Foke Emoh Air Keruh

Pak Foke ternyata tak suka air keruh. Walau ‘bikinan’ PAM Jaya, perusahaan punya Pemda DKI Jakarta, tetap saja dia tak suka. Buktinya, waktu disodori sebotol air dari sebuah kran di Muara Baru oleh seorang ibu, dia memilih berlalu. Mungkin dia malu.

Kejadiannya berlangsung Rabu (20/1) pagi. Usai membuka seminar tentang Pembiayaan Infrastruktur Air di Hotel Sultan, Gubernur Fauzi Bowo alias Foke segera meninggalkan acara. Bu Komariah, salah satu warga miskin yang tinggal di Muara Baru, Jakarta Utara menyerahkan sebotol air kran. Kekuningan warnanya.

Foke enggan menerima. Mungkin malu sebab botol itu merupakan menjadi cermin buram atas buruknya pelayanan air bersih di Jakarta. Bagi warga Jakarta Utara, misalnya, saluran perpipaan sudah tersedia sejak pertengahan 1990-an, jauh sebelum pengelolaan PDAM diserahkan (dijual) ke dua perusahaan swasta asing.

Malah, kata seorang anggota Badan Regulator Air Jakarta, sedikitnya 2.000 hidran dipasang di Jakarta Utara. Sayang, motifnya agak politis. Sebagai kawasan padat dan menjadi basis partai Islam (PPP), mereka perlu diakrabi, diberi gula-gula. Lumayan kalau dengan kehadiran hidran, suara mereka bisa direbut oleh partai penguasa.

Yang pasti, tak ada cerita bagus setelahnya. Hidran mati, saluran pipa PAM apa lagi. Bahkan, hingga kini, kalaupun menetes bisa dihitung dengan jari. Jangan berharap cerita kran-kran di sana sanggup memenuhi bak mandi. Karena itu, air gerobaklah yang dibeli, rata-rata Rp 15 ribu perhari. Ngeri? Begitulah potret layanan publik di ibukota negeri ini.

Janji Suez Lyonaisse (asal Prancis, menguasai sektor barat Ciliwung) dan Thames/RWE (Inggris/Jerman) sebagai pembeli hak pengolahan dan distribusi dari PAM Jaya menambah jaringan tak kunjung terpenuhi.  Jutaan warga menengah (apalagi miskin) tak kebagian. Anehnya, pemerintah diam saja. Dibilang berpihak ke pemodal juga tak suka, namun memihak pada warganya pun belum pernah nyata.

Aneh juga rasanya, kalau pemerintah tak kunjung sadar untuk memutus kontrak dengan para ‘mitra’ swastanya, seperti yang diserukan aktivis hak rakyat atas air (KRuHA). Konon, mereka takut disuruh membayar denda, yang hitung-hitungannya antara Rp 4 triliun hingga Rp 5 triliun. Padahal, kehadiran kedua mitra swasta (kini Palyja sudah beralih ke Aetra) tak kunjung member manfaat apa-apa.

Harga air mahal, padahal mereka datang tanpa modal. Semua pembiayaan juga mereka dapat dari utang setelah masuk ke Jakarta. Janji-janji yang tertuang dalam kontrak kerja sama, pun masih layak cela. Sebab keuntungan hanya ada di pihak sana, sementara tuan rumah sebagai pemilik aset sesungguhnya, justru tak memperoleh apa-apa.

Kalau sudah begitu, mau gimana coba? Memang lebih baik mereka diusir, segerakan putus kontrak kerja sama. Masih banyak celah kemenangan, sebab cukup banyak bukti kelemahan dan kekurangan pada mereka.

Pak Foke, kalau Anda tak suka air keruh, lihatlah siapa yang memproduksinya…

5 thoughts on “Foke Emoh Air Keruh

Leave a Reply