Kabar Segar Duta Peranakan

Adalah sebuah berkah bagi saya. Duduk bersanding dengan Margie (Margy?) dalam rangka promosi bukunya, Have a Sip of Margarita, di Gramedia, Solo, sepekan silam. Bukan cuma buku yang jadi ‘imbalan’. Lebih dari itu, saya merasa dipertemukan oleh Tuhan, dengan seorang dewi, seorang duta peranakan Cina yang berpotensi mengurangi prasangka antaretnis, juga agama.

Judul: Have a Sip of Margarita: Love, Live, and Journey Penulis: Margareta Astaman Tebal	: 198 hal + ix Penerbit: AzkaMedia Cetakan Pertama: Nopember 2009

Judul: Have a Sip of Margarita: Love, Live, and Journey Penulis: Margareta Astaman Tebal : 198 hal + ix Penerbit: AzkaMedia Cetakan Pertama: Nopember 2009

Banyak orang tak paham, terlalu banyak kelompok kepentingan yang masih suka bermain-main, di antaranya dengan memanipulasi atribut-atribut kemanusiaan. Konflik Dayak-Madura di Sampit, Islam-Kristen di Ambon, serta monumen drama bertema prasangka yang mewujud pada tragedi bakar-bakaran serta perkosaan etnis Cina pada 1998, adalah beberapa contoh, betapa semangat ke-Indonesia-an kita masih rapuh.

Cukup banyak saya berkawan dengan peranakan Cina, yang egaliter-soliter, dan asyik untuk sodaraan. Tapi pada Margie, saya merasa menemukan sosok yang jauh berbeda dengan orang-orang peranakan Cina yang selama ini saya kenal. Maaf, saya kurang suka dengan eufemisme ala Soeharto dengan menggantinya dengan istilah Tionghoa, sebab model penghalusan demikian justru menjadikan kita mengeramatkan sesuatu yang tak perlu.

Meski baru kenal sehari, tapi dari Have a Sip of Margarita saya menemukan potret utuh seorang perempuan muda metropolitan yang sangat gaul, dan (karenanya jadi) kaya pengalaman. Pengakuan kecintaannya pada bahasa Indonesia ditunjukkan dengan tulisan-tulisannya yang nyaris terhindar dari kesalahan, meski ada satu-dua (yang jelas kurang dari lima!) kekeliruan menempatkan di sebagai kata depan dan awalan. Diksinya bagus, metaforanya luar biasa!

Margie bukan tipe peranakan yang berani membuka identitas diri dan keluarganya, ketika banyak teman sebayanya (apalagi senior-seniornya) yang masih mengidap trauma kecinaan. Sebuah situasi psikososial yang hanya bisa dimaklumi oleh orang-orang yang mau membuka pikiran dan menanggalkan atribut-atribut bawaan dalam merajut persaudaraan.

Ia banyak melontarkan bahan-bahan renungan, paparan otokritik, terutama menyangkut latar belakang ras dan agama, dua hal yang selama puluhan tahun ditanamkan sebagai tabu di bumi Indonesia, yang sejatinya multietnis, agama dan multisegalanya. Tulisan-tulisannya sangat menggugah, terutama penghargaan terhadap keragaman yang selama ini justru dijadikan sebagai pijakan untuk berpaling.

Reaksinya tentang Singapura yang saya sebut sebagai negeri dengan pemerintahan paranoid cukup menarik. Ia bahkan bercerita, semasa kuliah di Nanyang Technological University, kerap ditegur (bahkan didenda) oleh pemerintah setempat karena ia terlalu keras menuliskan kerisauannya atas berbagai hal. Mungkin, ia merasa sedang di Indonesia, yang relatif bisa bercerita apa saja.

Di blog (dan bukunya), ia juga menulis betapa di Singapura, manusia tak pernah dihargai, bahkan hanya disamakan dengan robot. Sehingga, sifat bosan dan frustrasi yang dimiliki manusia normal bisa dengan cepat mengubahnya menjadi fatalis atau berperilaku destruktif lantaran terlalu ditekan dengan tuntutan produktifitas, ciri kaum ultra-homo economicus.

Kembali pada sebutan saya untuk Margie sebagai Duta Peranakan Cina Indonesia, sejujurnya, berpijak pada kekaguman dan apresiasi saya atas keberaniannya menyuarakan semua hal yang dialami dan dirasakannya. Kritiknya atas sikap diskriminatif, seperti ditunjukkannya pada cerita tentang priviledges yang dimiliki oleh seseorang yang dicitrakan sebagai ras kaya, sehingga tak perlu membayar di depan atas semua yang dipesannya di sebuah restoran.

Juga, tentang perilaku pamer kapling untuk kuburan orang-orang kaya hanya demi gengsi saat berbincang dengan teman dan relasi saat menghadiri pesta, diceritakannya dengan lugas, enteng, namun sarat dengan pesan moral. Belum lagi mengenai kisah persahabatannya dengan seorang muslim, yang terpaksa dipisah lantaran prasangka masih menghantui keluarga si muslim.

Sebagai perempuan peranakan Cina, yang kebetulan beragama Katholik, sosok Margie adalah contoh manusia Indonesia yang seharusnya dimiliki siapapun, yakni mereka-mereka yang mengaku ‘lebih pribumi’ dan merasa ‘lebih berhak’ akan tanah air Indonesia.

Andai lahir banyak Margie-Margie di Indonesia, alangkah damainya masa depan negeri ini, sehingga tak cuma julukan Macan Asia yang pantas disematkan pada kata Indonesia.

Kalaupun ada kekurangan dari Margie, menurut saya, hanyalah kenapa ia masih ‘menyembunyikan’ tulisan-tulisannya di Multiply. Andai ditempatkan di weblog yang bisa diakses bebas oleh banyak orang, saya yakin manfaatnya akan kian terasa. Terutama bagi mereka-mereka yang mungkin tak seberuntung saya bisa memiliki bukunya secara gratis (plus tanda tangan penulisnya), sehingga bisa turut membaca dan memperoleh ‘pencerahan’ dari celoteh-celotehnya.

Terima kasih, Margaretha Astaman. Tulisan-tulisanmu telah menyemangatiku untuk terus merajut kebersamaan dalam beragam perbedaan. Selamat merayakan Natal. Semoga tahun barumu menyenangkan, entah bersama atau tanpa si mantan. Hehehe……

16 thoughts on “Kabar Segar Duta Peranakan

  1. Wasyem, Mas Blontank ini temennya kok keren-keren sih? Mas Blontaknya juga keren kok :p

    ah, adikku idolaku ini, loh…. lama gak nongol, datang-datang ngleledekin. tak apa. biar keren, asal ndesa! ke mana saja, kau?
    /blt/

  2. Menarik, menarik, menarik.
    Identitas seringkali justru merepotkan ketika yang bersangkutan sebetulnya merasa tak ada masalah tapi lingkungan sekitar terus mempersoalkannya. Salam saya untuk mbakayune yang nulis buku kiye

    hehehe…bukannya Paman sudah kenal? sepertinya, Margie termasuk demen tulisan-tulisan Paman, lho…
    /blt/

  3. iyaa.. sepakat dengan pak Bhe,
    mbak margie merupakan sosok yang unik..
    teman saya ada yg bilang kalao dia perempuan kota yang lucu,
    orang kota yang tidak pede dengen ke-metropolis-annya.. hehe
    tapi gara-gara itu jadi banyak muncul cerita-cerita bagus disana..

    lucu, dan asyik…. ya, kan?
    /blt/

  4. Wah Mas Blontank, terimakasih atas reviewnya. Sebuah kado Natal yang indah sekali buat aku karena Mas Blontank sudah mau membaca dan menuliskan tentang blog-bukuku ini..Jangan-jangan karena review ini saya jadi congkak. Nanti julukannya berubah jadi ‘Cina Sombong’ lho, Mas!hehehe…

    Sangat tersanjung sekali bisa menjadi salah satu ‘duta’ Cina Indonesia, tapi aku rasa, Indonesia dan masyarakat kita lebih beruntung lagi karena punya orang-orang seperti Mas Blontank, yang peduli dan selalu aktif membantu terbukanya dialog antar-agama, antar-etinis. Semoga Indonesia benar-benar bisa jadi macan di Asia..Rrrrr! 🙂

    hahaha… kok dibalik-balik, sih? yang jelas, Indonesia butuh orang-orang yang punya sikap seperti Margie. dia bisa seorang Cina, India, Arab, Jawa, Papua, …. semuanya, tanpa sekat ras, agama, atau atribut apapun. kami tunggu kembalimu ke Solo, Margie…
    /blt/

  5. Wow….. greatttt….!!!
    Beruntung banget isa ketemu n barengan karo si Margy….
    Ayo sampean join Mulkipli juga yukkkkk….! (oleh titipan kon ngompori sampean saka mBah Marto, hihi)

    Nuwun sharingnya, Lha Review Bukune endiii…?!!! 🙂

    Lha review-ne cukup kesan yang kutulis ini saja dulu….
    /blt/

Leave a Reply