Melacak Jejak Bengawan

Ulang Tahun Pertama Komunitas Blogger Bengawan

Ulang Tahun Pertama Komunitas Blogger Bengawan

Bengawan, seperti organisasi komunitas-komunitas online di berbagai daerah, merupakan ruang srawung, tempat di mana tegur-sapa dimungkinkan. Tak sekadar ajang kumpul hura-hura, namun telah mewujud menjadi ruang berbagi: informasi, pengetahuan, juga tetek-bengek persoalan. Medianya sederhana: theng-theng crit atau thenguk-thenguk lan crita. Bercengkerama dan saling bercerita. Kadang tentang game terbaru, perkembangan program-program komputer, meski tak jarang pula membahas the hottest 3gp movies yang sedang muncul di ranah maya.

Aku yang tak paham seluk-beluk online, misalnya, jadi tahu apa itu nge-Plurk, Facebook-an, lalu nWitter. Juga, jadi punya tambahan banyak teman gara-gara blogging, sehingga ketika nyasar di Bandung, misalnya, bisa kopdar dadakan dengan Kang Mahendra Itempoeti, yang sebelumnya hanya kukenal secara imajiner. Ke Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Jakarta dan kota-kota lain, jadi aman. Setidaknya, kalau tak bersua teman lama, bisa bertemu sahabat-sahabat baru.

Dari banyak komunitas, aku bisa belajar. Begitu pula dengan teman-teman di Bengawan, bisa turut belajar dari berbagai hal yang telah dilakukan teman-teman komunitas blogger di berbagai kota. Gerakan wedhus yang digagas Kang Saiful, misalnya, membuat kami iri, lalu ingin meniru cara teman-teman BHI berbagi, menginisiasi sebuah gerakan yang sekilas tampak sederhana, tapi mulia dan berguna.

Prinsipnya, belajar itu penting. Maka, kepada semua teman yang kami kenal, kami ingin belajar. Meniru yang baik (seperti ditunjukkan keluarga besar BHI), dan menentang yang tidak baik, seperti pemidanaan Prita Mulyasari, sehingga kami mencoba mengangkat isu bahayanya UU ITE melalui sebuah seminar. Kami ingin memberi kontribusi kepada perbaikan kualitas kehidupan dalam rangka tugas-tugas kemanusiaan.

Bahwa kami masih manusia, yang kadang nampak suka hura-hura, namun kami berusaha bersikap secara dewasa. Kami memang tak suka aneka bentuk pesta, meski kami juga menghargai pilihan teman-teman penyuka pesta. Namun, kami pernah dan masih berharap, walau ada banyak teman yang masih suka meneruskan tradisi pesta, ada baiknya untuk memaknai pesta untuk bukan menjadi sekadar ajang hura-hura semata.

Seperti pada peristiwa hajatan khitanan, misalnya, sebuah pesta memiliki pijakan yang jelas. Khitanan merupakan simbol ‘gerbang menuju kedewasaan’, sehingga ada baiknya diumumkan. Bahwa kemudian tamu yang diundang berkenan datang dan membawa kado atau oleh-oleh, itu semua dilatari oleh semangat untuk mengenang yang dilatari oleh sebuah nilai kebersamaan. Dengan demikian, kemeriahan pesta tak semata-mata hura-hura, namun ada selipan misi dan menjadikan peristiwa lebih bermakna.

Pada peringatan setahun Bengawan, kami sedang berusaha membangun sebuah kebersamaan. Kami ingin menutup tahun ini dengan mendorong berdirinya sebuah perpustakaan kecil-kecilan. Walau sederhana, semoga buku-buku yang sudah dikumpulkan teman-teman bisa berguna bagi saudara-saudara kami, yang dalam kesehariannya masih dihadapkan pada dua pilihan sulit: mencerdaskan anak-anak (sebagai sandaran masa depan), atau mengurus perut semata, sebab untuk bertahan hidup saja, mesti membanting tulang siang dan malam mengais rupiah.

Kami senang, walau belum bisa berbuat baik untuk banyak orang, pertemuan individu-individu yang lantas berbuah munculnya nama Bengawan, setahun silam, sudah mulai menemukan arah. Semoga, menapaki tahun kedua usia kami, Komunitas Bengawan sanggup meniru Bengawan Solo, yang hadir dan mengular hingga jauh. Air terus mengalir dengan dinamika seturut perubahan situasi alam, keberadaan kami pun diharapkan terus berguna. Sepanjang masa, sepanjang aliran Bengawan Solo.

Kalau dulu banyak kaum pedagang naik itu perahu, hingga kapan pun, kami terus ingin menjadi perahu: bagi siapa saja, hendak kemana saja… Selamat ulang tahun Bengawan, semoga kita terus (iku) mengalir. Sampai jauh….

16 thoughts on “Melacak Jejak Bengawan

  1. yos

    Kalau dulu banyak kaum pedagang naik itu perahu, hingga kapan pun, kami terus ingin menjadi perahu: bagi siapa saja, hendak kemana saja…

    melu numpak pak 😀

Leave a Reply