Koin untuk Mr. X

Melihat perang keberpihakan nurani tempo hari, jadi muncul andai-andai. Jika para penjarah duit Bank Century itu divonis harus mengembalikan uang yang telah mereka nikmati, apakah ada pendukung dan pengikut yang mau peduli, dan terang-terangan membantu. Apalagi bikin posko-posko penampungan koin dari publik….

Sebuah bank yang menjadi awal munculnya dongen Cicak vs Buaya

Sebuah bank yang menjadi awal munculnya dongeng Cicak vs Buaya

Sejauh yang saya ingat, Tuhan pun sudah mereka libatkan demi meyakinkan publik. Mereka, entah bernama Mr. X, Mrs. Y atau tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang lain, seperti kehabisan kata-kata. Kepandaian, kecerdasan dan kuasa yang mereka punya, nyatanya tak berarti apa-apa.

Prasangka kolektif, bahwa mereka adalah orang-orang murka sudah sedemikan terpatri. Nyaris tak mempan dihapus dengan untaian kata-kata indah, berikut argumentasi tentang alur dan tawaran data angka. Alhasil, tinggal Tuhan yang bisa diharapkan, lantas dilibatkan untuk memberi stempel ‘kejujuran’ yang sedang mereka tawarkan.

Pikir mereka, Tuhan tak akan membantah sehingga tak perlu ada kekuatiran bakal mempermalukan mereka, yang sudah bertindak seolah-olah jujur dan memberi penjelasan terbuka.

Yang ada di benak saya kini, andai mereka benar-benar tulus ingin memperbaiki negeri ini, mestinya tak ada tawar-menawar cara dan bentuk pengungkapan demi penyelesaian silang-sengkarut. Entah itu yang berbentuk panitia khusus atau yang lebih khusus. Nalar sederhananya, hanya maling yang takut ketahuan dan terbukti kejahatannya.

Orang jujur, yang sudah bertindak sebagaimana mestinya, pasti tak punya keraguan, apalagi ketakutan. Begitu juga, bila seseorang itu benar-benar percaya Tuhan itu ada dan benar-benar disembahnya, pasti tak bakal berbuat yang berbuah onar. Tak kan pernah ada keraguan, apalagi ketakutan, sepanjang apa yang dikerjakannya sudah benar.

Sejujurnya, saya masih menganggap beberapa orang penting itu punya kesalahan. Karena itu, saya bermimpi mereka divonis bersalah oleh pengadilan, lantas atas nama hukum dan keadilan, diperintah mengembalikan uang yang telah dijarah.

Lantas, atas vonis itu mereka bersandiwara, merasa diri sebagai warga negara yang teraniaya, memancing belas kasihan publik, terutama para pendukungnya: bisa kolega atau kerabat dekat, bisa juga rakyat kebanyakan yang nge-fans kepada mereka.

Mungkinkah para kolega, kerabat dan fans itu membuat gerakan terbuka demi melepaskan junjungan mereka dari jerat perkara aniaya?

Senang saya melihatnya andai sampai ada yang berani nyumbang koin. Dimobilisasi pun saya akan tutup mata, mengabaikannya. Sebab saya percaya, kalau sudah sampai pada persoalan harga diri dan nurani, seorang pembohong pun akan memilih diam-diam menyumbang lewat pintu belakang, yang kemungkinan akan banyak yang berupa traveller cheque atau lembaran-lembaran bilyet giro.

Belum tentu, para penyumbang itu berani diwawancarai, apalagi sampai wajahnya masuk televisi. Kalau soal tenaga penghitung koin, saya yakin akan banyak yang melakukannya dengan girang, sebab mereka asti diambilkan dari orang-orang pelosok negeri, yang tak ngerti ihwal perkara, bahkan yang ditayangkan televisi.

Simak saja perkembangan kasus bail out Bank Century saat ini. Berbeloknya kian jauh, bahkan bergeser menjadi sekadar ‘permusuhan’ dua sosok menteri. Hiii…Jijay sekalii….

Kisah Koin untuk Prita memberi pelajaran kepada kita, bahwa nurani tak pernah bisa dibeli. Kejujuran selalu terwujud dengan spontan, tak perlu dibuatkan strategi public relations dan segala macam, apalagi dirancang-rancang.

3 thoughts on “Koin untuk Mr. X

  1. sepertinya masyarakat sudah mampu melihat dengan mata hati mana yang pantas dikasihani dan mana yang bukan, meskipun mereka sama – sama bermasalah dimuka hukum. yang perlu dicanangkan adalah MENYEHATKAN HATI, sebelum menyehatkan HUKUM, karena HUKUM kita sudah MATI MATA HATINYA.

Leave a Reply