Dua Pelajaran dari Tuhan

Hari-hari ini, Tuhan mengirimkan bahan renungan menarik. Yang pertama, seorang perempuan, entah dari mana, bertanya lewat email tentang kegelisahan yang dipendamnya selama 27 tahun. Ia pernah dibentak, disebut haram ketika mengulurkan tangan ingin menyampaikan selamat Idul Fitri.

Berikut sebagian penyataannya:

Sekitar 27 tahun yang lalu ketika hari raya Idul Fitri, saya bersilahturahmi pada rekan saya. Pada saat itu ada seorang tamu pria, sudah cukup berumur, sayapun memberi salam, selamat hari raya pada beliau, namun yang terjadi tangan saya di’kepret’ dan kata yang keluar adalah haram!

Saya seorang wanita dari turunan bermata sipit beragama kristiani, kaget, dan tidak bisa bicara apapun juga. Setelah beliau keluar dari rumah itu saya bertanya pada yang punya rumah, mengapa begitu? Jawabannya adalah Beliau itu seorang ustad.

Saya telah bertanya kemana-mana tentang hal ini, dan jawabannya sama tidak semua ustad begitu. Secara rasional saya dapat mengerti, tapi saya tidak dapat menghilangkan ekspresi dari beliau ketika berkata haram!

Yang kedua, status Facebook seorang teman. Dia pendeta senior, yang kebetulan kebanyakan jemaatnya keturunan Cina. Saya jadi teringat betul, bagaimana pendeta itu bersusah payah memperbaiki luka yang telah mengoyak hati jemaat-jemaatnya, ketika tragedi Mei 1998 terjadi.

Banyak yang dia lakukan setelah kerusuhan, sehingga muncul kesadaran bersama antarwarga, perlunya menjaga harmoni dalam bermasyarakat. Banyak orang yang dulunya berburu permanent resident di berbagai negara seperti Singapura, Australia hingga Amerika, telah sudi dan percaya diri kembali ke tanah kelahirannya. Intinya, hubungan Cina-Jawa kian bagus, saling percaya dan menghomati satu-sama lain.

Begini bunyi statusnya:

hati-hati jangan biarkan kasus anggodo dibelokkan menjadi kasus rasialis. dlm kekisruhan selalu ada tangan setan yg berusaha mengail di air keruh

Terhadap orang pertama, saya mencoba mengajukan cerita sederhana. Bahwa bersentuhan fisik dengan lawan jenis yang bukan muhrim itu ‘dilarang’. Pesan tersembunyinya, agar manusia terbebas dari jebakan goda syahwat, yang dilarang agama, karena bisa menjerumuskan pada perbuatan hina.

Namun, ada pula yang menolaknya lantaran tidak ingin membatalkan status sucinya, sebab seseorang itu selalu nggantung wudlu atau menjaga diri tetap dalam keadaan suci dari hadas dan najis. Dengan nggantung wudlu, maka itu dimaksudkan agar bisa selalu menjaga lidahnya dari kata-kata kotor atau dengki, mencegah sikap dan tindakannya dari perbuatan yang dilarang Tuhan.

Karenanya, menolak bersalaman dengan cara kasar dan diikuti kata-kata ketus seperti diceritakan orang pertama itu, sungguh sudah melenceng dari ajaran. Allah menyuruh umatnya untuk menjaga silaturahmi dan memperbanyak saudara, bukan menciptakan rasa sakit apalagi menyebarkan kebencian. Sesimpel itu saya memahami agama.

Alhamdulillah, perempuan pengirim email itu bisa menerima dan membalas pesan saya dengan kalimat singkat:

Terimakasih, Pak. Sudah mengeluarkan duri dalam daging selama puluhan tahun.

Cukup menyenangkan bisa memberi penjelasan sederhana dan menumbuhkan saling pengertian walau beda iman. (Semoga tulisan ini tidak membawa saya pada riya’ yang dibenci Allah. Amin).

Sedang terkait status Facebook Pak Pendeta, saya hanya ingin menyampaikan di sini, bahwa memang mulai muncul ucapan-ucapan spontan di masyarakat, yang berpotensi merusak kebersamaan. Peristiwa politik yang nuansa rasialisnya sangat kuat pada Mei 1998, diakui atau tidak telah menciptakan kesadaran baru mengenai pentingnya kebersamaan.

Dialog antaiman kian marak, kegiatan-kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat dengan latar belakang berbeda-beda pun kian banyak. Ketulusan lebih menonjol dibanding periode sebelumnya yang serba seremonial dan artifisial. Tentu, kita tak ingin Indonesia hancur kembali seperti 11 tahun silam, ketika stereotiping disematkan pada kelompok etnis tertentu, sehingga kesenjangan ekonomi, kultur, politik dimanipulasi elit untuk keperluan pragmatis jangka pendek.

Mari kita jaga keragaman di Indonesia, sebagaimana Rasulullah memberi teladan, pengakuan eksistensi kepada minoritas Kristen dan Yahudi seperti dituangkan dalam Piagam Madinah. Muhammad SAW sudah memberi contoh, tak oleh ada tirani di dunia, oleh mayoritas (juga minoritas).

Mari, kita jaga bersama, agar tak ada lagi manipulasi dan rekayasa yang mengarah pada kehancuran bangsa. Anggodo, memang keturunan Cina. Tapi ada orang Jawa dan Sumatera yang terlibat dalam kejahatan mereka. Artinya, terdapat ‘kolaborasi antaretnis’ dalam kasus itu. Nyatalah di sana, yang menjadi penentu hanyalah nafsu berkuasa, ingin menang, dan ingin kaya dengan tiba-tiba, tak ada kaitan dengan asaul-usul etnis, apalagi agama.

15 thoughts on “Dua Pelajaran dari Tuhan

  1. saya sendiri sebagai orang yang beragama islam, berharap orang-orang “suci” itu kembali “membaca” kitab yang diturunkan 1400 tahun yang lalu, saling mengoreksi diri, lebih tawadhu, dan ingat teladan.

  2. denmas jemblung

    Bravo!! Tulisanmu sangat2 menyejukkan membawa Indonesia ke arah kedamaian dalam keragaman latar belakang.
    Jika aku jadi Presiden nanti, maukah dirimu kuangkat jadi menter Persatuan Bangsa Menuju Adil dan Makmur?

    (Lamaran ini sudah melalui “Fit n Proper test” tulisan2 a
    Dan posting2 anda)…

    *Sebarkan Kasih pada seluruh Bangsa*

    silakan membantu menyebarkannya, lewat caramu. tapi yang pasti, aku ogah jadi menteri sebab aku ora duwe ijazah s-siji
    /blt/

  3. Tumiriyanto

    Tulisanmu memang selalu membawa pembaca ke ranah pemahaman nilai-nilai universal, teruskan pak…..sebar-luaskan ke milis tetangga lainnya, terutama mereka yang masih “mencurigai” nilai-nilai universal. Salam

    matur nuwun, Mas. mari kita tebar benih-benih persaudaraan universal..
    /blt/

  4. marilah kita sisihkan ego kita masing2 biar persatuan ini tidak bakal hancur

    ayo, Rud. kita kerjakan ramai-ramai, kita mulai dari lingkungan terkecil kita dulu…
    /blt/

  5. mungkin sudah saatnya kita menyingkirkan pikiran bahwa kitalah pihak yang paling benar.

    ya, merasa paling benar, itulah pangkal persoalan. dengan memelihara ‘semangat’ itu, berarti kita menutup nilai-nilai kebenaran dari yang kita sebut sebagai ‘pihak lain’, juga kebenaran universal, dan kebenaran-kebenaran lain…
    /blt/

  6. Saya merasakan, bahwa sejumlah kelompok sosial tak nyaman dengan pembelokan kasus Anggodo ke arah sentimen dan prasangka rasial. Pekan lalu, di sebuah SMA di Jakarta, pertanyaan guru IPS tentang “apa kasus yang aktual”, bisa dijawab cepat oleh murid dengan ekspresi yang menunjukkan ketidaknyamanan, “Anggodo, Pak…” Separuh lebih murid di situ adalah keturunan Cina. Tiga orang murid keturunan Cina secara terbuka menyatakan kepada seorang temannya yang keturunan Jawa, misalnya begini (diucapkan oleh salah seorang), “Lu sih enak soalnya pribumi. Kalo ada gini-gini nggak keganggu.”

    Siapa pribumi? Siapa nonpribumi? Dari manakah asal nenek moyang sebagian suku di Indonesia? Mengapa nonpribumi berarti keturunan Cina — bukan keturunan Arab, India, Eropa dan lainnya?

    Saya menolak istilah pri dan nonpri. Begitu juga istilah tak jelas “warga keturunan” tanpa keterangan selanjutnya. Indonesia milik semua orang yang merasa sebagai orang Indonesia, dengan segala keragaman manusianya.

    betul, Man… saya setuju, kita mesti menghapus kata pri-nonpri. kata ‘indo’ kayaknya perlu kita mulai lekatkan pada keturunan Arab, India, Eropa, Cina, dan apa saja….. yang pasti, saya Klaten murni, tak ada indo-nya. hehehe…
    /blt/

  7. ael

    “luka dapat dihapus oleh kata maaf, sedangkan bekasnya (ada) yang tidak akan pernah hilang” (kata seorang teman)

    kalo meminta maaf saja sulit, apalagi memaafkan

    mari kita membuat ‘dunia yang sudah tua’ ini menjadi lebih baik dengan tidak membuat luka 🙂 sekecil apapun

    *salah maem iki mau, pak bhe*

    tenang saja, Ael. kayaknya, aku juga salah makan obat, kok… makanya agak ngacau.
    /blt/

Leave a Reply