Kopi Lelet

Tempat untuk meletakkan rokok yang sudah diolesi kopi lelet

Tempat untuk meletakkan rokok yang sudah diolesi kopi lelet

Sebagai penyuka kopi, memang belum banyak yang pernah kucicipi. Tapi kopi lelet khas Rembang yang kunikmati beberapa hari lalu, sungguh beda. Di beberapa tempat, kopi lelet disajikan dengan cara pangkon, si pembeli dipangku penjaja cinta. Huff…ada-ada saja, ya……….

Kopi pangkon seperti menjadi keniscayaan, sebagai varian baru tamba ngantuk, agar para sopir pelintas jalur pantai utara Jawa tak tertidur waktu berkendara. Juga, sebagai pengganti obat masuk angin cair, atau bahkan minuman beralkohol yang biasa ditenggak, sebagai teman perjalanan.

Pahitnya kopi lelet memang masih kalah dibanding espresso, tapi efek ngantem­-nya lebih berasa. Bagi yang tak biasa ngopi, pastilah senut-senut kepala dibuatnya, hanya sesaat usai menyeruputnya. Begitu pula bagi para ahli hisap alias perokok, yang suka mengoleskan ampas kopi di luar pembungkus tembakau.

Ya, orang Rembang menyebutnya sebagai kopi lelet, meski saya lebih sreg menyebutnya sebagai kopi lèlèt. Sebab ampas halusnya biasa dijadikan sebagai obat oles agar rokok kian berat dan mantap dihisap. Saking gemarnya orang mengoles rokok dengan ampas kopi, membuat semua pemilik warung kopi menyediakan tempat khusus untuk meletakkan rokok olesan hingga kering.

Konon, kopi lelet yang menjadi ikon Rembang sudah tersebar di sepanjang pantura timur hingga Gresik lalu masuk ke Sidoarjo dan Surabaya. Orang-orang Surabaya yang dikenal sebagai pecandu kopi, pun jadi kian mengenali kopi lelet atas jasa para sopir bus dan truk, yang rajin singgah di Rembang lalu membawanya sebagai oleh-oleh.

Seperti hendak mengangkat kopi lelet sebagai ikon daerah, Kiai Mustofa Bisri alias Gus Mus, bahkan menggubahnya menjadi syair lagu yang kini seolah menjadi lagu wajib para pengamen di sana. Gus Mus juga melukis dengan lelet campur nikotin tembakau, sehingga karya-karyanya pernah singgah di galeri dan kolektor.

Seni membatik rokok dengan adonan kopi lelet dan krimer cair

Seni membatik rokok dengan adonan kopi lelet dan krimer cair

Kalau tak keliru, goyang Inul Daratista pun pernah diangkat ke atas kanvas dengan sapuan lelet-nikotin. Bersama karya-karya lainnya, goyang Inul itu bahkan disuguhkan ke hadapan sejumlah kiai, seolah-olah seperti sentilan yang menawarkan wacana ‘baru’, ketika sebagian tokoh agama ikut-ikutan mengharamkan penampilan Inul di depan publik. Kita kahu, kiai yang sudah berhenti merokok itu memang eksentrik.

Menurut penuturan beberapa teman, ada pula sebuah warung yang rajin menggelar lomba membatik pada rokok dengan bahan lelet. Acara digelar tahunan, biasanya setiap hari raya Idul Fitri, dengan hadiah beragam, di antaranya lemari es untuk pemenang pertama.

Seperangkat alat nglelet

Seperangkat alat nglelet

Uniknya lagi, kopi lelet seolah-olah produk asli Rembang, seperti halnya kopi Toraja yang merujuk asalnya. Kota di ujung timur Jawa Tengah itu, meski dikitari pegunungan, sejatinya tak memiliki kebun kopi. Entah darimana kopi-kopi itu didatangkan. Brand lelet sebagai kopi Rembang hanya terletak pada kehalusan bubuknya.

Menurut cerita yang berkembang, biji-biji kopi yang didatangkan dari luar daerah itu digiling hingga delapan kali untuk mencapai tingkat kehalusan tertentu. Di pasar-pasar tradisional, konon banyak penjual jasa penggilingan kopi jenis ini.

Dan sepanjang yang kuketahui, kehalusan kopi lelet sebanding dengan kopi cap Dua Rencong, kopi pabrikan asal Aceh yang pernah kukenali 25 tahun silam. (Kalau masih ada yang tahu dimana mendapatkan kopi Dua Rencong, kabari aku, ya?)

Dimana mendapatkan kopi-kopi itu? Jangan kuatir, warung-warung penjaja kopi terhampar di seluruh penjuru Rembang. Kalau mendapati krimer cair di meja, jangan keliru sangka. Itu bukan semata-mata untuk menghasilkan rasa berbeda, namun sejatinya berguna untuk membuat adonan lelet agar kuat melekat pada rokok. Sehingga, bila Anda membatik dengan adonan kopi lelet-krimer, hasil batikannya pun akan terlihat lebih halus dibanding yang lawaran alias residu semata.

Jangan salah, yang ini bukan mbak-mbak penjaja kopi pangkon

Jangan salah, yang ini bukan mbak-mbak penjaja kopi pangkon

Perlu saya ingatkan, hati-hati saja dengan warung-warung kopi di sepanjang jalur panturanya. Salah-salah, Anda akan marah-marah kalau tiba-tiba ditubruk penjajanya, padahal belum terucap jenis minuman apa yang akan dipesan. Beberapa warung memang sudah menuliskan kode unik, seperti tulisan bisa memijat; terima pijat dan sebagainya.

Nah, kalau ketemu yang begini, sebaiknya dicamkan baik-baik grafiti yang sering kita jumpati di bak-bak truk: ingat, anak-istri menunggu di rumah….

29 thoughts on “Kopi Lelet

  1. bayu

    telah buka warung kopi lelet untuk daerah pemalang..
    untuk kopi, langsung saya datangkan dari rembang
    cara penyajianya pun ala kopi lelet khas rembang….
    so…bagi temen2 asli pemalang gag usah jauh2 kalo pengen coba rasa kopi lelet khas rembang
    lokasi ada di dpan sman 1 pemalang…
    warung kopi lelet “iedoz” khas rembang…
    numpang promo om…hehehehe…
    jaya perkopian indonesia..

    wuih, mantap nih… selamat, kang. semoga bisnisnya lancar…
    /blt/

  2. Djiwo Ngakak

    Ini salah satu minuman kita yang sanggup disejajarkan dengan kopi dunia.
    Dari brown coffe,coffelatte ato Robusta arabica mereka berciri sendiri tapi si lelet kita ini juga punya cara untuk mengelus imajinasi si penikmatnya.
    Sepakad buat Kopi Lelet.
    Kalo ada acara Lelet kabari saya di email.
    Salam Lelet Indonesia.

  3. taufiq

    sebuah cita rasa yang khas didapat dari kopi lelet rembang. tidak sembarang orang bisa menguasai seni menikmati kopi lelet ala Rembang. perlu pendalaman yang memerlukan waktu, ketelitian, kesabaran dan keahlian untuk jadi penikmat kopi lelet. kehalusan rasa dengan efek yang luar biasa NJEDHAK…. menjadi khas kopi ini. seni ini menghasilkan kepuasan yang berasal dari rasa dan karya batik dibatang -batang rokok. belum biasa ?… jantung pasti akan berdetak kencang setelah minum kopi terlebih jika dimasak dengan cara diKOTHOK yaitu ramuan serbuk kopi dan air direbus bersamaan sampai mendidih dengan waktu tertentu. inilah kekhasan kopi lelet Rembang. kalau urusan PANGKON hanyalah ulah oknum korps penjual kopi lelet saja. bravo pak Herman Sawahan, sampae sekarang 1 gelas tetep seribu rupiah….

  4. clemeng

    yo embuh lek , aku asli rembang yen tiap tahun muleh ya ora pernah nyoba kopi lelet, mok ngingeti wong-wong pada kokngkro-kongro ae….. maklum sing dodol kpoi lelet ana ning depan rumah………

  5. kepik

    tu namanya “chete” budaya khas tulungagung jatim

    hampir semua perokok tulungagung tak akan puas jika tidak nyete
    kopi + toko+ chete satu paduan yang mantav

  6. wah, klo di sini namanya “cethe” ato “nyethe”..
    anak2 muda di Tulungagung and Kediri ud tahu smua..
    malah klo gak bisa nyethe dianggap bukan orang Tulungagung ato Kediri,
    saya saja meski gak ngrokok tp suka jd “tukang cethe” nya temen2 pas ngopi, tp kadang jg nyoba sih..
    emang rasanya lebih “berat”, padat, and manteb 🙂

Leave a Reply