Firasat Gus Dur

Selama dua hari, pikiranku sungguh terganggu gara-gara membaca status Kyai Mustofa Bisri di Facebook. Apalagi, saat menyaksikan berita di televisi, ada kabar Gus Dur meminta mobil yang membawanya ke Surabaya berbalik arah ke Tebuireng. Kata berita, Gus Dur ingin nyekar, berdoa di pusara ayah dan kakeknya.

Sesuatu yang ganjil menurut saya, sehingga pikiran membawa pada kecurigaan, jangan-jangan Gus Dur akan pergi selama-lamanya… Terserah saja kalau Anda akan menyebutnya sebagai cara berpikir klenik. Saya tetap menganggap yang demikian sebagai perwujudan ilmu titèn atau metode membaca firasat, warisan para tetua.

Ganjil, sebab saat kondisi kesehatannya menurun dan harus memperoleh perawatan kesehatan yang memadai, Gus Dur masih menunjukkan sisa-sisa kekuatannya. Beliau tak mau dibawa menggunakan mobil ambulans, dan memilih berobat di Jakarta dibanding Surabaya.

Yang demikian, bagi saya juga bisa dipahami sebagai firasat. Apalagi, di Tebuireng, Gus Dur juga sempat berujar minta agar pada 31 Desember dijemput (keponakan?) untuk kembali mengunjungi pondok pesantren yang didirikan sang kakek, KH Hasyim Asy’ari, yang makamnya berdekatan dengan ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim.

Status Kyai Mustofa Bisri tertulis begini:

Hari ini Gus Dur dan mbak Nuriyah datang ke rumah. Alhamdulillah GD kelihatan sehat. Padahal beberapa hari yg lalu, aku mendengar beliau opname di RS. Ibunya anak2 pun langsung sehat, menemui mbak Nur. Melihat GD dahar, mbak Nur komentar: “Alhamdulillah; mugo2 dadi tombo; wis rolas dino Mas dur ora kerso dahar sego.” (December 24, 2009 at 2:15pm)

Kalimat kutipan komentar Bu Sinta Nuriyah yang berintikan “semoga dahar (makan)-nya jadi obat; sudah dua belas hari Mas Dur tidak mau makan nasi”, menurut ilmu titen (khususnya dalam alam pikir orang Jawa seperti saya), biasa dipercaya sebagai firasat, yang kemungkinan ada dua, yakni sehat cukup lama, atau dekat dengan maut.

Dua hari sejak membaca status itu, sungguh saya gelisah. Pertama terlontar justru ketika saya dalam perjalanan ke Wonosobo, menemani Kang Didik yang akan bertemu dengan salah satu murid Gus Dur, Kholiq Arif. Di dalam mobil, saya mengutarakan kegelisahan kepada Kang Didik.

“Kang, jangan-jangan, kedatangan Gus Dur ke dalemé Gus Mus itu dalam rangka pamitan, ya…”

“Hush! Jangan punya pikiran jelek begitu, to..,” sergah Kang Didik.

“Aku juga belum rela kalau saat-saat ini kita ditinggal Gus Dur. Masih banyak yang kita butuhkan dari beliau. Setidaknya, kita masih memerlukan penengah untuk gegeran di republik ini. Hanya Gus Dur yang sanggup menerima risiko dimaki-maki banyak orang, asal tindakan atau pernyataannya bisa bermanfaat bagi banyak orang,” sahutku.

Kami pun lantas bercerita tentang banyak hal. Mulai dari caranya menjauhkan Gus Dur dari warung gudeg kesukaan beliau di Solo yang baru disadari ternyata menjajakan sarèn (darah), hingga kesukaan Gus Dur cengèngèsan, membuat banyolan-banyolan segar setiap berkumpul dengan sejumlah orang.

Juga, kami bercerita tentang konflik PKB dan gosip mengenai skandal bail out Bank Century, serta adanya tren baru kelompok-kelompok Islam garis keras yang berusaha menguasai dan menjadikan stasiun radio sebagai corong dakwah, yang diprediksi bakal memperkeruh interelasi sosial dan budaya.

“Keresahan sudah mengancam kita, dan kita butuh orang-orang seperti Gus Dur untuk melahirkan strategi-strategi cerdas dalam rangka mengurangi dampak buruk gerakan fundamentalis Islam. Banyak di antara saudara kita yang belum sanggup melakukan, apalagi kalau kelompok-kelompok garis keras juga memiliki back up kekuasaan,” kata Kang Didik.

“Kekuasaan apa sih, Kang,” tanyaku.

“Ya pokoknya kekuatan besar yang kita hanya bisa menduga, tapi tak bisa menunjukkan peran langsungnya,” jawabnya.

Saya terdiam. Otak berputar, kembali mengingat-ingat kekuatan politik apa saja di negeri ini yang masih suka menggunakan kelompok-kelompok etnis dan agama untuk eksperimen politik.

Hingga menjelang masuk Kota Wonosobo, jawaban tak kunjung ditemukan. Yang muncul hanya nasihat-nasihat dan teladan Gus Dur, tentang bagaimana merawat perbedaan, dan di mana seharusnya ajaran Islam turut berperan, sementara umat Islam tampil menjadi pendinamisir perkembangan yang pasti ada, dan nyata. Prasangka, sungguh hanya membuat celaka.

Selamat jalan Gus Dur… Maaf kalau saya sempat larut dalam alam berpikir klenik. Semoga, apa yang saya sebut sebagai firasat hanya kebetulan semata. Saya rasa, hanya orang-orang seperti panjenengan bisa memahami cara berpikir demikian.

11 thoughts on “Firasat Gus Dur

  1. Ya, benar Alm. Gus Dur punya daya intuisi / firasat yang sangat kuat. Saya sendiri menulis di blog saya tentang firasat Alm Gus Dur http://antotea2-gusdur.blogspot.com/ sewaktu beliau menjadi presiden.
    Ada beberapa hal yang seringkali tidak kita mengerti. Beliau tiba2 memerintahkan tangkap si A tanpa alasan yang kuat. Tetapi saya sendiri justru baru mengerti setelah sekian lama berlalu.
    Yah, kita memang memerlukan pemimpin seperti Gus Dur yang bisa tahu dan mengerti rakyatnya.

  2. ahmad

    Tidak ada sedikitpun keraguan bahwa GUS DUR adalah AHLUL BAYT….ALLOH selalu menjaga AHLUL BAYT…hanya dengan ALFATIHAH….sebagai rasa cinta kita kepada RASULULLOH dan AHLUL BAYT…..semoga kita kelak dibangkitkan bersama dengan AHLUL BAYT….kumuhon ya ALLOH bimbinglah hamba-MU ini

  3. Jujur sampai saat ini berada di tengah2 kelompok yang pro dan kontra dengan gusdur. Saya belum berani memilih menjadi kelompok yang mana, sebab pengetahuan tentang Gusdur saya sangat minim. Untuk saya akan beterimakasih sekali jika penulis blog ini banyak menulis tentang Gusdur. …

Leave a Reply