Gus Dur itu Asyik

Gus Dur tetap Presiden RI, sampai kini: Presiden Rakyat Indonesia

Gus Dur tetap Presiden RI, sampai kini: Presiden Rakyat Indonesia

Jangankan santri pakai tindikan (piercing) di bibir, anak perempuannya menyemir rambut dengan warna ngejreng pun tak jadi soal bagi Gus Dur. Bahwa itu menuai kontroversi, justru di situlah Kiai Abdurrahman Wahid bisa berdakwah, mengajukan argumentasi yang berdampak pada pencerahan.

Para kasus rambut sang putri bontotnya, misalnya, mengajarkan pada kita, bahwa yang dilarang agama itu kalau mengelabui ‘identitas’ asli. Kalau rata-rata orang Indonesia berubah putih keperakan, maka haram hukumnya menyemir rambut hitam sehingga seolah-olah ubanan. So, meski uban saya banyak, maka saya hanya dibolehkan mewarnai rambut selain hitam.

Tapi, begitulah Gus Dur. Dia berani melawan arus demi sebuah pelajaran penting untuk banyak orang. Ia bisa menabrak kelaziman, berani mengabaikan tata krama yang umum diyakini, namun tetap berpijak pada hal-hal yang seharusnya. Dalam konteks keberagamaan, beliau tidak sekalipun meninggalkan syariat.

Maka, dalam persoalan budaya, sosial atau politik, Gus Dur merasa lebih leluasa. Ia bisa memilah sebuah persoalan dari sudut pandang agamanya kalau memang tak ada relevansinya. Termasuk kebijakannya memasukkan Konghucu sebagai salah satu agama yang harus diakui negara karena memang hidup, dan memiliki pengikut.

Dengan mengakui Konghucu, betapapun ada pihak yang mengkafirkan dirinya atas keputusan tersebut, semangat Gus Dur tak pernah surut. Dosa-pahala sudah ada yang menentukan dan berhak menimbang, lalu memberikan kepada siapapun yang dikehendaki. Yakni, Dia Sang Pemilik Hak Prerogatif sejati.

Kalimat gitu aja kok repot yang menjadi trade mark Gus Dur, saya artikan sebagai bentuk penyikapan atas sebuah persoalan dengan santai, ringan, namun tanpa mengabaikan persoalan. Gus Dur hanya menggunakan kalimat demikian ketika sudah mendalami dan memahami sebuah masalah.

Piercing itu soal biasa, bukan gaya hidup kebarat-baratan. Lebih baik menjadi santri yang tidak keArab-Araban, tapi santri Indonesia

Piercing itu soal biasa, bukan gaya hidup kebarat-baratan. Lebih baik menjadi santri yang tidak keArab-Araban, tapi santri Indonesia

Ketika orang –terutama golongan Islam ‘garis keras’, ramai menentang lontaran gagasannya agar MPR menghapus Tap MPRS XXV/1966 (yang di antaranya mengenai larangan ajaran Marxisme dan Leninisme di Indonesia), misalnya, Gus Dur hanya berujar ya sudah, gitu aja kok repot!

Gus Dur tahu, lontaran semacam itu bakal menuai kontroversi, sebab sebagian orang (tepatnya, merasa tokoh) Islam hanya menganggap komunisme sebagai momok, hantu yang sejatinya belum pernah mereka ketahui. Membaca Das Kapital, misalnya, sudah dianggap sebagai dosa, dianggap simbol gerbang menuju kekafiran.

Meski sempat dibuat bingung dengan pernyataan serupa yang diulang-ulang, saya justru jadi curiga, ingin mencari tahu penyebabnya, sebab saya yakin, seorang Gus Dur bukan tipe orang yang asbun, asal bunyi. Dan benar, akhirnya saya tahu kalau itu sangat erat berkaitan dengan persoalan masa lalu Indonesia yang kotor, sehingga Indonesia kini menjadi negara yang dibebani hutang sangat besar.

Rakyat Kuasa... vox populi vox dei.....

Rakyat Kuasa... vox populi vox dei.....

Tahukah Anda bahwa gagasan itu terkait dengan strategi besar Gus Dur mendorong penghapusan utang luar negeri (baca: pada negeri-negeri barat)? Anda mungkin bingung mengaitkan gagasan itu dengan cap Gus Dur sebagai ‘Presiden Wisata’ lantaran seringnya melawat ke luar negeri, serta membaca gagasan Konferensi Asia-Afrika kedua, di Bandung.

Sudahlah, nikmati saja kontroversi masa lalu Gus Dur sebagai keasyikan menikmati hidup. Soal piercing dan rambut nayèng (berkarat) itu hanya soal kecil. Cerita ini masih to be continued…..

11 thoughts on “Gus Dur itu Asyik

  1. Sarbaini Muhajir

    Semoga ada timbul Gus Dur,, Gus Dur,, baru yang berani memberikan stetmen yang membela rakyat dan membela apa yang di permasalahkan orang banyak

    Gus Dur itu berjuang. bukan cuma berkata dan membuat pernyataan…
    /blt/

  2. Ingin mengenal Gus Dur lebih dekat nih. Buku ‘Gus Dur Bertutur’ itu apa masih bisa dicari?

    Sepertinya, buku Gus Dur Bertutur dicetak dalam jumlah terbatas. semoga nantinya dicetak ulang, sebab itu buku bagus, renyah, tapi membuka wawasan kita tentang banyak hal, terutama soal ketatanegaraan…..

    /blt/

  3. Niesdri Welsh

    Dik,
    Aku kuwi kenal Gus Dus pas dadi “santri mukim” meguru, mendebat, nyemak lan nyinau jalan pikirane lan cara bicaranya……orangnya “Simplicity” lan modern……..NU!

    weh, kok elok temen… dadi santri mukim ana ngendi, Mbakyu? btw, iki wis pergantian tahun kok ora kondur nJawa, ta?!?
    /blt/

  4. siaaap! melanjutkan perjuangan gus dur 😀
    ditunggu cerita selanjutnya, de….

    sipp…sabar, ya? akeh banget sing pingin kuceritakan tentang Gus Dur…
    /blt/

Leave a Reply