Ayam Tim Goreng Mbok Iyem

Dilihat dari namanya saja sudah kelihatan kerendahhatiannya. Mbok Iyem! Sebuah nama, yang karena menyertakan kata mbok bisa disalahpahami anak-anak Jakarta sebagai penuntun sebuah identifikasi yang merujuk pada eksistensi seorang pembantu. Oke lah, kita pakai saja kesalahan itu.

Mbok Iyem memang orang desa, dan hingga kini dia tinggal di sebuah desa. Rumahnya agak njlepit, tersembunyi, di kaki Gunung Lawu tepatnya.

Jangan lihat hasil jepretannya, tapi buktikan saja rasanya...

Jangan lihat hasil jepretannya, tapi buktikan saja rasanya...

Andai Mbah Umar Kayam masih sugeng, mungkin saya masih akan ditugaskan Pak Murtidjono menjemput pesinden yang berpakaian adat Jawa lengkap, dengan jarit dan kebaya plus selendang. Tidak untuk nyindhen, namun hanya menemani makan di ruang tengah rumah Mbok Iyem.

Dhahar atau bersantap di ayam tim goreng Dewi Sri alias Bu Better saja, Mbah Kayam sebagai pemilik indikator rasa terhebat yang saya kenal, pun sudah terkesima. Apalagi di rumah Mbok Iyem yang ndesa, dan khas rumah Jawa. Mr Rigen, juru masak kampiun keluarga Pak Ageng dalam serial Mangan Ora Mangan Kumpul sekali pun pasti akan iri pada Mbok Iyem.

Di ruang itulah, Mbok Iyem benar-benar melayani setiap tamu, khushushon yang hobi keplèk ilat, memanjakan lidah dengan menyantap ayam yang sebelum digoreng sudah ditim terlebih dahulu. Tidak melunakkan tulang, memang. Tapi dagingnya, luar biasa empuknya!

So, ayam goreng itu layak disebut kelewat ramah, bahkan bagi yang berumur kelewat uzur. Sang anak atau cucu tak perlu ragu gigi kakek/neneknya bakal tanggal ketika menggigit. Lebih empuk dibanding irisan mentimun yang disajikan sebagai lalapan, pelengkap sambal lombok hijau yang sedap. Nyam..nyam nyammm!!!

Mbok Iyem, sungguh ‘pelayan’ yang sempurna. Masakannya kelewat enak, dijamin tak bakal mengecewakan setiap ‘majikan’. Tak heran, kendati lokasinya njlepit dan tanpa papan nama penunjuk di pinggir jalan raya sekalipun, banyak pelanggan dari luar kota rela berbondong-bondong datang, padahal halamannya cuma cukup untuk parkir empat mobil saja.

Karena berada di kawasan berhawa dingin, warung Mbok Iyem memanjakan para ‘majikan’ agar tak kelesotan di lantai keramik putih yang membuat orang gampang kedinginan lalu kerap buang air. Di antara lantai keramik dan tikar plastik, ditaruhlah anyaman sabut kelapa setebal hampir lima sentimeter. Tamu bisa nyaman duduk dan diterpa dinginnya semilir angin sambil menikmati seduhan teh melati, yang meski tak kental, tapi sangat terasa pahit dan sepat, juga aroma wanginya.

Dimana lokasinya? Kalau dari arah Solo, rumah Mbok Iyem terletak di kiri jalan lima belas menit menjelang obyek wisata Tawangmangu. Daripada disebut nama desanya malah membuat Anda susah mengingat, paling gampang adalah penanda, ancar-ancar saja.

Bila di kiri jalan sudah terlihat bangunan kompleks pesantren dengan masjid yang megah, mulai saja mengurangi kecepatan. Tepat di tikungan jalan utama, ada belokan ke kiri satu-satunya. Silakan masuki hingga kira-kira seratus meteran, hingga Anda dapati tulisan ala kadarnya pada sebuah papan tripleks yang disandarkan pada pagar pembatas jalan: Ayam Tim Goreng Mbok Iyem.

Beloklah ke kiri beberapa meter saja, lalu arahkan mata Anda ke sebelah kanan. Melihat rumahnya sekilas saja, hanya akan membuat Anda terkecoh. Maklum, itu rumah tinggal yang disulap jadi warung.

Jika Anda pernah merasakan enaknya ayam goreng dan sambal Mbak Ning di Wonogiri atau ayam goreng Mbok Karto di Sukoharjo, jangan kuatir. Ketiganya sangat berbeda, sehingga lidah Anda punya tambahan referensi rasa. Gudhangan (urap) daun pepayanya dahsyat (makanan kok dahsyat! Abis, saya kesulitan menggambarkannya dengan kata-kata, je).

Silakan Anda coba. Ayam tim goreng Mbok Iyem disajikan kepada Anda dengan paket sayur tiga rupa: lalap, urap daun pepaya, serta sejenis trancam. Nasinya, pun pulen. Seperti dimasak pakai kendhil, baunya harum, jauh lebih sensasional dibanding matang karena magic jar, bahkan yang model tercanggih sekalipun.

21 thoughts on “Ayam Tim Goreng Mbok Iyem

  1. gunawan raharjo

    e..lho..kok nembe ngaturi pirso saiki to…muga-muga minggu ngarep iso nyecep roso yo..

    siyaappp!! disambut, dijemput…
    /blt/

  2. Kalau ngangkot, ancar-ancarnya kemana? .. maklun ga punya kendaraan sendiri (haha)

    setahuku tak ada angkot yang melayani rute di sekitar situ. yang pasti ada, bus Solo-Tawangmangu. tinggal bilang sama kernet/kondektur turun seperti yang saya sampaikan di atas.. beres.
    /blt/

  3. Dony Alfan

    Sip, kalau butuh jasa foto manten, jangan lupa hubungi ‘de Franco Photo’. Oke, man?

    harga tetap, kan? paket siraman, akad dan resepsi Rp 1 juta dengan lampu Hasselblad? terima file tak apa-apa, biar tak nombok cetak… file tak usah ditarus di flashdisk. cukup di-burned di CD saja, syukur sudah format .tif…
    /blt/

  4. Nah, kalo ngomongin kuliner gini gak perlu takut kena pasal 27 ayat 3.
    Btw, kapan2 dakajari motret panganan pak. Aku sombong sithik entuk tha? Xixixixi

    ORA SUDI! terlalu berat risiko motret makanan! kalau diseriusi, foto-fotoku mungkin akan lebih bagus dari buatanmu. tapi aku berhitung alokasi waktu: banyak order, waktu dolan bisa keteteran. repot!

    mau konsentrasi masuk tim McLaren dulu. siapa tahu berbakat jadi perantara… (mendingan aku makelari wong butuh tukang foto daripada motret dhewe)
    /blt/

  5. Waduh, aku kecolongan ki….Malah ra ngerti ana warung enak (warung kok enak) kaya ngene iki. Kang, nek ra salah, belok kirine iku sing jalan yg juga menuju RM Amanah? Suwun infone. naskahe tak share ke kanca-kanca liya ne yo…Suwun

    sumangga, silakan di-share. aku gak tahu RM Amanah, je. sing genah, bar pondok pesantren iku mung ana dalan siji sing menggok ngiwa. sing menggok nengen malah ora ana…
    /blt/

  6. raden mas jemblung

    Weladalah… Suk mben yen tekan Solo maneh kudu di serbu iki…
    Sisan mapagi “titipan”ku…. Tulung kabari yen wis nemu yo… Thank you Tank!

    siyaaapppp!!!
    /blt/

Leave a Reply