Jalan Apa, Jalan Siapa

Setengah bahu jalan dibatasi dengan pagar bambu. Seorang lelaki berusia 50-an tahun sibuk menambal aspal yang berlubang parah dengan adonan pasir-semen. Saya tak bisa membayangkan, berapa lama semen itu akan mampu menahan beban atas truk-truk yang kerap melintasi jalan itu.

Seorang warga sedang menambal jalan aspal berlobang dengan adonan semen

Seorang warga sedang menambal jalan aspal berlobang dengan adonan semen

Sekilas, kita akan menganggapnya sebagai jalan kampung biasa. Padahal, itu merupakan jalur penghubung wilayah Kota Surakarta dengan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Hampir dua tahun saya melintasi jalan di Baturan, Colomadu itu, dengan kondisi aspal yang rusak parah.

Aneh, jalan itu lama dalam kondisi dibiarkan. Letak wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan, mestinya bukan menjadi alasan pembenar untuk mengabaikan perawatan. Apalagi kalau sampai muncul dalih, sebab di sekitar wilayah itu terdapat beberepa kompleks perumahan kelas menengah.

Orang miskin hingga miliarder punya hak yang sama dalam hal pelayanan publik. Orang kaya membayar beraneka ragam pajak barang mewah, sementara rakyat kebanyakan, setidaknya telah membayar pajak bumi dan bangunan (PBB) serta pajak pertambahan nilai (PPN) atas semua barang yang dikonsumsinya, seperti sabun, pasta gigi, pakaian dan sebagainya.

Khusus wilayah Kabupaten Karanganyar, saya mencatat ironi yang mendalam. Di wilayah atas (dataran tinggi) seperti Kecamatan Tawangmangu, Jenawi, Kerjo dan daerah-daerah lain, kondisi jalan mulus rata, bahkan sebagian berbahan aspal hotmix. Sementara, di wilayah Kecamatan Colomadu, selain di Baturan, jalan utama perumahan Fajar Indah pun kondisinya nyaris serupa.

Memperbaiki secara swadaya, mengambil alih kewajiban negara

Memperbaiki secara swadaya, mengambil alih kewajiban negara

Beruntung, jalan raya Fajar Indah baru saja selesai dilakukan penambalan atas buruknya jalan sepanjang 200 meteran, setelah setahun lebih penuh lubang sedalam hingga 20 centimeter. Sebuah kondisi yang cukup potensial membuat ban sepeda atau sepeda motor jadi bocor bila kurang hati-hati mengendarai.

Yang kian menjengkelkan bagi jurnalis seperti saya, Karanganyar termasuk kabupaten yang cukup dimanja pemerintah pusat. Bupatinya, Rina Iriani, tergolong perempuan gesit. Lobinya lumayan hebat, setidaknya bisa dilihat dari seringnya kunjungan pejabat pusat, bahkan hingga level presiden, ke wilayahnya.

Mungkin terlalu jauh kalau saya menghubungkan kedatangan pejabat republik dengan kondisi jalan yang seolah-olah ‘kampung’ itu. Di sini, saya hanya ingin mengatakan, sebaiknya tak ada diskriminasi terhadap rakyatnya sendiri. Di sekitar Colomadu, terlalu banyak saya menjumpai kejanggalan yang mengenaskan. Selepas dari wilayah Kota Surakarta yang jalannya lebih mulus, kita akan memasuki aspal buruk di Karanganyar.

Seingat saya, warga pernah protes atas parahnya kondisi jalan itu dengan menanam pohon pisang di tengah jalan, setahun silam. Hanya bertahan sehari semalam, tanaman itu lenyap. Anehnya, tak ada respon berupa perbaikan.

4 thoughts on “Jalan Apa, Jalan Siapa

  1. atinarg

    gimana kalo om blonty usul … rumah dinas bupati, dprd ato pejabat publik lainnya dialokasikan ke daerah yang melewati jalan2 rusak itu … ? mungkin dalam waktu tidak lama, jalan mulus segera dinikmati ..

Leave a Reply