banyaknya lulusan pascasarjana. Mereka abai pada kecendekiawanan seseorang (pengajar) yang didapat melalui studi dan penelitian sungguh-sungguh di lapangan.

Sebaiknya jangan membantah dulu, deh. Banyak dosen yang saya kenal (maaf) bodo, bisa sukses memperoleh gelar Ph.D, bahkan dilantik menjadi guru besar. Begitu murahnya gelar profesor di Indonesia, sebab penentunya ‘hanya’ selembar surat keputusan pengangkatan oleh presiden. Kita bandingkan saja antara banyaknya guru besar (yang kaprah dengan sebutan profesor) dengan jumlah karya ilmiah yang dihasilkannya. Asli, untuk soal ini, saya berani taruhan potong jari! (Silakan pilih yang kanan atau kiri, dari tangan atau kaki)

Jadi, wajah pendidikan kita memang sudah begitu bobroknya. Dari hulu sampai hilir…sama saja! Tak tampak keinginan memajukannya, sehingga akhirnya ya seperti potret mahasiswa di televisi itu…..

*) saya harap kalian tak menjadi manusia gamang. kalian beruntung punya banyak pengalaman, setidaknya bukan masuk kategori pemuja prestasi akademik yang palsu itu…

14 thoughts on “Mahasiswa Penggembira

  1. Njeh pak, semoga aku ndak termasuk mahasiswa-mahasiswa yang dibodohkan dengan title. Tapi nek wes mlebu kancah negeri, sajak’e embel-embel sarjana berkepala siji (1) iku perlu pak.

    jadikan itu sebagai sarana. bukan satu-satunya, agar kita tak lupa meningkatkan kapasitas kita… btw, aku setuju Kurnia nerusin supaya status bisa menopang skill dan kian memberi manfaat pada banyak orang… amin
    /blt

  2. Ikut menyimak saja, semoga dua orang “tersangka” di atas bisa sukses, tanpa harus bergantung pada titel. Bagaimanapun, beruntung kalian sudah hampir lulus. Lah saya, mau kuliah biar sekedar dapet gelar sarjana S1 aja ga mampu. wkwkwkkw

    masih banyak cara untuk sukses tanpa embel-embel sarjana. PF, mBang…
    /blt/

  3. saya harap kalian tak menjadi manusia gamang. kalian beruntung punya banyak pengalaman, setidaknya bukan masuk kategori pemuja prestasi akademik yang palsu itu…

    AMIIN……

    amin
    /blt/

  4. dulu saya kuliah murni karna cari kuliahan yg murah, karna bapak mau pensiun
    bapak pensiun, saya jualan kompyuter buat kuliah
    kuliah selesai, ilmu kuliah blas ndak dong
    jualan kompyuternya tetep.

    salut!
    /blt/

  5. hahaha…nylekit pak Bhe…wong saya cuma D3…IP jongkok pula…

    biar IP-mu jongkok, ilmumu sudah bermanfaat. dirimu sudah mengajarkan ilmumu, dan komputerku jadi nyala lagi. itulah sedekah jariyahmu….. :p
    btw, IP-mu sing endi: yang 202. 159 … … atau yang 118 211 … …?
    /blt/

  6. perlu diubah kah pendidikan indonesia??

    *mendambakan pendidikan indonesia yang membuat saya jadi cepat lulus kuliah 😀

    cepat lulus atau tidak, itu soal selera dan kemampuan :p
    intinya, hanya sistem pendidikan yang baik yang bakal menghasilkan lulusan baik pula…
    /blt/

  7. aku rasa “percuma” kalo mahasiswa hanya punya softskill tanpa ada hardskill….
    istilahe pinter kanggo awake dhewe, tapi ra iso memanfaatke ilmu ne…

    memanfaatkan ilmu itu kan hukumnya wajib.. soft atau hard sama saja…
    /blt/

  8. Dony Alfan

    Kalaupun nanti aku beruntung dapat gelar akademik, biarlah itu menjadi semacam bentuk laporan pertanggungjawaban kepada para funder, yakni bapak dan ibuku, yang sudah membiayai kuliah dan kebutuhanku selama ini.
    Soal mau diapakan ijasah akademik itu, entah aku juga belum tahu. Mari berkarya!

    gak usah mikir pusing-pusing. kerjakan dan tekuni yang disukai… Insya Allah, Gusti Allah ngijabahi……..
    /blt/

  9. ah Pak B, yen urip e berprinsip, wong seng berjuang demi prestasi akademik juga gak palsu kok…karna memang ada, orang-orang yang haus ilmu pengetahuan dan terus belajar..salah satunya lewat akademik.

    *termasuk aku…hihi

    pokoknya jangan textbook. biar selamat dunia-akhirat :p
    /blt/

  10. Ya..saya merasa beruntung banyak bertemu dengan orang2 hebat yang setau saya tidak memuja dan menggantungkan hidupnya kepada prestasi akademik, dan semoga saya juga bisa seperti mereka..karena pendidikan yang sebenarnya berada di kehidupan itu sendiri..nyuwun pangestunipun Pak…

    dipangestoni, ngger… sih padha becik tumindake, ya…
    /blt/

Leave a Reply