Catatan (tentang) Si Boy

Tri Harjanto namanya, Boy panggilan akrabnya.  Dan, Jejak di Negeri Urban adalah tajuk pameran tunggal perdananya, yang digelar di kota kelahirannya, juga tempat di mana dia belajar fotografi, lalu merintis karir sebagai pewarta foto. Pameran ini, memang lebih tepat saya sebut sebagai oleh-oleh Si Boy, si lelaki eksentrik, dari laku hidupnya sebagai pemuda urban.

Boy dengan kamera tuanya...

Boy dengan kamera tuanya...

Menjejak Jakarta tujuh tahun silam, Boy adalah pemuda lugu. Dan lugas. Ia tak pernah malu bertanya, bahkan sanggup dengan enteng menertawakan dirinya. Bila teman-temannya yang kebanyakan juga urban sudah mau beradaptasi dengan modernitas dan gaya hidup metropolitan, Si Boy adalah sosok yang terus mempertahankan identitasnya, sebagai orang kampung, meski terkadang kelewat katrok.

Namun, justru pada keluguan dan kelugasannya terletak kekuatan Si Boy. Ia lantas disayang banyak orang, apalagi ia menjadi sosok yang bisa dijadikan teman sejati. Pada Boy, kita terjauhkan dari kepura-puraan. Dengan segudang prestasi (dan konsekwensi hadiah berlimpah yang mestinya bisa membawanya pada kehidupan ‘normal’), ia tak menjadi jumawa. Selalu tampil sederhana, tanpa maksud pamer kemiskinan.

Boy kini adalah Boy yang saya kenal kira-kira 17 tahun silam, ketika masih mengendap-endap belajar memotret peristiwa seni pertunjukan, baik di kampusnya, STSI (kini ISI) Surakarta, maupun di Taman Budaya Surakarta. Ia lantas memotret apa saja, hingga ia lantas berani melamar lalu bekerja sebagai fotografer sebuah koran lokal bertiras tak seberapa, di kota kelahirannya.

Mendengar ia bergabung dengan Indo Pos, anak perusahaan Jawa Pos yang terbit di Jakarta, pada 2003, saya membayangkan Boy akan gagal beradaptasi. Jujur, persaingan yang serba keras dan kontestasi yang sengit di Jakarta, tak bakal menyelamatkan dirinya. Yang terbayang, ia akan pulang ke kampung halaman dan berkata tak sanggup hidup pura-pura di Jakarta.

Sekali-dua, saya bertemu dia di Taman Ismail Marzuki. Rupanya, seperti saya, ia masih menyukai peristiwa seni pertunjukan. Entah teater, tari atau musik, selalu coba dia sambangi, meski tak ada urusan dengan tugas liputan dari kantornya. Apalagi bila teman-teman dadi Solo yang berpentas, maka ia akan menyapa, lalu membuat dokumentasinya.

Masih seperti pada masa tinggal di Solo, ia selalu tampil apa adanya. Saya lalu teringat ketika pada awal 1990-an ia menari untuk kelompok musik Sanskerta, atau menjadi tenaga artistik pertunjukan apa saja, dengan model kerja suka rela. Selama ia suka, maka sebuah pekerjaan akan dijalaninya tanpa banyak kata.

Mengenang masa lalu dengan motor tuanya....

Mengenang masa lalu dengan motor tuanya....

(Mumpung belum lupa, motor Honda CB tua yang didudukinya itu adalah bagian dari sejarah hidupnya. Ketika masih berkesnian di Solo dan awal-awal jadi pewarta foto di Solo, motor itulah yang menemaninya ke mana-mana. Begitu juga kamera tua yang turut dipajang di tengah-tengah pamerannya.

Rangka besi yang digunakan untuk men-display foto-fotonya, pun mengingatkan saya pada dunia tata rupa pentas dan jagad seni pertunjukan yang pernah diakrabinya. Saya tahu persis, tanpa kamera itu, mungkin Boy tak menjadi seperti yang kita kenal kini. Ketika itu, laboratorium fotografi di kampusnya sangatlah jauh dari memadai. Hanya ada beberapa, dengan lensa tak seberapa pula, plus satu enlarger untuk praktek cuci-cetak foto hasil praktek para mahasiswa)

Boy kini adalah Boy yang dulu saya kenal. Ketika saya pameran di Jakarta, Agustus silam, ia selalu datang menemani. Malah, kamera miliknya sempat saya pinjam selama berhari-hari karena selama pameran itu terdapat sejumlah pementasan karya-karya tari dari seniman berbagai negara. Dan, karena tahu saya ingin punya dokumentasinya, maka ia rela melepas kamera kesayangannya untuk sementara.

Ketika itu pula, saya kaget dan bangga. Dalam waktu sepekan, kudengar dia memperoleh tiga penghargaan, dengan total jumlah hadiah gila-gilaan. Saya senang dengan prestasi yang yang diraihnya. Rupanya, menjari photojournalist di ibukota telah membawa dia merambah segala hal. Sehingga Jakarta menjadi kota kedua yang sangat dia kenal. Ia bersaksi pada setiap peristiwa, juga tragedi.

(Oh, ya. Mungkin karena kejumawaan saya, sehingga menjadi underestimate kepadanya. Dari biodata yang terpapar di katalog pameran tunggalnya, saya baru tahu begitu banyak penghargaan yang pernah diraihnya. Rupanya, saya bukan apa-apa dibanding pengalaman dan prestasinya, meski menekuni fotografi jauh lebih lama dibanding dia)

Kesaksian Boy dari lapangan, tentang harapan orang tua yang melayang...

Kesaksian Boy dari lapangan, tentang harapan orang tua yang melayang...

Pada orang-orang miskin yang rumahnya dilalap api dia bersaksi. Pada penggusuran pedagang kakilima, dia juga ada. Pada orang berduyun-duyun mengerubuti pentas musik, ia pun menelisik. Dan…. Klik! Maka jadilah rekaman gambar yang menggelitik.

Boy adalah Boy. Subyek pada karya-karya foto yang dipamerkannya, sejatinya adalah potret dirinya juga, potret pendatang yang kalah. Seperti nasib orang-orang yang dibingkainya, Boy kalah menghadapi kerasnya Jakarta. Saya tak bisa menyebut mereka, apalagi Boy, sebagai sosok yang gagal! Buktinya, mereka tetap survive, hingga bertahun-tahun.

Kalau kini foto-foto orang kalah itu dipajang di Galeri Seni Rupa Taman Budaya Surakarta, bagi saya, itu merupakan oleh-oleh. Ia ingin berbagi cerita, tentang kekalahan dirinya di Jakarta. Ia tak pernah mengaku alasannya kembali ke ‘Jawa’ dan memilih meninggalkan pekerjaan yang dicintainya.

Saya yakin, Boy baru saja dikalahkan. Tepatnya, dipaksa kalah. Tapi, kesantunan dan kesederhanaannya tak membuatnya mudah berkeluh kesah. Tersirat, ia pulang karena tiba saatnya harus memilih untuk mengalah. Boy, saya salut. Dan ingin meniru jejakmu…

9 thoughts on “Catatan (tentang) Si Boy

  1. wah..salut buat mas Boy…idealismenya untuk tetap tampil apa adanya sesuai dirinya sendiri membuat ia mampu berekspresi dengan bebas tanpa ada yang menekan…usahanya berbuah hasil yang mantap…
    pengen lihat pmerannya, di solo ada gak????

    Ariitt… perhatikan, ya… Fast reading itu boleh-boleh saja, asal sanggup teliti. kamu bisa melihatnya, kok. lokasi pameran tak jauh dari tempat tinggalmu…
    /blt/

  2. si boy kapan pameran fotografi di jogja
    pengen liat hasil karyanya secara langsung..

    wah, ora ngerti je, Kang. kayaknya sih cuma di Solo saja, wong dia pameran didanai sendiri, kok…. :p
    /blt/

Leave a Reply