Kita Butuh Cicak

blog-cicakVSbuaya-kecilSebuah status saya baca, 40 menit setelah diposting si empunya account dengan nickname Simbah Kakung. Kiai Mustofa Bisri, pemilik nama alias di Facebook itu memposting pada Jumat (6/11) sekitar pukul 18.00.

Mendengar isi rekaman yang menunjukkan betapa seorang cukong begitu leluasa ‘bermain’ di lembaga penegakan hukum, kalangan kepolisian dan DPR kok tampak tidak tersinggung. Apakah ini 1) karena mereka lebih pintar menahan diri; 2) hal tersebut dianggap tdk terlalu penting dibanding soal buaya-cicak; atau 3) karena me…reka menganggap adanya cukong main dan ngatur2 di lembaga penegakan hukum merupakan hal biasa?

Saya melakukan copy-paste apa adanya, lalu mencoba membuat tanda untuk mempermudah pembacaan dan memahami maksud yang renungan Gus Mus itu. Sebab apa yang dialami Gus Mus sama juga dengan saya, kita dan jutaan pasang mata yang mencermati tayangan televisi tentang pemutaran materi rekaman Anggodo yang menyebut beberapa nama orang penting di republik ini, melalui siaran langsung televisi swasta.

Bahwa kemudian ada perdebatan dengan argumentasi hukum yang mendukung kepentingan masing-masing, itu sudah biasa. Seseorang yang sudah jelas-jelas tertangkap basah sedang berusaha menguasai barang bukan miliknya, sekalipun, masih bisa berdalih untuk menyelamatkan muka, menjaga harga diri.

Salah seorang guru saya, seorang pendeta senior di Solo menuliskan statusnya di Facebook, Sabtu (7/11) sekitar pukul 1.

susno bilang dia tahu disadap, lalu melakukan kontra-intelijen dg cara berpura-pura melakukan transaksi atau apalah utk mengecoh pimpinan kpk.tiba2 sy jd ingat kejadian disebuah jmt, ada penatua yg mencuri uang persembahan,ktk tertangkap,ia mengatakan bhw ia mau menguji ketelitian majelis

Bisa saja, pendukung posisi polisi dalam sengkarut KPK-Polri akan menyanggah pernyataan kedua rohaniwan yang saya sebut di atas. Bisa saja mereka mengatakan ‘tahu apa mereka?!? Urus saja santri dan jemaatnya, tak usah ikut-ikut masalah korupsi segala!

Andai ada pernyataan demikian, sejatinya, saya bisa memaklumi. Kepentingan selalu membuat seseorang gelap mata, sehingga untuk menyikapi perbedaan saja harus dilakukan secara kasat mata, verbal dan cenderung pamer kuasa. Setidaknya, begitulah yang bisa disaksikan tak jauh dari ruang sidang Mahkamah Konstitusi, massa pendukung upaya penuntasan kasus-kasus korupsi ‘ditandingi’ dengan massa yang mendukung dan menonjolkan keberhasilan polisi.

Mereka lupa, memberantas terorisme juga bagian dari mandat undang-undang bagi polisi untuk menciptakan ketertiban dan ketentraman masyarakat. Kalau dikritik (bahkan dihujat) karena gagal, itu wajar sebab rakyat membayar pajak untuk menggaji dan memfasilitasi polisi. Kalau tak mau menjalankan mandat konstitusi, berhentilah jadi polisi.

Kita tahu, penentuan salah-benar sebuah kasus di pengadilan, masih ditentukan oleh kemampuan adu argumen dan dasar hukum. Terlalu sering kita mendengar, jaksa memilih pasal yang sengaja dibuat keliru atau polisi menentukan sangkaan pelanggaran pasal tertentu yang mudah dipatahkan pembela terdakwa, sehingga proses peradilan menjadi tak lebih sebagai sandiwara belaka.

Hingga di sini, yang kita hadapi adalah penyalahgunaan kecakapan (hukum) dan pengabaian nurani. Rasa keadilan ditanggalkan demi sebuah kemenangan dalam sebuah pertarungan.

Apalagi, pelajaran demokrasi yang kita dapat selama ini memang baru sebatas kulit, tidak pernah sampai pada substansi. Kebenaran, misalnya, masih bisa ditentukan lewat mekanisme voting, seperti terbukti pada kasus impeachment terhadap Presiden Abdurrahman Wahid. Kian banyak pendukung, semakin tinggi derajat kebenaran, betapapun yang dilakukan merupakan kejahatan.

Pernyataan dua rohaniwan di atas, rasanya hanyalah pengingat bagi kita semua. Tak ada tendensi provokasi, namun lebih dari representasi kegelisahan umat, yang bila dibiarkan justru bisa membawa negara ini ke dalam keterpurukan yang lebih dalam. Bukan tak mungkin, kekacauan bisa melebihi huru-hara Mei 1998.

Kini, kunci meredam situasi ada di tangan Presiden, sebagai penguasa tertinggi pemerintahan. Presiden harus melakukan langkah-langkah tepat, taktis, efektif dan menjawab tuntutan publik akan rasa keadilan yang terkoyak. Mungkin tak tak terlalu banyak, cukup beberapa kasus yang dianggap telanjur menyedot perhatian mayoritas bangsa ini.

Di antaranya: 1) transparansi proses penuntasan sengketa ‘cicak dan buaya’, 2) keterbukaan pengungkapan kasus bail out Bank Century, hingga 3) langkah hukum menyikapi indikasi adanya mafia peradilan seperti ditunjukkan melalui hasil penyadapan atas percakapan Anggodo yang juga menyangkutkan nama RI-1.

Biarkan orang-orang seperti Kiai Mustofa Bisri serta rohaniwan-rohaniwan dari berbagai agama dan keyakinan merawat umatnya masing-masing, dengan caranya sendiri-sendiri. Ketentraman dan keutuhan negeri ini jauh lebih penting dibanding membiarkan maling, tikus pengerat harta negara, dan pencoleng-pencoleng hukum teus berkeliaran di tengah masyarakat.

Saya harap, Pak SBY menempatkan rakyat Indonesia seperti cucunya yang dijaga dari serangan nyamuk-nyamuk penghisap darah dan penyebar penyakit. Pada sisinya sebagai seorang kakek, bukan tak pernah Pak SBY mengajari sang cucu mendendangkan ‘lagu wajib’ bagi balita itu…

Cicak-cicak di dinding/pelan-pelan merayap//datang seekor nyamuk/haap!…lalu ditangkap//

Pak SBY, kita butuh cicak…..

Update (9 Nov 2009 11:06): 

Mestinya kita harus menuntut DPR yg selama ini terus mencatut nama kita (Rakyat) utk kepentingan pribadi2 para anggotanya. Tapi repotnya, pribadi2 itu kita sendiri yg milih; entah berkat kelihaian mrk atau karena kedodohan dan ketamakan kita. (status FB KH Mustofa Bisri, 9 Nov 2009 sekitar pukul 10.10 wib)

11 thoughts on “Kita Butuh Cicak

  1. Dendri

    Kebenaran punya berbagai macam bentuk, tergantung kacamata yang kita pakai, ada kacamata politik, kacamata hukum, kacamata agama, dan kacamata-kacamata yang lain. Tapi kacamata yang paling jernih sudah kita tinggalkan, yaitu hati nurani. Salam kenal 😉

  2. semoga kasus besar ini menjadi awal perjuangan beliau dalam 100 hari masa jabatannya
    dan dengan itu mungkin rakyat akan tahu bahwa mereka tidak salah pilih presiden

Leave a Reply