Gus Dur Guru Bahasa

Kesibukan Mas Sulaiman yang sempat kurekam di Tebuireng, Kamis (31/12)

Kesibukan Mas Sulaiman yang sempat kurekam di Tebuireng, Kamis (31/12)

Pada suatu malam sekira lima tahun silam, saya sengaja datang untuk menyimak orasi budaya KH Abdurrahman Wahid pada sebuah acara sederhana di samping Planetarium, kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini. Acara itu sendiri digagas oleh sejumlah seniman (maaf) pinggiran di Jakarta.

Kedatangan Gus Dur, menurut saya, luar biasa. Belum tentu orang yang merasa dirinya tokoh mau datang (apalagi menjadi pembicara kunci) pada acara yang hanya dihadiri ‘orang-orang kebanyakan’ seperti itu. Di situlah letak kelebihan Gus Dur, yang juga pernah menjadi pengurus teras Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), mau dan mampu mempertanggungjawabkan predikat yang disematkan padanya sebagai budayawan. Ia mesti berbudaya.

Kalau pernyataan Gus Dur dalam kapasitasnya sebagai kiai atau presiden, saya merasa sudah terbiasa. Ngobrol dalam forum sesama orang biasa pun sudah pernah beberapa kali, entah di rumah seorang teman atau makan pagi di Rumah Makan Adem Ayem, tempat kesukaan Gus Dur kalau tindak ke Solo. Tapi kali itu, Gus Dur tampil sebagai seniman/budayawan!

Ketika master of ceremony mengumumkan saat orasi tiba, Gus Dur segera beranjak naik ke atas panggung. Beliau menyambar mikrofon lalu menyerahkannya kepada Mas Sulaiman, ajudan yang selalu menemani Gus Dur. Sang ajudan lantas membacakan naskah pidato Gus Dur. Pada awalnya, suasana menjadi gerrr, sebab Mas Sulaiman membaca dengan intonasi relatif datar.

Menjelang lembar kedua (dari sekitar lima halaman kwarto, kalau saya tak keliru) naskah orasi dibacakan, kebanyakan pengunjung (sekitar seratusan orang) terdiam. Saya lihat, banyak di antara mereka menunjukkan raut muka bosan, jenuh. Pasalnya, Mas Sulaiman mengucapkan semua tanda baca secara lengkap seperti titik, koma atau kurung bukakurung tutup, dan seterusnya.

Aneh bagi sebagian dari mereka, namun tidak buat saya. Justru dari kejadian itu, saya menjadi tahu betapa daya ingat Gus Dur luar biasa. Saya jadi bisa ‘membaca’ kemampuan Gus Dur merangkai kalimat demi kalimat secara runtut, serta mengagumi daya ingatnya yang luar biasa atas referensi yang pernah beliau baca, lalu dikutipnya untuk dijadikan materi narasi besar yang dilontarkannya.

Membuat naskah tertulis seperti itu, tentu bukan tanpa sengaja. Untuk orasi sebagus pada malam itu, kalau memang diniati menyampaikan secara lisan, tentu Gus Dur kelewat mampu. Tak seorang pun bisa membantah kehebatan daya ingatnya.

Banyak di antara kita, mungkin masih bertanya-tanya, kenapa di saat Gus Dur sudah cacat mata, tak bisa lagi melihat apalagi membaca, beliau masih rajin mengirimkan tulisan ke redaksi media massa? Kenapa pula, Gus Dur mengisi kolom rutin di sejumlah media, termasuk Harian Aksi, Jakarta, yang bahkan kumpulan tulisan di koran kecil itu lantas dibukukan dengan judul Gus Dur Bertutur.

Mas Sulaiman tak hendak melawak ketika membacakan naskah orasi itu. Gus Dur pun tak sedang bermain-main atau pamer kemampuan berbahasa, dan menulis secara baik dan benar. Sebaliknya, peristiwa itu justru menjadi sindiran halus, atau bahkan tamparan keras bagi siapa saja (apalagi seniman, terlebih yang menggeluti sastra) yang abai pada bahasa dan kaidah penulisan.

Rupanya, ketika meminta ajudan menulis, Gus Dur mendiktenya hingga ke urusan penempatan titik-koma dan seluruh tanda baca, yang kadang dianggap sepele. Padahal, hanya salah menempatkan tanda koma (,), makna kalimat bisa menyimpang sangat jauhnya dari yang dikehendaki pemilik gagasannya. Tentu, yang begitu bukan untuk meremehkan Mas Sulaiman sebagai ‘tukang ketik’ semata. Namun sebaliknya, justru menjadi pelajaran berharga untuk urusan disiplin berbahasa.

Simak saja tulisan di buku-buku yang Anda punya, atau koran, majalah, situs berita, hingga blog-blog yang Anda baca. Sangat mudah kita jumpai ‘bukti’ betapa tidak disiplinnya kita merawat bahasa yang kita punya. Padahal, dari bahasa, identitas kita bisa dibaca oleh siapa saja, ketika kita berada di mana saja, saat memperbincangkan hal apa saja.

Masihkah kita pantas menjadi orang Indonesia ketika kita lupa pada Sumpah Pemuda? Mumpung belum terlambat, mari kita belajar pada Gus Dur………..

5 thoughts on “Gus Dur Guru Bahasa

  1. wah. aku belajar nulis pake ngeblog, dhe. gara2 guru sejarah jaman aku SMP dulu, Bu Yani, yg kecil, galak, tapi cantik itu. kalo kurang hurup kapital, kurang koma, dan nggak pake titik di tiap jawaban, mau itu jawaban bener 100% atau 1000%, pasti bakal langsung salah.
    aku punya ibu guru sekaliber Gus Dur. aku belajar bahasa Indonesia dari pelajaran sejarah. mantep emang Bu Yani!!!

    katanya, sebelum nge-blog sudah sering menang lomba karya tulis. benarkah?
    /blt/

  2. [insya alloh saya berusaha keras menempatkan tanda baca dan menggunakan bahasa dengan baik dan benar, kecuali penulisan sms dan komen blog yang pakai huruf kecil semua] :mrgreen:

  3. hiks… kang, saya sangat terharu membaca tulisan ini, sekaligus sangat bangga pada gus dur! saya sangat cinta gus dur dan gagasan segar beliau!

    mari kita doakan semoga beliau mendapat tempat istimewa bersama orang-orang mulia yang lain..

Leave a Reply