Pahlawan

Patung para presiden Indonesia ‘menghiasi’ ujung Jalan Malioboro, Yogyakarta. Banyak orang, tua-muda, dari nenek-nenek hingga anak-anak, mengerubuti patung-patung tersebut. Sebagian malah berpose di samping patung-patung, sementara sebagian lain berbaris, selang-seling dengan turis asing yang antri foto bersama.

“Mama, Mama… Itu ciapa?” teriak seorang anak perempuan sambil menunjuk sebuah patung.

“Ooo… Itu Gus Dur,” jawab ibu muda itu.

“Gus Dul itu ciapa cih, Ma?” ujar sang anak, ingin tahu.

“Gus Dur itu nama lengkapnya Kiai Haji Abdurrahman Wahid, dulu Presiden kita juga. Kalau yang itu Bung Karno, presiden pertama, dan yang perempuan itu Bu Mega, presiden yang menggantikan Gus Dur,” jawab sang ibu.

“Kok plesidennya banyak, cih Ma?” tanya si bocah.

“Iya, presiden kita memang banyak. Ganti-ganti, tapi yang paling lama jadi presiden cuma satu, Pak Harto!” jawab si ibu.

“Wah, Pak Halto hebat ya, Ma?”

Si ibu terdiam. Ia sadar, tidak mudah menceritakan riwayat kepresidenan Soeharto untuk anak-anak. Mengutarakan referensi dan memori yang dia miliki kepada sang anak hanya akan meracuni. Ia pun kuatir anaknya tumbuh jadi pembenci.

“Ya, anggap saja hebat, Nak….” jawab sang ibu.

“Kalau hebat, belalti dia pahlawan dong, Ma. Kalau Gus Dul itu pahlawan bukan, Ma?”

“Ya, Gus Dur itu pahlawan. Banyak orang menginginkan Gus Dur dianugerahi gelar sebagai pahlawan. Dia pernah menunggui perkawinan orang Konghucu yang dilarang jaman Pak Harto. Pokoknya hebat deh…,” jawab ibu.

“Telus, Pak Halto gimana dong? Kalau lama jadi plesiden, itu kan pahlawan juga…,” sang anak terus ingin tahu.

“Besok saja ya, Nak. Kalau sudah SMA nanti, kamu akan tahu, Pak Harto itu pahlawan atau bukan. Sekarang, SK pahlawannya belum turun. Yuk, kita ke Malioboro Mal saja, yuk. Mau es krim, kan?” jawab si ibu sambil membujuk sang anak.

Belum sempat beranjak dari tempat sang anak memperhatikan patung-patung bekas presiden, tiba-tiba terdengar suara gaduh. Seorang remaja menunjuk-nunjuk patung Pak Harto sambil menar-narik sang ayah.

“Pah…. Lawan!!! Lawan, Pah… Lawan!” teriak si remaja. Histeris.

Sang ayah hanya bisa pasrah, menuruti kehendak sang anak. Di wajahnya tergambar keceriaan dan kebanggaan pada sang anak.

Si ibu yang melihat adegan itu tak jadi buru-buru berlalu meninggalkan tempat itu. Ia justru sibuk menduga-duga sosok ayah si remaja. Jangan-jangan orang itu aktivis hak-hak asasi manusia, atau malah keturunan orang yang dituduh rezim Soeharti sebagai keluarga eks-anggota PKI.

22 thoughts on “Pahlawan

  1. Si Doel

    Celotehannya tidak obyektif. Jaman Soeharto kita menentang paham kultus individu, tp anda malaah mengkultuskan GD … ha ha 😀

    saya tak merasa mengkultuskan Gus Dur, tapi mengapresiasi gagasan-gagasan besarnya, tuh….
    /blt/

  2. Anak cerdas terlihat dari pertanyaan yang disampaikan, orang tua cerdas tampak dari cara menjawab pertanyaan sang anak

    pembaca cerdas tampak dari kalimat kesimpulannya…
    /blt/

  3. Sip posting yang sangat bagus, wah kalau ibu itu harus menjawab pasti jawabannya kepanjangan tuh. sehari aja gak cukup buat nerangin mantan presiden Soeharto semasa hidupnya dulu. Sangat inspiratif.

  4. Nice posting Mas…apik banget iki….

    ah… berlebihan banget. wong cuma asal ngawur wae, kok.. suwun atas kunjungannya, Mbakyu………….
    /blt/

Leave a Reply